Kalimat-kalimat ini lebih tepat di masa kini daripada di masa ketika mereka dituliskan. Sangat mencengangkan ketika beberapa kosmologis dan ahli matematika membuat klaim yang sangat absurd mengenai hakikat alam semesta tanpa upaya sedikit pun untuk membuktikannya melalui fakta-fakta yang dapat diamati, lalu menyandarkan diri pada keindahan dan kesederhanaan persamaan matematika yang mereka ciptakan sebagai pemegang keputusan tertinggi. Pemujaan terhadap matematika lebih besar di masa kini ketimbang di masa apa pun setelah masa Pitagoras, yang berpendapat bahwa “segala hal adalah Angka”. Dan, seperti halnya Pitagoras, terdapat pula satu nuansa mistis di dalamnya. Matematika menyingkirkan segala determinasi kualitatif kecuali angka. Ia mengabaikan hakikat isi, dan menerapkan hukum-hukum internalnya pada segala hal. Tidak satu pun dari abstraksi-abstraksi ini memiliki keberadaan yang nyata. Hanya dunia material yang nyata ada. Fakta ini sudah terlalu sering terabaikan, dengan hasil yang benar-benar merusak.
Relativitas
Tak diragukan lagi, Albert Einstein adalah salah satu jenius terbesar sepanjang jaman. Antara ulang tahunnya yang ke-21 dan ke-28 ia telah menyelesaikan satu revolusi dalam ilmu pengetahuan, dengan akibat-akibat yang mendasar di banyak tingkatan. Dua terobosan besar itu adalah Teori Relativitas Khusus (1905) dan Teori Relativitas Umum (1915). Relativitas khusus menangani kecepatan tinggi, relativitas umum menangani gravitasi.
Sekalipun sangat bersifat abstrak, teori-teori Einstein pada akhirnya diturunkan dari percobaan-percobaan, dan telah mendapat penerapan praktis yang membuktikan ketepatannya berkali-kali. Einstein berangkat dari eksperimen Michelson-Morleyyang terkenal itu, “percobaan negatif yang terbesar sepanjang sejarah ilmu pengetahuan” (Bernal), yang mengungkapkan kontradiksi internal yang terkandung dalam fisika abad ke-19. Percobaan ini mencoba menggeneralisasi teori elektromagnetis cahaya dengan menunjukkan bahwa kecepatan cahaya yang terukur seharusnya tergantung dari kecepatan dari pengamat yang bergerak melalui “ether” yang diam. Pada akhirnya, tidak ada satu perbedaan pun ditemukan dalam kecepatan cahaya, bagaimanapun pengukuran dilakukan, bagaimana dan ke mana pun sang pengamat bergerak.
J.J. Thomson kemudian menunjukkan bahwa kecepatan elektron dalam medan listrik tegangan tinggi lebih rendah daripada yang telah diramalkan oleh fisika Newtonian klasik. Kontradiksi-kontradiksi dalam fisika abad ke-19 ini dipecahkan oleh teori relativitas khusus. Teori fisika yang lama tidak mampu menjelaskan fenomena-fenomena radioaktif. Einstein menjelaskan hal ini sebagai pelepasan sebagian kecil dari satu kumpulan energi raksasa yang terjebak dalam suatu materi yang “diam”.
Di tahun 1905, Einstein mengembangkan teori relativitas khususnya di waktu luang yang dimilikinya, sambil bekerja sebagai juru tulis pada sebuah kantor paten Swiss. Berangkat dari penemuan-penemuan dari mekanika kuantum, yang waktu itu masih baru, ia menunjukkan bahwa cahaya melintasi ruang dalam bentuk kuantum (sebagai berkas-berkas energi). Hal ini jelas bertentangan dengan teori yang sebelumnya diterima orang bahwa cahaya adalah gelombang. Pada hakikatnya, Einstein menghidupkan kembali teori yang lama, tapi dengan cara yang sama sekali berbeda. Di sini cahaya diperlihatkan sebagai satu jenis partikel baru, dengan watak yang kontradiktif, yang sekaligus menunjukkan properti-properti partikel dan gelombang. Teori yang mengejutkan ini memungkinkan orang mempertahankan penemuan-penemuan besar abad ke-19 di bidang optika, termasuk spektroskop dan persamaan Maxwell. Tapi teori ini memasung mati ide bahwa cahaya membutuhkan satu kendaraan khusus untuk berjalan melintasi ruang, apa yang disebut sebagai “ether”.
