Kita dan Waktu

Dunia material berada dalam keadaan yang terus berubah, maka ia “adalah dirinya sendiri dan sekaligus bukan dirinya sendiri”. Inilah proposisi fundamental dari dialektika. Para filsuf semacam Alfred North Whitehead dan intuisionis Prancis Henry Begson percaya bahwa aliran waktu adalah satu fakta metafisik yang hanya dapat ditangkap oleh intuisi yang non-ilmiah. “Filsuf proses” semacam ini, sekalipun memiliki nada yang mistik, setidaknya dengan tepat menyatakan bahwa masa depan adalah hal yang terbuka dan tidak dapat ditentukan, sementara masa lalu tidak dapat diubah, tetap dan pasti. Ini adalah “penggumpalan waktu”. Di pihak lain kita melihat “filsuf-filsuf banyak segi” yang menganggap bahwa peristiwa-peristiwa di masa mendatang boleh terjadi tapi tidak dapat dihubungkan dengan cara yang teratur dengan kejadian-kejadian di masa lalu. Jika kita mengikuti pandangan filsafati yang tidak tepat seperti ini, kita akan sampai pada mistisisme yang telanjang, seperti pandangan tentang sejumlah tak berhingga dari alam semesta (jika istilah ini tepat, karena mereka seharusnya tidak hadir dalam ruang “seperti yang kita kenal”) yang hadir dalam waktu yang bersamaan (jika istilah ini tepat, karena mereka seharusnya tidak hadir dalam waktu “seperti yang kita kenal”). Demikianlah kebingungan yang muncul dari interpretasi idealis atas relativitas.

Interpretasi Idealistis

Seperti halnya dengan mekanika kuantum, relativitas juga telah direbut oleh mereka-mereka yang ingin memasukkan mistisisme ke dalam sains. “Relativitas” diubah maknanya menjadi bahwa kita tidak dapat benar-benar memahami dunia. Seperti yang dijelaskan oleh J. D. Bernal:

“Akan tetapi, juga sama benarnya bahwa karya Einstein memiliki efek, di luar batasan bidang spesialis yang sempit di mana ia dapat diterapkan, sebagai salah satu mistifikasi umum. Karya itu dengan rakus ditelan oleh para intelektual yang mengalami keputusasaan pasca Perang Dunia I untuk membantu mereka menolak realitas. Mereka hanya butuh untuk menggunakan kata ‘relativitas’ dan mengatakan ‘Segala sesuatu adalah relatif,’ atau ‘Tergantung apa yang Anda maksud.’.

Ini adalah pemelintiran penuh terhadap ide-ide Einstein. Nyatanya, kata “relativitas” itu sendiri adalah sebuah istilah yang salah kaprah. Einstein sendiri lebih menyukai nama teori invariansi [invariance theory] yang memberi kita gambaran yang lebih tepat akan apa yang dimaksudkannya –yang berkebalikan dari ide vulgar tentang teori relativitas. Tidak benar bahwa bagi Einstein “segala sesuatunya adalah relatif”. Pertama, energi-diam (yaitu, kesatuan dari materi dan energi) adalah salah satu hal mutlak dalam teori relativitas. Kecepatan cahaya yang menjadi pembatas segala kecepatan di alam semesta ini adalah contoh yang lain. Einstein sangat jauh dari interpretasi yang subjektif dan acak atas realitas, di mana satu pendapat dianggap sama benarnya dengan pendapat lain, dan “semuanya tergantung bagaimana Anda melihat hal itu,” Einstein justru “menemukan apa yang ‘mutlak’ dan dapat diandalkan sekalipun nampak ada kebingungan, ilusi dan kontradiksi yang dihasilkan oleh pergerakan atau aksi gravitasi yang relatif.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *