Seperti yang dijelaskan oleh Hegel, tiap pengukuran sebenarnya adalah pernyataan tentang rasio. Walau demikian, karena tiap pengukuran sebenarnya adalah perbandingan, harus ada satu standar yang tidak dapat diperbandingkan dengan apapun kecuali dirinya sendiri. Secara umum, kita hanya dapat memahami segala sesuatu dengan membandingkan mereka dengan hal lain. Hal ini menyatakan konsepsi dialektik tentang kesalingterhubungan universal. Esensi dari metode dialektika adalah analisa atas segala hal dalam pergerakan, perkembangan dan hubungan mereka. Ia adalah satu antitesis terhadap cara berpikir mekanistik (metode “metafisik” dalam makna yang dipergunakan oleh Marx dan Engels) yang memandang segala sesuatu sebagai statis dan mutlak. Inilah kecacatan dari pandangan klasik Newton atas alam semesta, yang, sekalipun telah mencapai banyak hal, tidak pernah dapat lolos dari kesepihakan yang merupakan ciri dari cara pandang dunia yang mekanistik.
Properti-properti dari satu benda bukanlah hasil dari hubungannya terhadap benda lain, tapi hanya dapat mewujudkan dirinya dalam hubungannya dengan benda lain. Hegel merujuk pada hubungan-hubungan ini secara umum sebagai “kategori-refleks”. Konsep relativitas adalah satu konsep yang penting, dan telah dikembangkan sepenuhnya oleh Hegel dalam jilid pertama dari adi karyanya, The Science of Logic.
Kita melihatnya, misalnya, pada kelembagaan sosial seperti kerajaan. Trotsky menjelaskan:
“Orang-orang yang pikirannya naif berpikir bahwa kuasa kerajaan bersemayam di tubuh raja itu sendiri, dalam jubah dan mahkotanya, dalam daging dan tulangnya. Pada kenyataannya, kuasa kerajaan adalah satu kesalingterhubungan antar seluruh penduduk kerajaan. Sang Raja hanya dapat menjadi raja karena kepentingan-kepentingan dan prasangka-prasangka dari jutaan orang tercermin melalui dirinya. Ketika tsunami perkembangan menyapu kesalingterhubungan ini, maka sang Raja akan nampak sebagai orang yang basah kuyup, yang bibirnya bengkak kedinginan. Dia yang dahulu disebut Alphonso XIII dapat berbincang dengan kita tentang itu dari pengalaman pribadinya.
“Para pemimpin yang memimpin karena kehendak rakyat berbeda dengan mereka yang memimpin atas nama Tuhan dalam makna bahwa yang disebut pertama itu diwajibkan membuka jalan bagi dirinya sendiri atau, setidaknya, membantu terjadinya berbagai kejadian sampai ia ditemukan. Meski demikian, kepemimpinan selalu merupakan hubungan antar orang, yakni individu yang memenuhi kebutuhan kolektif. Kontroversi tentang kepribadian Hitler menjadi semakin tajam bila rahasia kesuksesannya semakin dicari dari dalam diri dia sendiri. Sementara itu, sulit bagi kita untuk menemukan figur politik lain yang menjadi perwujudan dari pemusatan yang demikian dahsyat dari berbagai kekuatan historis yang tidak teridentifikasi. Tidak setiap borjuis kecil yang putus asa dapat menjadi Hitler, tapi satu partikel dari Hitler bersemayam dalam tiap borjuis kecil yang putus asa.”
Dalam Capital, Marx menunjukkan bagaimana kerja manusia yang konkret menjadi medium untuk mengekspresikan kerja manusia yang abstrak. Kerja konkret itu adalah bentuk yang diambil oleh lawannya, kerja manusia yang abstrak, untuk mewujudkan diri. Nilai bukanlah satu benda material yang dapat diturunkan dari sifat-sifat fisik sebuah komoditi. Pada kenyataannya, ia adalah abstraksi di dalam pikiran. Tapi itu bukan alasan untuk menyebutnya satu ciptaan yang acak. Pada kenyataannya, ia adalah ekspresi dari sebuah proses objektif, dan ditentukan oleh jumlah kerja sosial yang diperlukan (socially necessary labour) dalam proses produksi. Begitu juga waktu adalah satu abstraksi yang, sekalipun tidak dapat dilihat, didengar atau disentuh, dan hanya dapat dinyatakan dalam bentuk-bentuk pengukuran relatif, bagaimanapun juga merujuk pada sebuah proses fisik yang objektif.
Ruang dan waktu adalah abstraksi-abstraksi yang memungkinkan kita untuk mengukur dan memahami dunia material. Segala pengukuran dilakukan relatif terhadap ruang dan waktu. Gravitasi, sifat-sifat kimia, bunyi, cahaya, semua ditelaah dari kedua sudut pandang ini. Dengan demikian, kecepatan cahaya adalah300.000 km per detik, sementara suara ditentukan oleh jumlah getaran per detik. Bunyi dari sebuah alat musik petik, misalnya, ditentukan oleh waktu di mana sejumlah getaran terjadi dan unsur-unsur spasial (panjang dan tebal) dari benda bergetar itu. Keserasian yang terasa bagi estetika dalam pikiran juga adalah manifestasi lain dari rasio, pengukuran, dan, dengan demikian, waktu.
