Kita dan Waktu

Filsuf idealis Jerman, Emmanuel Kant, adalah orang yang, setelah Aristoteles, menyelidiki masalah hakikat waktu dan ruang dengan paling penuh, sekalipun solusi-solusinya akhirnya tidak memuaskan. Setiap hal tersusun dari berbagai hakikat. Jika kita ambil semua hakikat-hakikat konkret ini, kita akan menemui dua abstraksi yang tersisa: waktu dan ruang. Ide tentang waktu dan ruang sebagai entitas metafisik yang benar ada diberi basis filsafat oleh Kant, yang mengklaim bahwa ruang dan waktu adalah “fenomena riil”, tapi yang tidak dapat dipahami “dalam dirinya sendiri”.

Waktu dan ruang adalah properti dari materi, dan tidak dapat dipahami terpisah dari materi. Kant mengklaim bahwa ruang dan waktu bukanlah konsep-konsep objektif yang ditarik dari pengamatan terhadap dunia nyata, tapi sesuatu yang dilahirkan oleh pemikiran manusia. Faktanya, semua konsepsi geometri diturunkan dari pengamatan atas objek-objek material. Salah satu pencapaian teori relativitas umum Einstein adalah pengembangan geometri sebagai ilmu yang empirik, aksioma yang dipahami melalui pengukuran yang aktual, dan yang berbeda dari aksioma geometri Euclides yang klasik, yang dianggap (secara keliru) sebagai murni hasil dari pemikiran, dideduksi semata dari logika.

Kant berusaha membenarkan klaimnya dalam bagian terkenal dariThe Critique of Pure Reason yang disebut Antinomies, yang menangani gejala-gejala kontradiktif di dunia nyata, termasuk ruang dan waktu. Keempat antinomi (kosmologis) pertama Kant menangani masalah ini. Kant berjasa dalam mengungkapkan keberadaan kontradiksi-kontradiksi semacam ini, tapi penjelasannya sangatlah tidak lengkap. Tugas untuk menyelesaikan kontradiksi itu jatuh pada Hegel, ahli dialektika besar itu, dalam bukunyaThe Science of Logic.

Sepanjang abad ke-18, sains didominasi oleh teori mekanika klasik, dan satu orang menerakan stempelnya pada seluruh epos. Penyair Alexander Pope menyimpulkan sikap pemujaan dari para rekan sejaman Newton dalam bait-baitnya:Alam dan seluruh hukumnya tersembunyi di kegelapan:Tuhan bersabda “Jadilah Newton” dan lalu terang itu jadi.”

Newton memandang waktu sebagai sesuatu yang mengalir dalam garis lurus ke manapun. Bahkan jika di situ tidak terdapat materi, akan tetap ada satu kerangka tetap dari ruang dan waktu yang terus mengalir “melalui”-nya. Kerangka ruang Newton yang mutlak itu dianggap dipenuhi oleh satu zat hipotetikal yang disebut “ether” yang merupakan medium di mana cahaya mengalir. Newton berpendapat bahwa waktu adalah seperti satu “penampung” raksasa di mana segala sesuatu ada dan berubah. Dalam ide ini, waktu dipandang sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan terpisah dari alam semesta. Waktu akan tetap ada sekalipun alam semesta ini telah musnah. Ini adalah ciri dari metode mekanik (dan idealis) di mana waktu, ruang, materi dan gerak dipandang sebagai hal yang mutlak terpisah. Pada kenyataannya, mustahil untuk memisahkan mereka.

Fisika Newton dikondisikan oleh mekanika yang di abad ke-18 merupakan ilmu sains yang paling maju. Pandangan ini juga dianut oleh kelas penguasa yang baru karena ia menyajikan pandangan atas alam semesta yang pada hakikatnya statis, abadi dan tidak berubah, di mana semua kontradiksi diabaikan – tanpa lompatan mendadak, tanpa revolusi, dan yang ada adalah keharmonisan yang sempurna, di mana segala sesuatu cepat atau lambat kembali menuju titik keseimbangan, seperti halnya parlemen Inggris mencapai satu keseimbangan yang memuaskan dengan monarki di bawah William dari Orange. Abad ke-20 telah meruntuhkan tanpa ampun pandangan atas dunia yang seperti ini. Satu demi satu, mekanisme kuno yang kaku dan statis itu telah digeser dan digantikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *