Kita dan Waktu

Alam semesta ini hadir dalam keadaan yang terus berubah. Dalam makna itu, tidak ada sesuatu pun yang “mutlak” atau abadi. Satu-satunya hal yang mutlak adalah gerak dan perubahan, mode eksistensi materi yang paling mendasar – sesuatu yang ditunjukkan Einstein secara meyakinkan di tahun 1905. Waktu dan ruang, sebagai mode eksistensi dari materi adalah fenomena objektif. Mereka bukanlah sekedar abstraksi atau pandangan acak yang diciptakan oleh manusia (atau dewa) untuk kenyamanan mereka sendiri, tapi merupakan sifat materi yang mendasar, yang menyatakan keuniversalan materi itu sendiri.

Ruang memiliki tiga dimensi tapi waktu hanya memiliki satu. Sambil meminta maaf pada para produser film-film yang bercerita mengenai “perjalanan waktu”, kita hanya mungkin melintasi waktu dalam satu arah, yaitu dari masa lalu ke masa datang. Tidak ada kemungkinan adanya seorang petualang waktu yang kembali bumi sebelum dilahirkan, atau kemungkinan seseorang menikahi ibunya sendiri, semua itu hanya fantasi idiot yang diciptakan oleh orang-orang Hollywood. Waktu tidak mungkin diputar balik, dalam kata lain semuaproses materi berkembang hanya dalam satu arah – dari masa lalu menuju masa depan. Waktu hanyalah satu cara untuk menyatakan pergerakan riil dan berubahnya materi. Materi, gerak, waktu dan ruang tidak dapat dipisahkan.

Kekurangan dari teori Newton adalah karena ia menganggap ruang dan waktu sebagai dua hal yang sama sekali terpisah, yang satu berjalan sejajar dengan yang lain, tidak tergantung dari materi dan gerak. Sampai abad ke-20 para ilmuwan menyamakan ruang dengan sebuah kehampaan (satu “ketiadaan”), yang dilihat sebagai sesuatu yang mutlak, yaitu, selalu sama di mana pun, satu “benda” yang tidak pernah berubah. Abstraksi-abstraksi kosong ini telah dibuktikan keliru oleh fisika modern, yang telah menunjukkan hubungan mendasar antara waktu, ruang, materi dan gerak. Teori relativitas Einstein telah menyatakan dengan tegas bahwa waktu dan ruang tidak hadir dalam dan dari diri mereka sendiri, terpisah dari materi, tapi merupakan bagian dari satu kesalingterhubungan universal antar fenomena. Hal ini dinyatakan oleh konsep ruang-waktu yang utuh dan tak terbagi, di mana waktu dan ruang dilihat sebagai aspek-aspek relatif. Satu ide yang kontroversial di sini adalah prediksi bahwa sebuah jam yang bergerak akan menunjukkan waktu yang lebih lambat daripada jam yang diam. Walau demikian, sangat penting untuk dipahami bahwa efek ini baru tampak pada kecepatan yang teramat tinggi, yang mendekati kecepatan cahaya.

Jika teori relativitas umum Einstein tepat, maka akan ada kemungkinan teoritik di masa depan di mana kita dapat menempuh perjalanan yang tak terkira jauhnya di luar angkasa. Secara teoritik, manusia dapat terus bertahan hidup ribuan tahun ke masa mendatang. Seluruh masalahnya terletak pada apakah perubahan yang terjadi pada tingkat jam atomik terjadi juga pada rentang usia itu sendiri. Di bawah dampak gravitasi yang kuat, jam atomik bergerak lebih lambat daripada ketika di ruang kosong. Pertanyaannya adalah apakah kesalingterhubungan yang kompleks antar molekul yang menyusun kehidupan akan berperilaku yang sama. Isaac Asimov, yang paham satu dua hal mengenai fiksi ilmiah, menulis: “Jika pergerakan benar-benar melambatkan waktu, kita boleh jadi dapat melakukan perjalanan ke bintang-bintang yang jauh di masa hidup kita. Tapi tentu saja kita harus mengucapkan selamat tinggal pada generasi kita dan, jika kita kembali, kita akan kembali ke dunia di masa yang akan datang.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *