Spekulasi yang tak masuk nalar dan asal-asalan ini adalah bukti terbaik bahwa kerangkah teoritik dari fisika modern membutuhkan perubahan total. Karena persoalannya di sini terletak pada metodenya. Ini bukan mereka tidak dapat menyediakan jawaban.Ini karena mereka bahkan tidak tahu bagaimana menanyakan pertanyaan yang tepat. Ini lebih pada persoalan filsafati daripada persoalan ilmiah. Jika semuanya mungkin, maka tiap teori (lebih tepatnya, tebakan) akan sama baiknya dengan teori lainnya. Seluruh sistem ini telah terdorong hampir sampai titik patahnya.Dan untuk menutupi fakta ini, mereka menggunakan bahasa mistis, di mana pernyataan-pernyataan yang tidak jelas maknanya menutupi kegagalan untuk memberi hakikat yang tegas ke dalam pernyataan itu.
Keadaan ini sama sekali tidak dapat ditolerir, dan telah mendorong beberapa ilmuwan untuk mempertanyakan asumsi-asumsi dasar di mana ilmu pengetahuan selama ini beroperasi. Penyelidikan David Bohm terhadap teori mekanika kuantum, interpretasi baru Ilya Prigogine terhadap Hukum Kedua Termodinamika, upaya Hannes Alfén untuk mengajukan sebuah alternatif terhadap kosmologi ortodoks yang bersandar pada Big Bang, dan terutama, kemunculan spektakuler dari teori kompleksitas dan chaos – semua ini menunjukkan adanya gejolak di dalam sains. Walaupun masih terlalu dini untuk meramalkan apa yang sebenarnya akan muncul dari semua ini, kelihatannya sangat mungkin bahwa kita sedang memasuki masa-masa yang menggairahkan dari sejarah sains, dimana sebuah pendekatan yang benar-benar baru akan muncul.
Ada segala macam alasan untuk menganggap bahwa pada akhirnya teori Einstein akan digantikan oleh teori yang baru, yang lebih luas basisnya, sementaratetap memelihara segala yang berguna dalam teori relativitas. Teori baru ini akan mengoreksi dan memperkuatnya sekaligus. Dalam proses ini, kita pasti akan sampai pada sebuah pemahaman yang lebih tepat dan seimbang akan masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat waktu, ruang dan sebab-akibat. Hal ini tidaklah berarti kembali pada fisika mekanik yang lama, seperti halnya berkembangnya fisika unsur tidaklah berarti kita kembali ke jaman alkimia. Seperti yang telah kita lihat, sejarah ilmu pengetahuan sering kali melibatkan satu pembalikan yang kelihatannya membawa kita kembali ke posisi awal kita, tapi sebenarnya dalam tingkat kualitas yang lebih tinggi.
Satu hal yang dapat kita ramalkan dengan sangat pasti: ketika fisika yang baru ini benar-benar muncul dari kekacauan yang terjadi sekarang ini, tidak akan ada tempat di dalamnya untuk perjalanan waktu, multiverse, atau singularitas yang memeras seluruh alam semesta menjadi satu titik tunggal, yang tidak mengizinkan kita mengajukan keberatan apapun. Ini akan membuat orang-orang semakin sulit memenangkan penghargaan-penghargaan untuk menyediakan pembenaran ‘ilmiah’ bagi mistisisme, fakta yang akan disesali beberapa orang, tapi yang, dalam jangka panjang, pastilah bukan sesuatu yang berakibat buruk bagi ilmu pengetahuan secara keseluruhan!
Waktu merupakan relativisme sehingga sertiap orang daapat mendefenisikan waktu sesuai kebutuhannya dan keinginannya. Manusia subyek hanya mengisi waktu yang merupakan.jarak antara awal dan akhir waktu adalah ruang antara dulu, kini dan yang akan datang.
Yoseph Yoneta Motong Wuwur
