Waktu tidak dapat dinyatakan kecuali dalam cara yang relatif. Begitu juta, nilai besaran dari sebuah komoditi hanya dapat dinyatakan relatif terhadap komoditi yang lain. Walau demikian, nilai adalah intrinsik bagi komoditi, dan waktu adalah sifat objektif dari materi secara umum. Ide bahwa waktu itu sendiri adalah subjektif, yakni hanya merupakan ilusi dari pikiran manusia, hanya mengingatkan kita pada prasangka bahwa uang hanyalah sebuah simbol, yang tidak memiliki signifikansi yang penting. Upaya untuk “men-demonetisasi” emas [menghilangkan nilainya sebagai alat tukar], yang muncul dari premis yang keliru ini, selalu membawa inflasi setiap kali dicoba dilakukan. Di Kekaisaran Romawi, nilai uang ditetapkan oleh dekrit kekaisaran, dan ada larangan untuk memperlakukan uang sebagai sebuah komoditi. Hasilnya adalah kejatuhan yang terus terjadi atas nilai mata uang mereka. Satu gejala yang serupa telah terjadi di tengah kapitalisme modern, terutama sejak Perang Dunia II. Dalam perekonomian, dalam kosmologi, tercampuraduknya pengukuran dengan sifat hakiki dari benda itu sendiri selalu membawa pada kerancuan-kerancuan di dalam praktek.
Pengukuran Atas Waktu
Walaupun upaya untuk mendefinisikan apa itu waktu merupakan satu kesulitan, pengukuran atasnya tidaklah demikian. Para ilmuwan sendiri tidaklah menjelaskan apa itu waktu, tapi membatasi diri mereka dengan pengukuran atas waktu. Dari pencampuradukan kedua konsep inilah muncul kebingungan tanpa akhir. Maka, kata Feynman:
“Mungkin sebaiknya kita menghadapi kenyataan bahwa waktu adalah salah satu hal yang tidak dapat kita definisikan (dalam makna kamus), dan kita dapat mengatakan bahwa ia adalah apa yang selama ini kita ketahui ia seperti apa: ia adalah berapa lama kita harus menunggu! Yang penting bukanlah bagaimana kita mendefinisikan waktu, tapi bagaimana kita mengukurnya.”
Pengukuran atas waktu pasti melibatkan satu kerangka rujukan, dan tiap fenomena yang berubah sejalan dengan waktu – misalnya, rotasi bumi, atau ayunan pendulum. Rotasi harian bumi pada sumbunya menyediakan satu skala waktu. Peluruhan unsur-unsur radioaktif dapat digunakan untuk mengukur waktu dalam jangka yang sangat panjang. Pengukuran atas waktu melibatkan satu unsur subjektif. Orang-orang Mesir membagi siang dan malam menjadi dua belas bagian. Orang-orang Sumeria memiliki sistem angka berbasis 60, dan dengan demikian membagi jam menjadi 60 menit dan menit menjadi 60 detik. Satu meter didefinisikan sebagai seper sepuluh juta jarak dari kutub bumi ke khatulistiwa (sekalipun definisi ini tidaklah sepenuhnya akurat). Sentimeter adalah seper seratus meter, dan seterusnya. Pada awal abad ini, penyelidikan atas dunia sub-atomik membawa orang pada penemuan dua unit pengukuran yang alami: kecepatan cahaya, c, dan tetapan [konstanta] Planck, h. Kedua unit itubukanlah massa, panjang, atau waktu secara langsung, melainkan kesatuan dari ketiganya.
Ada satu perjanjian internasional bahwa satu meter didefinisikan sebagai jarak antara dua guratan pada sebuah batangan yang disimpan dalam satu laboratorium di Prancis. Baru-baru ini, telah disadari bahwa definisi ini tidak cukup akurat sehingga berguna, atau tidak cukup permanen dan universal seperti yang dikehendaki oleh orang-orang. Kini sedang dipertimbangkan untuk menggunakan satu definisi baru, yakni satu panjang gelombang tertentu (yang berdasarkan persetujuan) dari garis spektraltertentu. Di pihak lain, pengukuran atas waktu bervariasi tergantung pada skala dan rentang-usia dari objek yang sedang diteliti.
