Obsesi terhadap “sang pengamat” yang merupakan benang yang menjalin seluruh fisika teoritik di abad ke-20 diturunkan dari filsafat idealisme subjektif Ernst Mach.Dengan mengambil titik berangkatnya dari argumen empiris bahwa “semua pengetahuan kita diturunkan dari perasaan langsung dari indra-perasa kita”, Mach berargumen bahwa objek tidak dapat hadir secara terpisah dari kesadaran kita. Jika kita membawa ini ke kesimpulan logisnya, ini akan berarti bahwa dunia ini tidak mungkin ada sebelum ada orang untuk mengamatinya. Dunia ini tidak mungkin ada sebelum saya ada, karena saya hanya dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh indera saya, dan dengan demikian saya tidak akan pernah yakin bahwa kesadaran lain juga benar-benar ada.
Einstein sendiri pada awalnya terkesan oleh argumen-argumen ini, yang meninggalkan bekasnya pada tulisan-tulisan awalnya tentang relativitas. Hal ini, tak diragukan lagi, telah membawa pengaruh yang sangat buruk terhadap sains modern. Sementara Einstein berhasil menyadari kesalahannya dan mencoba membetulkannya, mereka-mereka yang membuntut pada sang gurutidak mampu memisahkan beras dari kulit gabahnya. Seperti yang sering terjadi, para murid yang terlalu bersemangat malah menjadi dogmatis. Mereka lebih Paus daripada Paus itu sendiri! Dalam otobiografinya, Karl Popper menunjukkan dengan jelas bahwa di akhir hayatnya Einstein menyesali idealisme subjektif yang pernah dianutnya, atau “operasionalisme”, yang menuntut keberadaan seorang pengamat untuk menentukan apakah satu proses terjadi di alam atau tidak:
“Fakta yang sangat menarik adalah bahwa Einstein sendiri selama bertahun-tahun adalah seorang positivis dan operasionalis yang dogmatis. Ia kemudian menyangkal interpretasi ini: ia mengatakan pada saya di tahun 1950 bahwa ia tidak pernah menyesali satu kesalahanpun dalam hidupnya seperti ia menyesali kesalahan ini. Kesalahan itu mengambil bentuk yang benar-benar serius dalam buku populernya,Relativity: The Special and General Theory. Di sana ia mengatakan, ‘Saya akan meminta para pembaca untuk tidak maju lebih jauh sampai ia benar-benar yakin akan hal ini.’ Hal itu adalah, singkatnya, bahwa ‘kesimultanan’ (simultaneity) harus didefinisikan – dan didefinisikan dengan cara yang operasional – karena jika tidak demikian ‘Saya membiarkan diri saya diperdaya … ketika saya membayangkan bahwa saya sanggup melekatkan satu makna pada pernyataan tentang kesimultanan.’ Atau, dengan kata lain, satu istilah harus didefinisikan secara operasional atau ia akan menjadi tidak bermakna. (Singkatnya, inilah positivisme yang kemudian dikembangkan oleh Lingkaran Winadi bawah pengaruh bukuTractatus-nya Wittgenstein, dan dalam bentuk yang sangat dogmatis).”
Ini menunjukkan bahwa Einstein pada akhirnya menolak interpretasi subjektif atas teori relativitasnya. Semua omong kosong tentang “sang pengamat”sebagai faktor penentu bukanlah merupakan bagian hakiki dari teori tersebut, melainkan cerminan dari kesalahan filsafati, seperti yang kemudian diakui oleh Einstein sendiri.Sayangnya, ini tidak menghalangi para pengikut Einstein untuk mengambil alih kesalahan itu, dan mengembangkannya sampai titik di mana ia nampak sebagai salah satu batu penjuru utama dari teori relativitas. Di sinilah kita menemukan asal-muasal dari idealisme subjektif Heisenberg:
“Tapi, banyak fisikawan hebat,” lanjut Popper, “yang sangat terkesan oleh operasionalisme Einstein, yang mereka anggap (seperti Einstein sendiri juga menganggap demikian untuk waktu yang lama) sebagai satu bagian tak terpisahkan dari teori relativitas. Inilah bagaimanaoperasionalisme menjadi ilham bagi paper Heisenberg di tahun 1925, dan gagasannya yang telah diterima luas bahwa konsep tentang jalur sebuah elektron, atau tentang posisi-cum-momentum klasiknya, adalah tidak bermakna sama sekali.”
