Kita dan Waktu

Argumen untuk hal ini adalah tingkat kecepatan proses kehidupan ditentukan oleh tingkat kecepatan aksi di tingkat atomik. Dengan demikian, di bawah gravitasi yang kuat, jantung akan berdetak lebih lambat, otak berdenyut lebih lambat pula. Nyatanya, seluruh energi meredup di bawah tekanan gravitasi. Jika seluruh proses berjalan lebih lambat, mereka juga berjalan lebih lama dalam waktu. Jika sebuah pesawat angkasa sanggup berjalan dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, alam semesta akan terlihat melaju melintasinya, walaupun bagi mereka yang ada di dalam pesawat waktu kelihatannya akan tetap berjalan “normal”, yaitu pada tingkat yang jauh lebih lambat. Kesan yang didapat adalah bahwa waktu yang ada di luar pesawat dipercepat. Apakah hal ini tepat? Apakah ia nyatanya akan hidup di masa datang, relatif terhadap penduduk bumi, atau tidak? Einstein kelihatannya memberikan jawaban ya terhadap pertanyaan ini.

Segala jenis pandangan mistis muncul dari spekulasi semacam ini – contohnya tentang melompat ke dalam lubang hitam dan keluar di alam semesta yang lain. Jika lubang hitam benar-benar ada, dan hal itu belumlah dibuktikan secara definitif, apa yang akan kita temui di pusatnya pastilah hanya sisa-sisa dari sebuah bintang raksasa yang telah mati, bukan alam semesta yang lain. Siapapun yang masuk ke dalamnya akan dirobek-robek dan diubah menjadi energi murni. Jika itu yang dinamakan pergi ke alam semesta lain, maka kami mengundang mereka yang mengajukan ide itu untuk menjadi yang pertama mencobanya! Nyatanya, ini adalah murni spekulasi, betapapun menyenangkannya. Seluruh ide tentang “perjalanan waktu” niscayaakan mendarat pada segudang kontradiksi, bukan kontradiksi yang dialektik tapi yang absurd. Einstein pasti akan terkejut melihat interpretasi mistik atas teorinya, yang melibatkan pandangan tentang perjalanan ulang-alik melewati waktu, mengubah masa depan, dan segala omong kosong semacam itu. Tapi ia sendiri harus bertanggungjawab atas situasi ini karena unsur idealis dalam cara pandangnya, terutama pada persoalan tentang waktu.

Mari kita anggap bahwa sebuah jam atomik pada ketinggian yang tinggi berjalan lebih cepat daripada ketika ia diletakkan di atas tanah, karena efek gravitasi. Mari kita anggap juga bahwa, ketika jam ini dikembalikan ke bumi, ia ditemukan, katakanlah, lebih tua 50 per miliar dari satu detik dari jam serupa yang tidak pernah meninggalkan tanah. Apakah itu berarti bahwa orang yang turut bersama jam itu di ketinggian juga akan lebih tua? Proses ketuaan tergantung pada tingkat metabolisme. Ini dipengaruhi sebagian oleh gravitasi, tapi juga oleh berbagai faktor lainnya. Ia adalah sebuah proses biologis yang kompleks, dan tidak mudah untuk melihat bagaimana ia akan dipengaruhi secara mendasar baik oleh kecepatan atau gravitasi, kecuali bahwa kecepatan dan gravitasi yang ekstrem akan menghasilkan kerusakan material pada makhluk hidup.

Jika memang dimungkinkan untuk melambatkan tingkat metabolisme, sehingga, misalnya, detak jantung akan melambat sampai satu detak tiap dua puluh menit, proses menua pasti akan berjalan lebih lambat pula. Nyatanya, memang dimungkinkan untuk melambatkan metabolisme, contohnya, melalui pembekuan. Namun, apakah hal ini akan pula menjadi efek dari perjalanan dengan kecepatan amat tinggi, tanpa membunuh organisme itu sendiri, persoalan itu masih dapat diperdebatkan. Menurut teori yang sudah dikenal, sang petualang-angkasa relativistik itu, jika ia berhasil kembali ke bumi, akan kembali setelah, katakanlah, 10.000 tahun, danakan dapat menikahi salah satu cicitnya. Tapi ia tidak akan pernah dapat kembali ke waktu-”nya” sendiri.

Percobaan yang dilakukan dengan partikel sub-atomik (muon) menunjukkan bahwa partikel-partikel yang melaju dengan kecepatan 99,94 persen dari kecepatan cahaya memperpanjang rentang usia mereka sebanyak hampir tiga puluh kali lipat, tepat seperti yang diprediksi oleh Einstein. Walau demikian, apakah kesimpulan ini dapat diterapkan pada materi dalam skala yang lebih besar, khususnya pada materi hidup.Ini masih harus ditinjau lebih lanjut. Banyak kesalahan serius yang telah dibuat dengan mencoba menerapkan hasil-hasil yang dicapai di satu bidang ke bidang yang lain, yang berbeda sama sekali. Di masa depan, perjalanan angkasa dengan kecepatan sangat tinggi – bahkan mungkin mencapai sepersepuluh kecepatan cahaya – mungkin dapat terwujud. Pada kecepatan semacam itu, satu perjalanan yang menempuh lima tahun cahaya akan membutuhkan waktu tempuh lima puluh tahun (walau menurut Einstein, perjalanan itu akan lebih cepat tiga bulan dari perhitungan biasa). Apakah kelak akan benar-benar dimungkinkan untuk melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya, yang akan memungkinkan umat manusia mencapai bintang-bintang? Pada saat ini, prospek untuk itu masih terasa jauh sekali. Tapi, seratus tahun yang lalu – hanya sekejap mata saja dalam rentang sejarah – gagasan berkunjung ke bulan masih merupakan satu impian yang dituangkan secara indah dalam sebuah novel oleh Jules Verne.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *