Kita dan Waktu

Bahwa setiap individu harus meninggalkan dunia ini, itu diketahui oleh semua orang. Di masa datang, usia hidup manusia akan diperpanjang jauh melampaui harapan hidup “alamiah”-nya; walau demikian, kematian itu pasti akan datang. Tapi, apa yang terjadi pada individu tidak harus terjadi pada spesies. Kita terus hidup melalui anak-anak kita, melalui ingatan kawan-kawan kita dan melalui sumbangan yang kita buat untuk perbaikan nasib umat manusia. Inilah satu-satunya keabadian yang harus kita kejar. Bergenerasi umat manusia akan datang dan pergi, tapi akan selalu digantikan oleh generasi yang baru, yang akan mengembangkan dan memperkaya cakupan aktivitas dan pengetahuan umat manusia. Pencarian sejati akan keabadian diwujudkan dalam proses perkembangan dan penyempurnaan umat manusia yang tanpa henti, karena umat manusia akan terus memperbaharui diri dalam tingkatan yang semakin lama semakin tinggi. Tujuan tertinggi yang dapat kita tetapkan bagi diri kita sendiri, dengan demikian, bukanlah satu firdaus khayal nun jauh di atas sana, tapi untuk berjuang meraih kondisi sosial riil yang akan memungkinkan pembangunan surga di bawah sini, di dunia ini.

Sejak pengalaman kita yang paling awal, kita telah mencapai pemahaman tentang pentingnya waktu. Sehingga sangat mengejutkan bahwa masih ada orang yang beranggapan bahwa waktu adalah suatu ilusi, satu ciptaan pikiran belaka. Gagasan ini telah bertahan bahkan sampai saat ini. Pada kenyataannya, gagasan bahwa waktu dan perubahan adalah sekedar ilusi bukanlah sesuatu yang baru. Ia hadir dalam agama-agama kuno seperti agama Budha, dan juga dalam filsafat idealis seperti Pitagoras, Plato, dan Plotinus. Aspirasi dari ajaran Budha adalah untuk mencapai nirwana, satu keadaan di mana waktu berhenti berputar. Heraclitus, bapak dialektika, memahami dengan tepat hakikat waktu dan perubahan, ketika ia menulis bahwa “segalanya adalah dirinya sendiri sekaligus bukan dirinya sendiri, karena segalanya selalu berada dalam fluktuasi” dan “kita melangkah dan juga sekaligus tidak melangkah dalam arus yang sama, kita adalah diri kita sendiri dan sekaligus bukan.”

Ide tentang perubahan sebagai siklus datang dari masyarakat pertanian yang sangat bergantung pada perubahan cuaca. Cara hidup statis yang berakar dalam cara produksi masyarakat-masyarakat terdahulu menemukan perwujudannya dalam filsafat-filsafat yang statis. Gereja Katolik tidak sanggup mencerna kosmologi ala Copernicus dan Galileo karena itu adalah sebuah tantangan terhadap pandangan mereka terhadap dunia dan masyarakat. Hanya dalam masyarakat kapitalislah perkembangan industri berlangsung sedemikian rupa sehingga sanggup menggerus irama masyarakat pedesaan yang kuno dan lambat itu. Bukan hanya perbedaan dalam iklim kini diabaikan dalam produksi, tapi bahkan perbedaan siang dan malam, karena mesin-mesin bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, 52 minggu per tahun, di bawah sorotan sinar buatan manusia. Kapitalisme telah merevolusionerkan alat-alat produksi, dan bersamaan dengannya cara berpikir manusia. Walau demikian, kemajuan dalam cara berpikir itu terbukti jauh lebih lambat dari kemajuan industri. Konservatisme pemikiran ditunjukkan dalam upaya yang terus muncul untuk terus mempertahankan ide-ide lama, kepastian-kepastian kuno yang seharusnya sudah dikubur sejak lama dan, akhirnya, pada harapan yang telah bertahan melewati berbagai jaman akan satu kehidupan setelah kematian.

Ide bahwa alam semesta ini harus memiliki awal dan akhir telah dibangkitkan kembali beberapa dekade belakangan ini oleh teori Big Bang. Teori ini niscaya melibatkan satu makhluk supernatural yang menciptakan dunia dari ketiadaan menurut satu rencana yang tak dapat kita pahami, dan memeliharanya selama Ia menganggapnya perlu. Kosmologi religius kuno dari Musa, Yesaya, Tertullian dan Timaeus-nya Plato, dengan menakjubkan bangkit kembali dalam tulisan-tulisan dari beberapa kosmologis dan fisikawan teoritik modern. Tidak ada sesuatu pun yang baru dalam hal ini. Tiap sistem sosial yang memasuki tahap kemunduran yang sudah tak dapat dihentikan lagi selalu menggambarkan kemunduran dirinya sendiri sebagai akhir jaman, atau bahkan sebagai akhir dari alam semesta. Walau demikian, alam semesta ini masih terus berputar, tanpa memedulikan takdir yang menimpa formasi sosial yang fana di dunia ini. Umat manusia terus hidup, berjuang dan, sekalipun terjadi kemunduran-kemunduran, terus berkembang dan maju. Sehingga satu masa akan menyiapkan masa yang lebih maju dan lebih tinggi dari yang sebelumnya. Dan, secara prinsip, tidak ada batasan untuk hal ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *