Kita dan Waktu

Jelaslah bahwa konsep tentang waktu akan berbeda tergantung pada kerangka rujukannya. Satu tahun di bumi tidaklah sama dengan satu tahun di Yupiter. Demikian pula ide tentang waktu dan ruang bagi seorang manusia dan bagi seekor nyamuk yang rentang-usianya hanya beberapa hari akan berbeda, atau bagi sebuah partikel sub-atomik yang rentang-usianya hanya seper semiliar detik (tentu dengan menganggap bahwa partikel itu dapat berpikir).Apa yang kita rujuk di sini adalah bagaimana waktu dipandang dalam berbagai konteks yang berbeda. Jika kita menerima satu kerangka rujukan tertentu, cara kita memandang waktu akan berbeda. Bahkan dalam praktek hal ini dapat dilihat, sampai derajat tertentu. Misalnya, cara normal untuk mengukur waktu tidak dapat diterapkan pada pengukuran terhadap rentang-usia partikel-partikel sub-atomik, dan standar yang berbeda harus pula digunakan untuk mengukur “waktu geologis”.

Dari sudut pandang ini, waktu dapat dikatakan relatif. Pengukuran pasti melibatkan keterhubungan. Pikiran manusia mengandung banyak konsep yang pada hakikatnya relatif, misalnya besaran relatif, seperti “besar” atau “kecil”. Manusia kecil dibandingkan dengan gajah, tapi besar jika dibandingkan dengan semut. Konsep kecil dan besar, dalam diri mereka sendiri, tidaklah memiliki makna. Seper sejuta detik, dalam makna sehari-hari, kelihatannya adalah waktu yang teramat singkat, tapi bagi partikel-partikel sub-atomik itu adalah waktu yang teramat panjang. Di titik ekstrem yang lain, sejuta tahun adalah waktu yang teramat singkat di tingkat kosmologi.

Semua ide tentang ruang, waktu dan gerak tergantung pada pengamatan kita akan hubungan-hubungan dan perubahan-perubahan di dunia material. Walau demikian, pengukuran atas waktu sungguh berbeda ketika kita meneliti berbagai jenis materi. Pengukuran ruang dan waktu niscaya akan relatif terhadap sejenis kerangka rujukan tertentu – bumi, matahari atau titik statis lainnya – yang dapat dijadikan rujukan bagi peristiwa-peristiwa lain di alam semesta. Kini jelaslah bahwa materi mengalami segala jenis perubahan yang berbeda-beda: perubahan dalam posisi, yang pada gilirannya melibatkan perubahan dalam kecepatan, perubahan keadaan, yang melibatkan perubahan dalam tingkat-tingkatenergi, kelahiran, pembusukan dan kematian, pengorganisasian dan disorganisasi atau pengacakan, dan banyak lagi perubahan yang lain, yang semua dapat dinyatakan dan diukur dalam bentuk waktu.

Bagi Einstein, waktu dan ruang tidak dianggap sebagai fenomena yang saling terisolasi, dan sesungguhnya mustahil untuk menganggap mereka sebagai “benda di dalam diri mereka sendiri”. Einstein mengajukan satu pandangan bahwa waktu tergantung pada pergerakan dari sebuah sistem dan bahwa selang waktu berubah dengan cara sedemikian rupa sehingga kecepatan cahaya pada sistem tersebut tidaklah tergantung pada pergerakannya. Skala spasial juga dapat berubah sewaktu-waktu. Teori klasik Newton tetap sahih untuk keperluan sehari-hari, dan bahkan merupakan pendekatan yang baik untuk cara kerja umum alam semesta. Mekanika Newton tetap berlaku pada banyak cabang ilmu pengetahuan, bukan hanya astronomi, tapi juga dalam ilmu praktis seperti permesinan. Pada kecepatan rendah, efek relativitas khusus dapat diabaikan. Misalnya, kesalahan pengukuran atas sebuah pesawat yang terbang dengan kecepatan 400 km/jamadalah sekitar sepuluh per miliar dari satu persen. Walau demikian, di luar batas tertentu, hukum ini gagal dan runtuh. Pada tingkat kecepatan yang kita temui pada mesin akselerator partikel, misalnya, kita perlu memperhitungkan prediksiEinstein bahwa massa tidaklah konstan tapi berubah sebanding dengan kecepatannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *