Kita dan Waktu

Hegel mengkritik dengan tajam apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran mutlak oleh mekanika Newton. Ia adalah orang pertama yang menempatkan pendekatan mekanistik dari abad ke-18 pada kritik yang menyeluruh, sekalipun keterbatasan ilmu pengetahuan pada masanya tidak memungkinkannya mengajukan satu alternatif yang rapi. Bagi Hegel, segala yang finitetermediasi, yakni relatif terhadap sesuatu yang lain. Lebih jauh lagi, hubungan ini bukanlah satu hubungan juxta posisi yang formal, tapi sebuah proses yang hidup: segala sesuatu adalah terbatas, terkondisikan dan ditentukan oleh hal yang lain. Dengan demikian, sebab dan akibat hanya berlaku dalam hubungannya dengan relasi-relasi yang terisolasi (seperti yang kita temukan dalam mekanika klasik), tapi tidak demikian jika kita memandang segala hal sebagai proses, di mana segala sesuatu adalah hasil dari kesalingterhubungan dan interaksi yang universal.

Waktu adalah bentuk keberadaan materi. Matematika dan logika formal tidak dapat menangani waktu dengan baik, melainkan memperlakukannya sebagai sekedar sebuah hubungan kuantitatif. Kita tidak meragukan pentingnya relasi-relasi kuantitatif untuk bisa memahami realitas, karena tiap-tiap hal yang finite dapat didekati dari sudut pandang kuantitatif. Tanpa satu pemahaman akan hubungan-hubungan kuantitatif, ilmu pengetahuan mustahil lahir. Tapi, di dalam dan dari dirinya sendiri, hubungan-hubungan kuantitatif ini tidaklah cukup untuk menyatakan kompleksitas kehidupan dan pergerakan, proses perubahan tanpa henti di mana perkembangan yang bertahap dan halus tiba-tiba menimbulkan perubahan yang penuh kekacauan.

Hubungan yang murni kuantitatif, mengutip istilah Hegel, menghadirkan proses alam “hanya dalam bentuk yang kaku dan lumpuh”.Alam semesta ini adalah satu keseluruhan yang tanpa batas, dan menggerakkan dirinya sendiri, yang menghidupi dirinya sendiri dan mengandung kehidupan di dalam rahimnya. Gerak adalah sebuah fenomena yang kontradiktif, yang mengandung baik yang positif maupun yang negatif. Ini adalah satu dari proposisi paling mendasar dari dialektika, yang lebih dekat pada hakikat alam yang sesungguhnya daripada aksioma-aksioma matematika.

Hanya geometri klasik yang memungkinkan satu pandangan akan ruang yang seluruhnya kosong. Lagi-lagi ini adalah abstraksi matematika, yang memainkan satu peran penting, tapi hanya dapat menggambarkan realitas secara pendekatan saja. Geometri pada hakikatnya membandingkan berbagai besaran spasial. Berlawanan dengan apa yang dipercayai Kant, abstraksi matematika bukanlah sesuatu yang “apriori” dan lahir dari dirinya sendiri, tapi diturunkan dari pengamatan akan dunia material. Hegel menunjukkan bahwa orang-orang Yunani telah memahami keterbatasan dari penggambaran alam yang murni kuantitatif, dan berkomentar:

“Berapa jauh mereka [para filsuf Yunani] telah maju dalam pemikiran dibandingkan orang-orang pada masa kita, ketika beberapa dari kita menempatkan angka-angka dan determinasi angka-angka (seperti pangkat) sebagai ganti determinasi pikiran, di sisi hal-hal yang besar tak terhingga dan yang kecil tak terhingga, seperti angka satu yang dibagi tak berhingga, dan lain-lain determinasi macam itu, yang sering kali merupakan satu formalisme matematika yang salah kaprah, memilih kembali pada watak kekanak-kanakan yang impoten ini daripada menerima sesuatu yang berharga dan bahkan sesuatu yang menyeluruh dan mendasar seperti itu.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *