Teori relativitas umum ini pada hakikatnya memiliki sifat-sifat geometris, tapi geometrinya sama sekali berbeda dengan geometrinya Euclides. Dalam geometri Euclides, misalnya, dua garis paralel tidak akan pernah bertemu, dan sudut-sudut segitiga selalu berjumlah 180 derajat. Ruang-waktu [space-time]-nya Einstein (yang sebenarnya pertama kali dikembangkan oleh ahli matematika keturunan Rusia-Jerman, Hermann Minkowski, salah satu dari guru Einstein, di tahun 1907) merupakan satu sintesis dari ruang tiga dimensi (tinggi, lebar dan panjang) dengan waktu. Geometri empat-dimensi ini berurusan dengan bidang-bidang lengkung (“ruang-waktu yang lengkung”). Di sini sudut dari sebuah segitiga boleh jadi tidak berjumlah 180 derajat, dan garis-garis sejajar boleh jadi saling menyilang atau bersinggungan.
Dalam geometrinya Euclides, seperti yang ditunjukkan Engels, kita menemui serangkaian abstraksi yang sama sekali tidak bersesuaian dengan dunia nyata: satu titik yang tidak memiliki dimensi, yang menjadi sebuah garis lurus, yang, pada gilirannya, menjadi satu bidang datar sempurna, dan sebagainya, dan seterusnya. Di antara abstraksi-abstraksi ini kita mendapati abstraksi yang paling kosong dibandingkan yang lain, yaitu tentang “ruang kosong”. Ruang, apapun yang dipercayai Kant tentang hal itu, tidak dapat hadir tanpa sesuatu yang akan mengisinya, dan bahwa sesuatu itu persis adalah materi (dan energi, yang merupakan hal yang sama dengan materi). Geometri ruang ditentukan oleh materi yang dikandungnya. Inilah makna sejati dari “ruang yang melengkung” (curved space). Ia hanyalah satu cara untuk menyatakan properti-properti materi yang sesungguhnya. Masalah ini justru dibuat menjadi membingungkan oleh metafora-metafora yang keliru, yang digunakan untuk memopulerkan Einstein: “Bayangkan ruang sebagai selembar karet,” atau “Bayangkan ruang sebagai selembar kaca,” dan seterusnya. Pada kenyataannya, gagasan yang terutama adalah kesatuan yang tak terpisahkan antara waktu, ruang, materi dan gerak. Seketika kita melupakan kesatuan ini, kita akan tergelincir ke dalam mistifikasi idealistis.
Jika kita memandang ruang sebagai Dirinya-Sendiri, ruang kosong, seperti menurut Euclides, jelas bahwa ia tidak akan dapat dilengkungkan. Ia “tidak ada”. Walau demikian, seperti yang dinyatakan Hegel, tidak sesuatu pun di alam semesta ini yang tidak mengandung ada dan tiada sekaligus. Ruang dan materi bukanlah dua hal yang berlawanan secara berseberangan. Mereka bukanlah fenomena yang terpisah. Ruang mengandung materi, dan materi mengandung ruang. Keduanya sama sekali tidak terpisahkan. Kesatuan dialektik antara materi dan ruang adalah persis seperti adanya alam semesta ini. Dengan cara yang sangat mendasar, teori relativitas umum menyampaikan gagasan tentang kesatuan dialektik materi dan ruang ini. Dengan cara yang sama, angka nol dalam matematika bukanlah “ketiadaan”, tapi menyatakan satu kuantitas yang riil, dan memainkan peran yang menentukan.
Einstein menyajikan gravitasi sebagai salah satu properti ruang, bukan sebagai sebuah “gaya” yang bekerja atas satu benda. Menurut pandangan ini, ruang itu sendiri melengkung sebagai akibat dari kehadiran materi. Ini adalah cara yang unik untuk menyatakan kesatuan ruang dan waktu, dan yang membuka peluang besar untuk kesalahpahaman yang serius. Ruang itu sendiri, tentu saja, tidak dapat melengkung jika dipahami sebagai “ruang kosong”. Poin utamanya adalah bahwa mustahil ada ruang tanpa materi. Keduanya tidak terpisahkan. Apa yang kita bicarakan di sini adalah satu hubungan definitif antara ruang terhadap materi. Para atomis Yunani dahulu kala menunjukkan bahwa atom hadir dalam “kekosongan”. Yang satu tidak dapat ada tanpa keberadaan yang lain. Materi tanpa ruang adalah sama dengan ruang tanpa materi. Satu kekosongan yang sama sekali kosong adalah ketiadaan, itu saja. Tapi demikian pula halnya dengan materi yang tidak memiliki pembatas. Ruang dan materi, dengan demikian, adalah dua hal bertentangan yang saling mensyaratkan keberadaan yang lain, saling menentukan, saling membatasi, dan tak dapat hadir tanpa kehadiran yang lain.
