Kita dan Waktu

Sains modern dicirikan oleh satu perubahan tanpa henti, dengan kecepatan yang luar biasa, kontradiksi-kontradiksi dan paradoks-paradoks di segala tingkatannya.

Newton membedakan antara waktu mutlak dan “waktu yang relatif, kasat mata dan jamak”, seperti yang tampak pada jam yang ada di dunia. Ia mengajukan satu pandangan tentang “waktu mutlak”, satu skala waktu ideal yang akan menyederhanakan hukum-hukum mekanika. Abstraksi-abstraksi tentang waktu dan ruang ini terbukti merupakan ide yang dahsyat yang telah memajukan pemahaman kita akan alam semesta secara luar biasa. Untuk waktu yang lama ide-ide ini dianggap sebagai hal yang mutlak. Namun, setelah pengamatan yang lebih teliti, “kebenaran mutlak” dari mekanika klasik Newton terbukti relatif. Mekanika Newton hanya benar di dalam batas-batas tertentu.

Newton dan Hegel

Teori-teori mekanistik yang mendominasi sains selama dua abad setelah Newton pertama kali mendapatkan tantangan serius dari bidang biologi oleh penemuan revolusioner Charles Darwin. Teori evolusi Darwin menunjukkan bahwa kehidupan dapat muncul dan berkembang tanpa campur tangan ilahi, berdasarkan hukum-hukum alam. Pada akhir abad ke-19, ide tentang “panah waktu” dikemukakan oleh Ludwig Boltzmann dalam Hukum Kedua Termodinamika. Gagasan ini tidak lagi menyajikan waktu sebagai satu siklus yang tak terputus, melainkan bahwa waktu adalah laksana panah yang meluncur ke satu arah tunggal. Teori-teori ini mengasumsikan bahwa waktu adalah riil dan bahwa alam semesta sendiri adalah satu proses perubahan yang kontinu, seperti yang telah dinyatakan oleh Heraclitus tua beribu tahun yang lalu.

Hampir setengah abad sebelum karya Darwin yang menandai datangnya epos baru itu, Hegel telah mengantisipasi bukan hanya karya itu, tapi banyak penemuan lain dari sains modern. Dengan berani ia menantang asumsi-asumsi dari mekanika Newton yang masa itu masih berjaya. Ia mengajukan sebuah cara pandang dunia yang dinamik, yang berdasarkan proses dan perubahan melalui kontradiksi. Antisipasi yang gemilang dari Heraclitus diubah oleh Hegel menjadi satu sistem berpikir dialektik yang lengkap dan menyeluruh. Tidak ada keraguan bahwa, kalau sajapemikiran Hegel diperlakukan lebih serius, proses ilmu pengetahuan akan berjalan lebih cepat dari apa yang telah ditempuhnya sekarang.

Kebesaran Einstein terletak pada kemampuannya untuk melangkah keluar dari abstraksi-abstraksi ini dan mengungkapkan watak relatifnya. Aspek relatif dari waktu bukanlah sesuatu yang baru. Hal itu telah ditelaah secara menyeluruh oleh Hegel. Dalam karya awalnya The Phenomenology of Mind, ia menjelaskan hakikat kerelatifan dari kata-kata “di sini” dan “sekarang”. Ide-ide ini, yang kelihatannya cukup sederhana ternyata sangatlah kompleks dan kontradiktif. “Terhadap pertanyaan, Apa itu Sekarang? kami menjawab, misalnya, Sekarang adalah waktu malam. Untuk menguji kebenaran dari kepastian makna ini, kita hanya memerlukan satu percobaan sederhana saja: tuliskan kebenaran itu. Satu kebenaran tidak dapat kehilangan apapun hanya karena dituliskan, dan sama tetapnya jika kita memelihara dan menjaganya. Jika kita melihat lagi kebenaran yang telah kita tuliskan, lihatlah sekarang, pada waktu siang, kita akan melihat bahwa kebenaran itu telah basi dan ketinggalan jaman.”

Sangat mudah untuk mengabaikan Hegel (atau juga Engels) karena tulisan mereka tentang sains terbatasi oleh tingkat ilmu sains pada masa mereka. Apa yang mengagumkan sebenarnya adalah betapa majunya sebenarnya pandangan Hegel atas sains. Dalam buku mereka Order out of Chaos, Prigogine dan Stengers menunjukkan bahwa Hegel menolak metode mekanistik dari fisika Newtonian, pada waktu di mana ide-ide Newton disakralkan secara universal:

“Filsafat alam Hegelian secara sistematik mencakup segala hal yang ditolak oleh pandangan Newton. Secara khusus, ia bersandar pada perbedaan kualitatif antara perilaku sederhana yang digambarkan oleh mekanika dan perilaku dari makhluk-makhluk yang lebih kompleks seperti makhluk hidup. Ia menolak kemungkinan mereduksi tingkatan-tingkatan itu, menolak ide bahwa perbedaan hanya pada penampakannya dan bahwa alam pada dasarnya homogen dan sederhana. Ia membenarkan keberadaan satu hierarki, tiap tingkatan mengandaikan adanya satu tingkatan di bawahnya.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *