Mach dan Positivisme
“Namun objek adalah kebenaran yang sesungguhnya, adalah realitas yang hakiki; ia tidak peduli apa dia diketahui atau tidak; ia tetap ada dan tetap berdiri bahkan bila dia tidak diketahui, sementara pengetahuan tidak eksis bila objek itu tidak ada.” (Hegel)
Keberadaan masa silam, masa kini dan masa depan telah terukir di dalam kesadaran manusia. Kita hidup sekarang, tapi kita dapat mengingat kejadian-kejadian lampau, dan, sampai tahap tertentu, meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang. Ada yang disebut “sebelum” dan “setelah”. Tapi beberapa filsuf dan ilmuwan membantah hal ini. Mereka menganggap waktu sebagai sebuah produk dari pikiran, sebuah ilusi. Dalam pandangan mereka, jika tidak ada manusia yang mengamatinya, tidak akan ada waktu, tidak ada masa silam, masa kini maupun masa depan. Inilah sudut pandang idealisme subjektif, sebuah cara pandang yang sepenuhnya irasional dan anti-ilmiah yang walau demikian telah mencoba selama seratus tahun terakhir untuk mendasarkan dirinya pada penemuan-penemuan fisika. Ini dilakukannya guna memperoleh wibawa bagi pandangan atas dunia yang sepenuhnya mistik ini. Sangatlah ironis bahwa mazhab filsafat yang telah memiliki dampak terbesar bagi ilmu pengetahuan di abad ke-20, yaitu positivisme-logika, adalah salah satu cabang dari idealisme subjektif.
Positivisme adalah pandangan sempit yang menganggap bahwa sains harus membatasi dirinya pada “fakta-fakta yang dapat diamati”. Para pendiri mazhabini sangat enggan untuk mengatakan satu teori benar atau salah, melainkan lebih memilih untuk menyebutnya kurang lebih “berguna”. Sangatlah menarik untuk dicatat bahwa Ernst Mach, bapak spiritual sejati dari neo-positivisme, menolak teori atom dari bidang fisika dan kimia. Ini adalah hasil alamiah dari empirisme sempit dari cara pandang kaum positivis. Karena atom tidak dapat dilihat, bagaimana mungkin ia ada? Atom mereka anggap paling-paling sebagai satu fiksi yang menghibur, atau sebagai satu hipotesis ad hoc yang tidak dapat diterima. Salah satu rekan berpikir Mach, Wilhelm Ostwald telah benar-benar mencoba untuk menurunkan hukum-hukum dasar kimia tanpa bantuan hipotesis tentang atom!
Boltzmann dengan tajam mengkritik Mach dan kaum positivis, seperti halnya yang dilakukan Max Planck, bapak fisika kuantum. Lenin mengkritik habis-habisan pandangan-pandangan Mach dan Richard Avenarius, dalam bukunyaMaterialism and Empirio-criticism(1908). Walau demikian, pandangan-pandangan Mach memiliki dampak yang besar dan, di antaranya, turut pula mengesankan Albert Einstein muda. Berangkat dari pandangan bahwa semua ide harus diturunkan dari “apa yang ada”, yaitu dari informasi yang disediakan semata oleh indera kita, mereka meneruskannya dengan penyangkalan terhadap dunia alam, yang tidak tergantung dari indera-perasa manusia. Mach dan Avenarius merujuk pada objek fisik sebagai “himpunan kompleks dari sensasi”. Maka, misalnya, meja ini tidaklah lebih dari sekumpulan kesan-perasaan seperti kekerasannya, warnanya, massanya dan seterusnya. Tanpa hal-hal ini, menurut mereka, tidak akan ada yang tersisa. Dengan demikian, ide tentang materi (dalam makna filsafati, yaitu, dunia objektif yang ada bagi kita melalui indera-perasa kita) dinyatakan sebagai tidak bermakna sama sekali.
Seperti yang telah kami tunjukkan, ide-ide ini membawa kita langsung pada solipsisme – ide bahwa hanya “saya” yang ada. Jika saya menutup mata saya, dunia ini berhenti ada. Mach menyerang ide Newton bahwa ruang dan waktu adalah mutlak dan merupakan entitas yang riil, tapi ia melakukannya dari sudut pandang idealisme subjektif. Yang mengherankan, aliran filsafat modern yang paling berpengaruh (dan yang memiliki pengaruh paling kuat di kalangan ilmuwan) diturunkan dari idealisme subjektif Mach dan Avenarius.
