Begitu juta ketika kita bertanya “Apakah saat ini siang atau malam?” jawabannya akan tergantung di mana kita sedang berada. Di London saat ini siang, tapi di Australia saat ini sedang malam hari. Siang dan malam adalah konsep yang relatif, ditentukan oleh kedudukan kita pada bola dunia. Satu objek akan nampak lebih besar atau lebih kecil tergantung pada jaraknya dari kedudukan pengamat. “Atas” dan “bawah” juga memiliki makna yang relatif, yang berubah ketika ditemukan bahwa bumi ini bulat, bukan datar. Bahkan sampai hari ini, sangat sulit bagi “akal sehat” untuk menerima bahwa penduduk Australia dapat berjalan “dengan kepala di bawah”– jika dilihat dari Inggris! Tapi tetap tidak ada kontradiksi di sini jika kita paham bahwa konsep tentang tegak lurus tidaklah mutlak melainkan relatif. Untuk keperluan praktis, kita dapat menganggap permukaan bumi sebagai “datar” dan, dengan demikian, semua yang tegak lurus dapat dianggap sejajar, ketika kita melihat misalnya, dua rumah di satu kota. Tapi ketika kita harus memperhitungkan jarak yang jauh lebih besar, yang melibatkan seluruh permukaan bumi, kita akan menemukan bahwa upaya untuk menggunakan konsepsi tegak lurus yang mutlak akan membawa kita pada hal-hal yang absurd dan kontradiktif.
Jika kita meluaskan konsep ini, posisi dari sebuah benda langit pastilah relatif terhadap posisi benda-benda langit yang lain. Mustahil bagi kita untuk menetapkan kedudukan satu objek tanpa rujukan terhadap objek lainnya. Konsep “pergantian tempat” dari satu benda langit tidak bermakna lebih dari bahwa ia bertukar posisi relatif terhadap benda langit lain. Sejumlah hukum alam yang penting memiliki sifat yang relatif, misalnya prinsip relativitas gerak dan hukum inersia. Hukum yang disebut terakhir itu menyatakan bahwa sebuah benda yang tidak dikenai satu gaya dari luar dirinya tidak hanya dapat hadir dalam keadaan diam, melainkan juga dalam sebuah gerak yang seragam, membentuk garis lurus. Hukum dasar fisika ini ditemukan oleh Galileo.
Dalam praktek, kita tahu bahwa benda-benda yang tidak dikenai satu gaya dari luar dirinya cenderung akan berada dalam keadaan diam, setidaknya dalam kehidupan sehari-hari. Di dunia nyata, kondisi-kondisi untuk berlakunya hukum inersia, yakni tidak adanya gaya eksternal yang bekerja pada sebuah benda, tidak akan pernah ada. Gaya-gaya seperti gesekan bekerja pada satu benda untuk membuatnya berhenti. Walau demikian, dengan terus memperbaiki kondisi eksperimen, dimungkinkanlah untuk semakin dekat pada kondisi ideal yang dibayangkan oleh hukum inersia, dan dengan demikian menunjukkan bahwa ia berlaku bahkan untuk gerak yang diamati dalam kehidupan sehari-hari. Aspek relatif (kuantitatif) dari waktu dinyatakan dengan jelas oleh teori Einstein, yang membawanya ke tingkat yang jauh lebih mendasar daripada yang dapat dilakukan oleh teori klasik Newton.
Gravitasi bukanlah “gaya”, tapi sebuah hubungan antara benda-benda nyata. Bagi seseorang yang sedang jatuh dari sebuah gedung tinggi, akan nampak bahwa tanah sedang “melaju ke arahnya”. Dari sudut pandang relativitas, pengamatan ini tidaklah keliru. Hanya jika kita menganut konsepsi tentang “gaya” yang mekanistik dan sepihaklah kita akan melihat proses ini sebagai proses bekerjanya gravitasi bumi dalam menarik tubuh orang itu ke bawah, bukannya melihat bahwa ini adalah satu proses di mana dua benda berinteraksi satu terhadap yang lain. Untuk kondisi-kondisi “normal” teori gravitasi Newton sesuai dengan teori gravitasi Einstein. Tapi dalam kondisi ekstrem, keduanya sama sekali tidak bersesuaian. Kenyataannya, teori Newton bertentangan dengan teori relativitas umum dengan cara yang serupa dengan pertentangan antara logika formal dengan dialektika. Dan, sampai hari ini, bukti-bukti menunjukkan bahwa baik relativitas maupun dialektika adalah tepat.
