Waktu dan gerak adalah dua konsep yang tidak terpisahkan. Keduanya hakiki bagi semua kehidupan dan semua pengetahuan di dunia, termasuk tiap perwujudan pemikiran dan imajinasi. Pengukuran, batu penjuru dari semua ilmu pengetahuan, akan mustahil tanpa ruang dan waktu. Musik dan tari didasarkan atas waktu. Seni sendiri mencoba menyampaikan satu rasa tentang waktu dan gerak, yang hadir bukan hanya diwakilkan oleh energi fisik tapi juga oleh desainnya. Warna, bentuk dan garis dari sebuah lukisan membimbing mata melintasi permukaan dalam irama dan tempo tertentu. Inilah yang menumbuhkan rasa, ide dan emosi tertentu pada kita setelah kita menikmati karya seni tersebut. Keabadian adalah kata yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai karya seni, tapi justru sebenarnya menyatakan persis kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Kita tidak akan dapat merasakan ketiadaan waktu, karena waktu hadir dalam segala sesuatunya.
Ada satu perbedaan antara ruang dan waktu. Ruang dapat juga menyatakan perubahan, sebagaimana perubahan dalam posisi. Materi hadir dan bergerak melalui ruang. Tapi jumlah cara yang dapat dilalui oleh perubahan ini besar tak berhingga: maju, mundur, naik atau turun, dengan derajat apapun. Pergerakan dalam ruang dapat diputar balik. Pergerakan dalam waktu tidak dapat diputar balik. Keduanya adalah dua cara yang berbeda (dan bahkan bertentangan) dalam menyatakan satu ciri yang hakiki dari materi – perubahan. Inilah satu-satunya Kemutlakan yang ada.
Ruang adalah “kembaran” materi, kalau kita pakai istilah Hegel, sementara ruang adalah proses di mana materi (dan energi, yang keduanya adalah hal yang sama) terus-menerus berubah menjadi hal yang lain daripada dirinya sendiri. Waktu seperti “api yang menelan kita semua”biasanya dilihat sebagai suatu hal yang destruktif. Tapi sebenarnya waktu juga merupakan pernyataan dari proses permanen penciptaan diri sendiri, di mana materi terus-menerus berubah menjadi bentuk-bentuk lain yang jenisnya tak berhingga. Proses ini dapat dilihat dengan cukup jelas dalam materi-materi yang anorganik, terutama di tingkat sub-atomik.
Pandangan tentang perubahan, seperti yang dinyatakan dalam berlalunya waktu, dengan begitu dalam merasuki kesadaran manusia. Inilah basis dari semua unsur tragis dalam kesusastraan, perasaan sedih karena berlalunya kehidupan, yang mencapai bentuknya yang paling indah dalam soneta-soneta Shakespeare, seperti yang satu ini, yang dengan gemilang menggambarkan satu rasa akan pergerakan waktu yang penuh keresahan: “Laksana ombak yang melaju ke pantai berpasir,Demikianlah menit demi menit berpacu menuju kehancuran;Semuanya bertukar tempat dengan para pendahulu, Berturutan mereka menyeret diri ke dalam pertempuran”
Kemustahilan kita untuk membalik waktu tidak hanya berlaku untuk makhluk-makhluk hidup. Bukan hanya manusia, tapi bintang-bintang dan galaksi juga dilahirkan dan mengalami kematian. Perubahan berlaku untuk segala hal, tapi bukan hanya dalam makna yang negatif. Berdampingan dengan kematian, hadirlah kehidupan, dan keteraturan lahir secara spontan dari kekacauan. Tanpa kematian, kehidupan itu sendiri tidaklah dimungkinkan. Tiap orang bukan hanya sadar akan dirinya sendiri, tapi juga akan negasi dari diri mereka, dari batasan terhadap diri mereka sendiri. Kita datang dari alam dan akan kembali ke alam.
Makhluk-makhluk fana memahami bahwa sebagai makhluk fana mereka akan menemui kematian di ujung jalan yang mereka tempuh. Sebagaimana kitab Ayub mengingatkan kita: “Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan. Hewan tidaklah gentar akan kematian seperti halnya kita karena mereka tidak memahaminya seperti kita. Umat manusia telah berupaya meloloskan diri dari takdir mereka dengan mendirikan perkumpulan-perkumpulan istimewa yang menjanjikan satu kehidupan khayal setelah kematian. Ide tentang hidup abadi hadir dalam hampir tiap agama melalui bentuk yang satu atau yang lain. Inilah kekuatan penggerak di balik satu kehausan egoistis untuk keabadian khayal dalam Surga non-eksistensi, yang diangankan akan menjadi penghiburan bagi “Lembah Kedukaan” yang ada di bumi yang penuh dosa ini. Maka, selama berabad-abad, manusia telah diajari untuk menyerah pasrah pada penderitaan dan kerasnya kehidupan di dunia karena mengharapkan satu hidup yang penuh kebahagiaan – setelah mereka mati.
