Kita dan Waktu

Selama dua ratus tahun teori-teori Newton telah dianggap mutlak sahih. Kebenarannya tidak boleh disangkal. Setelah wafatnya Newton, Laplace dan beberapa orang lain membawa teorinya ke tingkat ekstrem sehingga justru menjadi absurd. Perpecahan radikal dengan Kemutlakan mekanika lama adalah satu prasyarat untuk kemajuan fisika di abad ke-20. Para fisikawan modern menepuk dada bahwa mereka telah mengubur monster Kemutlakan untuk selama-lamanya. Tiba-tiba pikiran dibebaskan untuk menjelajah ke dunia yang sampai saat itu belum terpikirkan. Masa-masa itu adalah masa-masa yang memabukkan! Sayangnya, kebahagiaan semacam itu tidak mungkin bertahan selamanya. Mengutip Robert Burne:

Namun kebahagiaan itu laksana bunga rumput. Kau petik bunganya, dan kelopaknyapun runtuh.

Fisika modern dapat menyelesaikan berbagai masalah, tapi dengan menghasilkan kontradiksi-kontradiksi baru, yang masih belum dapat diselesaikan sampai sekarang. Sebagian besar abad ini, fisika telah didominasi oleh dua teori besar: mekanika kuantum dan relativitas. Apa yang secara umum tidak disadari adalah bahwa kedua teori ini tidak dapat digabungkan. Nyatanya, keduanya tidak cocok satu sama lain. Teori relativitas umum tidak memperhitungkan prinsip ketidakpastian sama sekali. Einstein menghabiskan tahun-tahun terakhir dari hidupnya untuk menyelesaikan kontradiksi ini, tapi ia gagal.

Teori relativitas adalah sebuah teori yang besar dan revolusioner. Demikian pula mekanika Newton di masa lalu. Namun merupakan takdir dari semua teori untuk berubah menjadi ortodoks, untuk menderita sejenis penebalan pembuluh darah, sampai mereka tidak lagi sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh kemajuan sains. Untuk waktu yang lama, para fisikawan teoritik telah berpuas diri dengan bersandar pada penemuan-penemuan Einstein, mirip dengan generasi sebelumnya yang puas ketika dapat bersumpah atas nama Newton. Dan mirip pula dengan nasib yang dialami teori Newton, orang-orang ini juga bersalah karena telah mencoreng nama baik relativitas umum dengan membawanya ke dalam pandangan-pandangan yang paling absurd dan fantastis, yang tidak pernah dipikirkan bahkan oleh penemunya.

Singularitas, lubang hitam di mana waktu berhenti berputar, multiverse[pandangan bahwa ada beberapa alam semesta yang secara sejajar hadir dalam waktu bersamaan, bahwa kita memiliki kembaran di ‘dunia lain’], waktu sebelum dimulainya waktu, hal-hal yang tidak dapat dipertanyakan sama sekali – kita dapat membayangkan Einstein menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri! Semua ini katanya niscaya diturunkan dari relativitas umum, dan setiap orang yang mengajukan keberatan sekecil apapun akan segera berhadapan dengan otoritas dari Einstein sang Maha Agung. Ini tidak sedikit pun lebih baik daripada situasi sebelum datangnya relativitas, di mana otoritas Newton digunakan sedemikian rupa untuk mempertahankan ortodoksi. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa pandangan-pandangan fantastis dari Laplace masih kelihatan sangat masuk nalar dibandingkan dengan segala abrakadabra mistis yang ditulis oleh beberapa fisikawan modern. Dan bahkan Einstein sendiri, tidak seperti Newton, tidak dapat dipersalahkan atas segala impian di siang bolong dari para penerusnya, yang menciptakanreductio ad absurdum [reduksi sampai tingkat absurd] dari teori asli yang ditulisnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *