Seutas Benang Cinta

VII

Jika seorang laki-laki berhadapan dengan seekor belut, bagaimanakah seharusnya ia bergelut? Aku tidak tahu bagaimana pengalaman orang lain tetapi akan halnya diriku menghadapi seorang perempuan yang menangkap seorang laki-laki dengan teknik merangsang dan menghiba-hiba kurang lebih seperti makluk kappa-betina dalam novel Ryonusuke Akutagawa, maka aku telah kehilangan segala-segala kecuali kepalaku dengan naluri kancilnya yang dapat mengalahkan belut. Syang sekali, semua ini mesti terjadi dalam hidupku. Tetpai di manakah dalam kehidupan ini ada jalan raya tanpa bahaya? Setiap orang harus mengambil jarak. Setiap orang harus jadi supir bagi diri pribadinya di kala hujan maupun di panas terik di mana jalan raya sedang berdebu. Jika bertemu jalan mendaki sang supir harus oper perseneleng, jika jalan turun sang supir harus oper perseneleng, jika jalan datar barulah perseneleng empat dan tancap gas!

Dan aku telah sungguh-sungguh mengoper perseneleng itu. Aku tancap gas, terbang menuju Australia, setelah aku meminta bantuan seorang temanku yang baik, seorang dokter yang istrinya menjadi direktis pada sebuah pabrik kosmetik. Aku pikir, disanalah tempat yang paling aman untuk bekerja mencari makan. Menjelang hari tuanya, ia sangat membutuhkan serbuk-serbuk bedak bagi kulitnya walaupun serbuk-serbuk itu – menurut kawanku dokter itu – terbuat dari otak burung onta. Pantas mahal sekali, pantas gaji karyawannya relative besar.

 

Begitulah kisah hidupku dahulu.

Sekarang aku menyerahkan jalan jodohku pada Tuhan.

 

Sekarang aku menyerahkan jalan hidupnya pada Tuhan

 

T A M A T

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *