Seutas Benang Cinta

Tetapi segala sesuatu dapat diatasi dengan cepat bila badai datang: paling- paling tiang listrik akan patah, tetapi hal itu cuma soal ece saja menurut pengecekan perasaanku. Aku tidak begitu takut pada bencana arus listrik karena rumah ini jauh dari tiang- tiang listrik tekanan tinggi.

Jadi apa? Apa, apakah kiranya yang menyebabkan aku sangat gelisah ini? Kriminalitas apakah kiranya yang akan terjadi? Betul, dirumah ini ada tiga orang laki- laki yang menakutkan aku pada mulanya tetapi kemudian, aku telah menganggap mereka semua adalah iparku yang tercinta. Ataukah tiba- tiba ada seorang diantaranya yang marah padaku karena salah pengertian?

Maka aku pun coba membangkitkan daya pikirku, daya ingatku dan semua kesadaranku. Adik Monika yang paling bungsu adalah seoarang anak muda yang baik dalam arti sosial. Ia kepala dari kelompok manusia miskin-papa yang paling dina. Ia mengusahkan sumber kehidupan buat orang miskin itu, dengan cara yang paling miskin; ia mendapat uang untuk makan-minum dirinya sendiri. Maupun orang lain yang miskin-dina itu.

Bagaimana caranya? Pada malam hari ia mendirikan dinding-dinding dari karton-karton yang dipungut dari timbunan sampah. Di atas dinding yang telah tegang itu, dibuatkan atap dari tikar. Di bawah atap itu digelar lagi tikar. Begitulah maka sepanjang rel di sekitar stasion itu ada banyak bangunan semacam itu, bertumbuh bagaikan jamur di waktu malam.

Pelacur-pelacur kelas kambing yang paling kambing menunggu tamu-tamu kambing yang membawa pelacur kambing itu, ke gubuk-gubuk itu. Semua itu dikoordinasi oleh adik Monika yang paling bungsu. Uang sewa dipungut, kemudian pajak liar diberikan kepada pegawai-pegawai krucuk stasiun termasuk orang berseragan krucuk yang menjaga keamanan stasiun. Apakah dalam diri anak itu ada bakat kriminil? Entahlah. Ia sering berjalan ke mana-mana membawa pisau atau keris.

Hari pertama ketika aku menutup kamar Monika, ketika aku berada bersama Monika di kamar itu, tiba-tiba pintu ditendang dan aku beserta Monika terbongkar dari kamar itu. Ketika aku keluar, hampir aku ditinjunya tetapi aku bilang: aku tutup pintu karena aku berganti pakian. Begitu cepat akal kancilku muncul sehingga duel fisik tidak terjadi.

Kemudian aku berkata kepada Monika : sebenarnya kau harus mengatakan bahwa pakaianku ada di dalam lemarimu, dan aku sudah berada d alam hati dan badanmu. Kau harus memberitahukan itu kepada anak itu, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak enak. O, barangkali peristiwa itu mengendap dalam jiwaku. Itulah yang menyebabkan aku gelisah dalam rumah ini. Di tambah dengan seorang saudara lelaki lagi, yang hidupnya tergantung pada seorang wanita pelacur kelsa rel, maka makin jelaslah malam gelisahku. Aku sesungguhnya tidak suka hidup berkumpul dengan seorang iparku yang menjadi gendek pelacur kelas rel. sebagai gejalah sosial, aku bisa mendekati yang demikian itu karena aku berurusan dengan departemen sosial untuk menyelsaikannya. Tetapi sebagai seorang yang boleh dikatakan saudaranya, maka aku tak mau, betul-betul aku tak setuju dan tak senang dengan kehidupan yang demikian. Ya, aku tahu semua ini akibat keretakan keluarga semenjak kecil mereka, tetapi aku berharap saudara-saudara monika bisa di tertibkan. Aku prihatin pada hidup mereka.                                                                          Dan saudara yang satu lagi begitu hormat padaku, karena ia suka membaca ulasan-ulasan tentang film dan teater yang pernah ku tulis. Aku sangat saying padanya, aku sangat suka padanya kalau saja satu hal yang kuamati darinya tidak ada. Dia menderita schizopherenia. Tidak salah lagi. Aku sering mengintip dia dari lubang gedek kamarku. “bisa menbunuh orang, orang begini bisa agresif sekali.”semua yang kuamati dalam rumah monika ini, sangat menakutkan. Hari demi hari rasa takut memendam ke lubuk jiwa.

Pada suatu hari, aku dan monika sakit dan kami sama-sama terbaring lurus-lurus. Monika muntah-muntah, aku sedang terkaing-kaing kesakitan. Alangkah sakitnya badanku. Aku melangkahi badan monika yang sedang terpuyeng-puyeng tak berdaya juga untuk turun merangkak-rangkak kearah kamar kecil. Oh, di rumah ini begitu banyak manusia, tetapi di rumah ini, masing-masing mengurus dirinya sendiri dan tak pernah saling menolong, apalagi orang yang sakit adalah orang yang produktif, yang sesungguhnya patut di tolong untuk kepentingan semua perut. Malah pukulan mentahlah yang di berikan kepada orang yang sakit. Begini: aku gemetar meradang mengerang-erang kecil ketika sedang melangkahi badan monika untuk membuang air. Ketika persis aku berada di badan Monika dan akan menginjakkan kakiu ke lantai, oh, pintu di tendang oleh seorang wanita, dan suara halilintar pun menggelegar: “Anak saya lagi sakit kok kamu mau perkosa, dia!”

Oh, Tuhan. Aku tidak tahu apa yang kukatakan lagi. Aku hanya mengaing-ngaing kecil, menuju kamar mandi, kemudian aku kembali ke kamar tidur lalu melilitkan sebuah kain batik keperutku, memakai dua lapis kemeja dan celana lalu memakai jeket, kaos dan sepatu dan keluar gemetar-gemetar kesakitan mencari becak.

Betul-betul aku berada dalam rumah celaka. Bukan sekali ini halilintar, dari mulut sang ibu Monika yang datang. Ketika aku lagi duduk tak berdaya menahan nyeri di kamar depan, aku dikagetkan oleh bunyi: “Kamu cari uang bagaimana, sih? Katanya.

“saya juga sakit, tetapi bukan itu soalnya. Hargailah kepala rumah tangga,” kataku.

Aku tak tahu lagi apa yang dikatakan oleh ibu yang histeris itu. Suaranya menggelepar pagar halaman, suaranya membikin aku jadi tuli dan walaupun perasaan ku bisa menggetarkan tanganku untuk menutup mulutnya, namun dengan cepat aku dapat memperhitungkan kemungkinan kriminil yang datang dari tiga orang laki-laki yang berada dalam rumah itu. Soalnya bukan aku takut pada mereka. Aku hanya takut kalau aku terlalu tertekan sehingga aku juga jadi ngamuk dalam rumah itu. Aku sangat takut akan setan yang telah kujinakan di dunia tersembunyi di dasar jiwaku. Soalnya, aku adalah laki-laki yang berasal dari suku-suku kepulauan serba kecil yang sering menjawab alam dengan amuk. Inilah yang aku takutkan. Aku takut bahwa hysteria di rumah ini membikin aku mangamuk. Jangan, jangan sampai hal itu terjadi.

Begitulah maka aku pernah bangkit dengan sakit dan marah menuju rumah tetangga, seorang Zambua dan meminta dia meminta dia menjual motorku dengan harga berapa saja. Ia membawa motor itu, kemudian kembali dengan uang sepuluh ribu. Uang itu cepat aku belikan obat-obat buat Monika. Uang tersebut telah ludes sekarang. Oleh karena itu aku ngebon uang becak.

Karena hysteria dalam rumah monika inilah maka aku tak pulang-pulang selama dua minggu. Malam-malam pertama aku nginap- di rumah sakit umum pusat, kemudian di bangku-bangku stasiun atau di bangku-bangku Taman Kebudayaan. Daalam hidupku aku tak bisa melupakan kepedihan ini.

Monika mencariku ke sana ke mari dan ia bertemu denganku, sebagai seorang laki-laki yang tidur di bangku RSUP. Aku tidak tahu bagaimana ia menemukan. Mungkin ia bertanya-tanya ke sana ke mari. Barangkali ada orang yang mengenal aku tapi aku tak mengenalinya, yang memberitahukan kepada Monika. Eh, ya, ya, tentu ia pernah datang ke rumah sakit dan menyakan dokter-dokter yang suka pada teater.

Monika telah membawa pulang ke rumah dan aku telah menceritakan semuanya kepadanya. Ia menangis tersedu-sedu sambil menceritakan kepadaku bahwa semua suaminya telah kena teror mulut dan kerongkongan. Semua suami-suaminya telah berusaha untuk membiayai keluarga besar itu, sehingga dua diantaranya terlibat korupsi dan begitu keluar dari penjara, tidak pulang-pulang meninggalkan Monika melahirkan anak sendirian tanpa ciuman kemenangan atas ciuman dari sang ayah. Karena itulah aku berkata kepada Monika bahwa akulah yang akan memberikan ciuman kemenangan itu seandainya ia memberikan seorang anak padaku. Pernyataan ini berupa suatu perdamaian rupanya sehingga kami pulang bersama tenang-tenang dan tidur tenang-tenang.

Bukankah aku baru pulang tadi pagi?

Tetapi kenapakah mala mini gelisahku muncul intens sekali, lain sekali gaya dan iramanya dalam bathinku? Aku sukar menjelaskannya. Cukuplah kalau kukatakan bahwa seperti ada malaekat yang menyuruh aku berjaga, mala mini.

Aku memandang Monika yang sedang tidur nyenyak. Aku meraba kepalanya. Kucium dahinya. Wahai! Wanita muda yang bagus ini adalah suatu upacara duka buatku karena badan yang bagus ini telah dipersate oleh sekian laki-laki. Ia adalah satu pertanyaan dunia dan buatku jawabnya hanyalah satu: ia harus segera meninggalkan lingkungan ini. Ia harus mengambil jarak. Tidak boleh tidak. Karena aku dibawa oleh Monika ke dalam lingkungannya yang brengsek begini, maka sudah tentu aku bisa menjadi lidi sate yang kesekian bagi dagingnya yang bagus.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *