Rencana Kepala Kobus

Home » Berita » Rencana Kepala Kobus

Cerpen Oleh: Ama Kewaman


Pagi itu tampak cerah. Langit biru tanpa awan menggantung tenang di atap-atap rumah, dan sinar matahari memantul di genangan air yang mengisi lubang-lubang jalan di depan kantor desa. Bekas aspal yang mengelupas membentuk kubangan kecil yang tak kunjung kering, meski hujan terakhir sudah berlalu dua hari lalu. Beberapa anak sekolah, para petani dan masyarakat lainnya menyeberang dengan hati-hati. Di jalan itu pula, cacian dan sumpah serapah pernah dilontarkan oleh seorang pria paruh baya kaerena jatuh akibat terpeleset.

Di sisi kiri kantor desa, kali mati bekas saluran air yang rusak tak pernah diperbaiki. Di balik jendela kantor yang kusam, rapat kecil akan segera dimulai_rapat yang bukan membicarakan bagaimana memperbaiki pembangunan ke arah yang lebih baik, tetapi bagaimana membuatnya agar lebih cepat rusak dengan rencana yang sangat rapi.

Di dalam ruangan kepala Kobus, kepala seksi pembangunan, Kepala seksi bagian perencanaan, ketua BPD dan seksi keuangan duduk menghadap ke meja kepala Kobus. Buku-buku tersusun rapih dalam lemari. Sebagian lagi tersusun di atas meja dan kursi-kursi plastik berwarna pudar menjadi saksi bisu. Kursi itu pernah disita oleh salah satu anggota RT karena gaji selama setahun tidak pernah diberikan oleh pememrintah desa.

Di dinding belakang tergantung potret presiden dan wakil presiden, tampak menatap lurus ke depan, tapi tak satu pun dari mereka yang peduli.

“Konsep pembangunan kita tahun ini harus disederhanakan,” kata Kepala Kobus membuka pembicaraan.

“Bangunan fisik, jalan, atau gorong-gorong, harus dibuat bagus. Tetapi kualitasnya, mesti di bawah standar!” Katanya dengan tegas. Sesekali saja ia membuang pandangan ke luar jendela untuk mengawasi suasana di luar ruangan.
Seisi ruangan mulai hening. Mereka saling menatap lama.

Pak Anton yang baru terpilih sebagai ketua BPD yang sudah bertahun-tahun bekerja sebagai kaur pembangunan pada masa jabatan kepemimpinan sebelumnya mengangguk pelan seolah mengerti maksud kepala Kobus.

“Jadi target umur bangunan setengah tahun? Atau bagaimana, Bapa?” Ia menimpal.

“Betul, Pak Anton.” sahut Kepala Kobus.
“Kalau bisa tiga bulan, malah lebih bagus. Kita bisa masuk tahap pemeliharaan lebih cepat. Uang sisa hasil penawaran dan lain-lain bisa dibagi merata. Kamu dapat, saya dapat, aparat yang lain juga kebagian. Biar aman. Nanti saya akan atur. Itu soal kecil saja.”

Pak Roni, kepala seksi bagian perencanaan, menatap mereka dalam-dalam. Ia gelisah. Sudah hampir setahun diangkat, ia selalu mengikuti pertemuan semacam ini. Awalnya ia berpikir semua itu hanya strategi administratif, namun makin lama ia sadar, ini bukan sekadar kelonggaran teknis. Ini adalah pola kejahatan sistematis.
“Bapa, minta maaf, tapi… kalau cepat rusak, masyarakat pasti protes.” Roni memberanikan diri bersuara seolah kobran semangat dan idealisme mahasiswanya bangkit kembali.

Kepala Kobus menoleh padanya dan tersenyum tipis. “Itu bagian dari dinamika. Ujung-ujungnya mereka tetap senang saat kita datang bawa program perbaikan. Kita jadi pahlawan. Lagipula… mereka tidak tahu teknis bangunan?”

“Baik, Bapa.” Jawab Roni singkat.
Semua tertawa kecil dan saling beradu muka tanda setuju. Kecuali Roni. Ia menggenggam pena di tangannya erat-erat. Tangannya mulai berkeringat. Dalam hatinya, ia ingin berdiri dan berkata jujur, ingin membongkar semua. Tapi ia tahu risikonya. Anak keduanya baru saja lahir. Istrinya hanya tinggal di rumah mengurus anak pertama mereka yang masih di sekolah dasar. Gajinya pas-pasan. Jika ia kehilangan pekerjaan karena bicara terlalu banyak, siapa yang akan memberi makan keluarganya?

Pertemuan itu berakhir dengan saling jabatan tangan dan tepuk-tepukan bahu, seperti biasa. Tak ada kontrak resmi yang ditandatangani, tapi semua sudah paham perannya. Sketsa bangunan hanya formalitas. Yang penting adalah bagaimana angka bisa dimainkan.

***

Suasana Balai Desa Watu One dipenuhi suara orang-orang yang datang menghadiri rapat pembentukan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) desa. Di antara barisan kursi warga, tampak Pak Markus duduk di barisan paling depan. Ia adalah seorang tokoh masyarakat yang dikenal jujur dan berpengalaman mengelola berbagai kegiatan desa kalau dipercayakan.

Ketua BPD membuka rapat dengan tenang dan penuh wibawa. Saat sampai pada sesi usulan calon pengurus TPK, beberapa warga dengan tegas mengusulkan nama Pak Markus sebagai Ketua TPK. Alasannya jelas—pengalaman dan integritasnya tak perlu diragukan.

Namun, situasi tiba-tiba berubah saat Ibu Yuni, salah satu anggota forum, menyela.
“Saya keberatan! Pak Markus terlalu dekat dengan Pak Sekdes. Kita perlu orang yang netral.”

Beberapa warga tampak ragu. Desas-desus mulai terdengar. Isu kedekatan pribadi dijadikan alasan untuk menolak usulan tersebut, meski kemampuan Pak Markus sebenarnya jauh melampaui yang lain. Forum pun mulai gaduh, hingga akhirnya usulan itu ditolak secara aklamasi.

Di tengah kericuhan yang perlahan mereda, tak banyak yang tahu bahwa malam sebelumnya, Kepala Kobus telah berbincang diam-diam dengan Pak Yance, seorang petani biasa yang dikenal aktif dalam urusan desa. Hanya satu hal yang membuatnya menarik: anaknya adalah Kepala Seksi Kesejahteraan di kantor desa dan juga pernah menjadi tim sukses kepala Kobus beberapa tahun silam saat pemilihan kepala Desa berlangsung.

Setelah penolakan usulan Pak Markus, Kepala Kobus lalu dengan suara mantap berkata,

“Kalau begitu, saya usulkan Pak Yance. Beliau orang yang sederhana dan bisa diajak kerja sama.”

Forum sejenak diam, lalu beberapa tangan mengangkat setuju. Tanpa perdebatan panjang, usulan itu disahkan. Sebagian warga hanya mengangguk, meski mata mereka menyiratkan tanya dan kecewa.
Pada sisi yang lainnya, Pak Roni hanya tersenyum pahit. Ia menunduk malu. Sesekali saja ia menatap laptop di depan mejanya. Kepalanya mulai berkeringat. Ia tak tahu kepada siapa kebenaran ini akan ia sampaikan, tapi untuk ke sekian kalinya, ia merasa keberaniannya mulai tak berdaya. Ia tahu, ini bukan lagi soal kemampuan. Ini tentang siapa yang dekat dengan kekuasaan, dan siapa yang tidak.
Seusai pertemuan, suara tawa dan tepuk tangan masih terdengar riuh.

Mereka yang merasa aman karena punya kedekatan dengan pengambil keputusan terus merayakan keberhasilan yang tak pernah benar-benar mereka usahakan. Pak Roni menarik napas dalam, mencoba menenangkan kegelisahan yang terus menyelinap ke pikirannya. Ia tahu, kebenaran selalu butuh suara, tapi suara yang benar seringkali tak punya tempat.

Ia melirik laptopnya lagi. Di dalam file yang baru saja ia buka, ada semua bukti: laporan anggaran yang dimanipulasi, data fiktif program pelatihan yang tak pernah dilaksanakan, hingga daftar nama-nama yang menerima honorarium tanpa pernah hadir dan masih banyak lagi. Semua nyata. Dan ia menyimpannya rapat-rapat selama ini, berharap masih ada ruang untuk memperbaiki tanpa harus menghancurkan.
Pak Roni berdiri.

Perlahan ia menutup laptopnya, lalu meraih map cokelat tua dari laci meja. Di dalamnya, ia simpan semua salinan data—semacam ‘warisan diam’ untuk siapa pun yang suatu saat cukup berani melawan.
Kepala Kobus mendekat ke arahnya, menepuk pundaknya berkali-kali. Tapi kali ini, ia merasakah kehangatan yang lebih akrab dari jabatan tangan kepala Kobus dengan kepala seksi keuangan pagi tadi sebelum rapat dimulai. Kepala kobus menarik map dari tangan Roni. Ia berdiri kaku bagai serdadu yang terhunus pedang. Tak ada pembicaraan. Hanya kalimat peringatan yang didapatkan Roni.

Untuk kesekian kalinya, ia merasakan diam lebih keras daripada sorak-sorai mana pun. Di tangan dan wajahnya tersirat tatapan kosong. Tapi di hatinya, ia telah menyerahkan seluruh kebenaran pada waktu.***
Komak, 31/07/2025; 09:10

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *