Seutas Benang Cinta

Kami berpindah dari rumput-rumput di dekat pohon sirsak itu ke bawah kolom pohon-pohon lantana yang bertumbuh lebat di tepi Laguna. Kami membentangkan jeket dan kemeja dan pakian kami yang lainnya sebagai pengganti tikar. Tetapi sebelum kami dapat ngobrol atau membual, hidung kami mencium udara cirit-cirit burung pipit barangkali. Sementara itu, sosok tubuh meloncat. Lari dari rumpun ilalang di dekat kami. Aku berwaspada dan monika sudah tentu sangat kaget.

“Kita tinggalkan tempat yang mengandung cirit-cirit burung pipit barangkali, atau cirit-cirit ‘peeping maniac’ itu,” kataku.

“Lalu kemana ?” Tanya Monika.

“Ke motel saja. Kebetulan aku bawa uang cukup banyak. Kita makan siang di sana. Eh, sorry, kita makan tengah malam di sana,” kataku sambil bangkit dan aku menarik tangan Monika.

Kami berjalan santai menuju sebuah motel. Memasuki motel itu, Monika agak gugup entah kenapa, barangkali karena takut dilihat orang yang mengenal kami. Ini dugaan saja, semenjak Monika menarik lenganku dan kepingin kembali. Tapi aku menariknya untuk berjalan terus memasuki gerbang dan menuju kantinnya.

Kami memesan kamar dobel, kemudian kami menuju kios barang kelontong untuk membeli handuk, sabun dan odol serta sikat gigi. Keluar dari sana kami terus menuju kamar pesanan kami, diantar oleh pelayan. Di kamar, kami memesan minuman dan makanan kepada pelayan. Kami terus mandi setelah memperhatikan pakian kami apakah sudah terkena cirit-cirit burung pipit peeping maniacs.

Sehabis mandi kami makan kami duduk sambil memandang, tanpa berbicara beberapa lama. Nampaknya kami sama-sama menguap karena darah kami turun ke perut untuk mengambil makan malam itu.

Monika menggeletakan badannya ke tempat tidur dan akupun memandang sebongkah kebagusan lahiriah dengan penuh gairah.”aduh, anakku tentu bertanya-tanya, kenapa mama belum pulang-pulang,” kata monika sambil menenggelamkan mukanya ke Bantal.

Hatiku jadi terpukul. Seleraku berserakan. Inilah susahnya orang yang sedikit banyaknya punya imajinasi. Imej tentang anak-anak monika yang sedang nyenyak sunyi di atas tempat tidur sementara ibunya sedang bergalang-gulung dengan laki-laki lain yang bukan ayah mereka, adalah sebuah kehalusan lain yang masih tersisa dalam diriku dalam malam dukanan di gerongga motel ini. Aku ragu pada diriku selalu bila berhadapan dengan peristiwa semacam ini walaupun aku sudah mempelajari don juan dengan baik dan secara teoretis aku simpati padanya, lebih daripada simpatiku kepada don kisot yang sok mau menanduk kincir angin dengan kekuatanya yang terbatas. Akan halnya don juan yang berloncatan dari satu badan bagus ke badan yang lain itu, bukanlah mutlak seorang lelaki yang terkutuk, manakala setiap wanita yang di temuinya menenggelamkan wajah ke dalam bantal lalu membatasi diri secara spiritual dengan don juan. Barangkali don juan telah mengalami peristiwa ini: ketika lagi terlibat dengan badan bagus perempuan seperti aktris ini, tiba-tiba badan bagus itu membentangkan panorama kalbu yang maha luas tak terjangkau oleh keterbatasan don juan.rasa-rasanya secara teoretis aku telah mempelajari gejalah ini dari don juan dan kini secara praktis aku mengalaminya langsung.

Tetapi aku tidak sejenis don juan mala mini. Aku jadi terpukau oleh gerak muka yang di tenggelamkan ke bantal dan gendang telingaku lebih daripada sebuah selaput yang kenyal:imej-imej visual dan auditif yang dibawah oleh dunia daging manusia yang fana inimenyelusup ke dasar jiwa dan mengelus-elus hati kecilku dan aku pun jadi terharu. Teoretis aku mengerti bahwa Don Juan mengerti akan keterbatasannya walaupun ia berada dalam posisiku sekarang: anak-anak yang tidur sendiri, sedangkan ibunya sedang bergelimang dengan laki-laki yang lain. Don juan tidak bisa menyelsaikan rahasia kejadian ini. Dia terseruduk ke malam dukana dan bukan resah di malam ghetsemane .dia adalah atlit seks yang sehat dan hanya itulah kemampuannya, hanya itulah kekayaanyayang bisa di berikan kepada seorang berbadan bagus dan badan-badan bagus itu telah menerima seorang don juan. Tetapi aku, dalam praktek mala mini, seperti juga biasanya selama aku berpisah ranjang dan meja makan dengan istriku, tidak bisa tangguh seperti don juan. Pada akhir setiap permainan kuantitas aku sangat capek, jiwaku tertekan, cemas dan sunyi, resah sendiri di malam ghetsemane.

Badanku yang baru mandi itu menjadi dingin. Aku duduk berdiam diri, dalam gerongga motel dan dalam diriku. Dan manakala badanku bergerak percuma tanpa makna mencolek badan monika, semua itu kulakukan dengan suatu kehidupan malam yang pecah:satu bagian diriku yang lain kuberikan pada diriku sendiri yang sunyi.

Segala detik dukana berjalan seperti biasa dalam gerongga motel itu. Celaka aku!

Monika memang pintar dalam permainan cinta. Ini membikin aku curiga padanya: barangkali ia telah pernah membaca-baca majalah-majalah yang telah membantai seks yang suci itu menjadi barang dagangan. Artinya, tentulah ia telah membaca teknik membangkitkan kepuasan seks dan menjadilah ia seorang teknokrat seks yang mau tidak mau telah menjadi alat kapitalisme. Majalah play boy dan sebangsanya sudah di bacanya barangkali. Barangkali ia telah mempraktekkan teknik ini kepada badan-badan lain. Karena itu, setelah segalanya berlangsung malam itu, kamipun tidak bisa bertemu lagi: kami tidur bertolak belakangdan nyenyak sampai pagi.

Dikala udara pagi mengirimkan harum kembang dari halaman motel, akupun terpental-pental sendiri memandang monika yang puas tetapi cemas memikirkan anak-anaknya di rumah.

Betul kata teori, bahwa cinta erotic melahirkan kepuasan orang berkelahi, kepuasan tahkluk menaklukan, sedang cinta dalam huruf besar tidak berada di bawah uang. Betul! Aku telah mengalami hal ini dengan monika dalam semalam. Tetapi aku telah berjanji padanya tadi malam, ketika kami bercumbu di rumput, bahwa aku akan menikahi dia, bukan? Berarti kepuasan erotic harus di bawah pergi bersama hari-hari selanjutnya di bawah naungan kesatuan jiwa raga.

Tiba-tiba ku usir jon duan dari dalam diriku. Persetan dengan teori domino don juan yang mengutamakan etik kuantitas itu. Jiwaku yang rindu akan kesatuan jiwa raga dengan perempuan, jiwaku yang selama ini telah begitu luka karena tidak berbahagia dalam perkawinan harus meneruskan panggilan kerinduan itu.

Dalam kesegaran pagi dimana harum kembang dating dari jendela motel, aku percaya bahwa tidak semua perempuan adalah kartu daminao. Don Juan telah menyambung-nyambung pengelamannya terhadap perempuan bagaikan kartu.ia berloncatan girang di bawah matahari dan berenang di lautan seks. Itulah moral Jon Duan:ia membikin manusia riang dengan keterbatasanya walaupun rindunya tetap memanggil-manggil perempuan.aku pikir laki-laki ini bernasib jelek karena terlalu menekankan kebenaran pada angka lima dan dua. Ia bertemu dengan seorang perempuan dalam situasi kartu domino yang berangka satu dan dua.

Persentuhan kuantitatif bisa berlangsung karena salah satu tampng dari masing-masing laki dan perempuan ada angka dua. Keduanya bisa bersambung, tetapi bagaimana dengan angka lima pada don juan?

Monika bangun ketika aku sedang duduk tercenung-cenung memandang diriku di cermin besar di tembok.

“Jam berapa sekarang?” Tanya monika.

“aku bilang, persetan dengan waktu detik dan jam,” kataku sambil mengecupnya.

“Kalau aku tak ada di rumah di pagi hari begini, anakku tidak akan ke sekolah,”kata monika sambil bergerak membuat posisi duduk yang serupa dengan dudukku: kami sama-sama menghadap cermin. Aku meluknya erat-erat sambil kami berdua tersenyum meringis-ringis kepada trias dan monika yang berada di cermin

“Bilang pada anak-anak bahwa sebentar lagi papa baru akan dating dan akan mengajar mereka malam-malam; papa baru akan menolong mereka menyelsaikan pekerjaan rumah yang sulit” kataku sambil kurangkul monika dan menciumnya.

“Papa yang baru akan membuat sebuah panggung di samping rumah – sebuah teater kanak- kanak dan setiap minggu ada latiha,”kata-kataku membuai-buai bersama anganku tentang pendidikan.matanya membinar-binar memandang mataku di cermin motel.

Dimuatkannya kepalanya kepangkuanku. Aku mengusap-usap rambut monika sambil berkata “bilang pada mereka, papa yang baru akan mengajak mereka berdarmawisata di hari libur.”

“Sudah ah, jangan terlalu banyak janji. Laki-laki hamper sama semuanya. Sudah mendapatkan wanita dan mengunyah-ngunyahnya bagaikan tebu, terus di buang . laki-lakilah yang menciptakan janda-janda,” katanya sambil mengangkat kepalanya, lalu bangun menuju cermin mengeluarkan sisir dari tasnya, lalu menyisir rambutnya.

“Eh, aku mandi dulu. Pesan makanan pagi, gi !”di tariknya aku berdiri, lalu dibalikkannya badanku ke pintu lalu didorongnya aku kea rah ointu itu. Aku terhuyung berjalan pergi.

Sementara menunggu makanan dating, kami mandi.

Aku bernyanyi-nyanyi. Aku menyanyikan lagu yang kukarang sendiri seenak perutku, kira-kira berbunyi begini:

Monika, engkaulah bayangan. Malaikat senja di pohon asam. Turun mandi ke kolam taman. Refrain: engkau menepuk kolam, byar, byar! Engkau menghapus lengang,jreng, jreng! Engkau merampas duit, cut, cut!

Di kala mulutku membunyikan byar, byar, aku menyiram mukannya dan dia terkikih kegirangan membalas menyiram aku. Di kala aku menyanyikan kata-kata jreng-jreng, aku memegang kedua pipinya dan menggelengkan ke kiri dan ke kanan. Dia mendorong aku. Dikala aku menyebut cut, cut aku mencubit dia. Dan monika pun meraksi cepat dengan merenggut rambutku yang rada gondrong lalu mencelupkan kepalaku ke air bathtub yang telah bercampur dengan sabun.

Pagi itu, ketika matahari baru memancar segar, kami kembali ke tempat kami masing-masing.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *