Sang sutradara menggali sedalam-dalamnya dunia itu dan mengangkatnya secara visual dalam film yang bagus itu.
Aku ingat akan hidung sang wanita yang bergerak-gerak seperti mencium sesuatu – sudah tentu, melihat perkembangan ceritanya, perempuan muda itu mencium bau darah – yang datang dari pertemuan dengan laki-laki itu. Aku ingat, di apartement itu, tangan-tangan selalu melulur dari tembok untuk mengancam wanita muda itu. Jiwa wanita itu, hidup dalam ancaman laki-laki, dimana saja, kapan saja, sampai-sampai di dalam apartement yang sesungguhnya harus menjadi firdausnya. Apalagi dengan hadirnya seorang laki-laki yang mulai merabah-rabah masa depannya dengan wanita itu : khaos dalam diri wanita itu menemukan obyek yang nyata. Wanita muda itu menyembeli laki-laki itu lalu di cincang-cincang dan disembunyikan di bak mandi.
Monika adalah seorang janda ia bercerai dari suaminya. Beban cari makan untuk anaknya dan untuk dirinya dipikul sendiri oleh Monika. Sebagai aktris dan calon penulis cerita pendek, ia memang manis. Tetapi yang harus kuperhitungkan ialah keadaanya, apakah tidak mengendapkan khaos dalam jiwanya, apakah tidak meninggalkan rasa terancam yang terlulur dari tembok-tembok yang membatasi dia dengan dunia laki-laki apakah tidak meninggalkan dendam ke sumat tujuh turunan terhadap lelaki.
Syukur kalau ia bisa memakai kacamata yang kupakai kini, bahwa kebudayaan korupsi lah yang menyebabkan timbulnya industry kerajinan cerai kawin dan membikin wanita janda berganda, dan bukan aku, lelaki yang satu, laki-laki yang kini hidup sendiri dalam kamar yang satu dan sempit, di lingkar kertas-kertas dan huruf-huruf yang mencari kebenaran, keadilan dan cinta.
Ah! Aku terlalu sombong nampaknya. Tetapi sesungguhnya aku lagi terhuyung, sekarang, setelah aku jatuh di bawah rangsangan kappa betinanya Ryonosuke Akutagawa, yang bernama Monika itu. Aku bisa berkata demikian karena terpikir olehku: mengapa ia begitu cepat menyerahkan dirinya, padahal aku baru saja bertemu dengan dia di bawa pohon asam? Pertanyaan dan pengalaman ini, membikin jiwaku, untuk beberapa detik lamanya menjadi asam pula. Kecut rasanya, asam rasanya permainan semalam.
Asam itu sudah ada di lambungku: asam di darat, Monika di pasir pantai, bertemu di dalam pertimbanganku kini. Aku merasa gentar juga bilamana nanti Monika… tetapi tidak. Aku sangat percaya pada manusia. Betul. Bagaimanapun.
Aku pindah dari sofa dan duduk di atas tikar. Aku meluruskan badanku dalam gaya telungkup lalu kepalaku kumuatkan di atas salah satu lenganku. Wajahku miring menghadap kertas-kertasku yang kutindih dengan batu, dengan buku atau dengan mistar panjang. Tetapi yang kulihat sekarang adalah motel itu.
Motel itu kukenal dari rekan sekantorku, yang menceritakan suatu peristiwa yang terjadi atas diri tetangganya. Tetangganya mempunyai seorang istri yang galak, yang cepat naik pitam. Pada suatu hari, ketika istrinya sedang gondok karena uang belanja habis lalu sang istri sedang bersiap ke rumah gadai, suaminya bertanya: akan kemanakah dikau, sayang?”
“akan keluar cari uang,” jawab sang nyonya. “akan jual tampang ini sama orang berduit!”sambung sang nyonya dengan muka yang bengkak.
“ha-a, deh, pergilah,” sang suami setuju. “tapi jangan banyak-banyak: sepuluh orang saja!” lalu sang suami bersiul-siul.
Mendengar itu gelas yang berisi kopi, di lemparkan sang nyonya ke baju sang suami. Di sambung lagi dengan garpu, oh, maka sang garpu pun mengaruk lengan sang suami.
Tetapi semua itu belum cukup. Sang nyonya menarik dan mendorong sang suami keluar pintu lalu pintu di bantingnya. Bukan main!
Terhuyung-huyung sang suami mencari uang hari itu dengan entah cara kilat, entah cara silat barangkali dan ia berhasil. Lebih dulu minum alkhol sampai tenang tentram. Kemudian ia naik bus tenang-tenang dan duduk dalam senandung senja menghibur diri berlara-lara di atas bus yang berlari, berhenti, berlari.
Keanehan dirinya dirasainya, lalu ia minta maaf kepada tetangganya, seorang wanita cantik. Wanita itu tidak menggubris. Ia sibuk juga dengan persoalannya.
Dan laki laki itu tidak peduli juga: Ia bertanya apakah wanita itu orang Australia, atau Norwegia atau Amerika Latin. Wanita itu mengelak: “Saya bukan orang asing.”
“Mengapa Zus membawa bawa pakaian mahal ini mahal ini dalam keranjang arang ? luauch !”.
“Baru habis berantam sama suami jahanam !”
“Waduh !” Tanamnlah dia di hari Zus!”
Laki laki itub mulai usil. Dari pada usil sama istri penaik pitam, lebih baik usil sajalah sama teman penumpang bis.
Begitulah barangkali inspirasi yang terisi di benak yang telah digoyang wisky. “eh, tetapi mengapa sampai berantam ?mungkin Zus penaikpitan dan suami Zus suka bergurau, suka usil.”
“Suami saya lulus universita, bekerja di perusahaan asing, kecantol sama Sekretarisnya, perempuan Zambua.”
“Istri saya juga orang Zambua. Lihat ni baru digaruknyab lengan saya dengan garfu” kata laki laki itu memperlihatkan berkas garukan garfu di lengannya. “Orang Zambua memang brengsek.”
“Benci, deh.” Katanya. “Saya akan ke pengadilan besok.”sambungnya sambil members bereskan pakaiannya yang berada di keranjang arang. Rupanya amat parah amarah Sang wanita, sehingga segala benda benda pembungkus tubuh itu tidak lagi menjadi perhatiannya. Yang penting adalah amarah itu sendiri.
Laki laki berbenak wisky itu berbnah diri, karena sang wisky member asosiasi yang tidak tidak: jangan jangan amarah yang dibawah dari rumah dilemparnya kepadanya. Bukankah menurut pengalaman, kalau perempuan lagi marah marah, betul betul seperti singa ?
Tetapi tiba tiba sang wanita itu bertanya: “Istri saudara dari Zambua, bagian mana ?”
“Zambua utara” kata laki laki itu.
“Kalau begitu sama dengan sekretaris suamiku.”
“Pantas, sama tempramenya”
“Saudara dari mana ?” Tanya wanita itu.
“Dari kolam tiga” kata si Lelaki.
“Zus tinggal di mana ?”
“Saya dari kolam 4” si perempuan memandang si Lelaki. Mukanya yang tadi angker tegang, sekarang memandang Sang lelaki sambil tersenyum manis. Tetapi dasar lelaki usil, yang lebih menjadi usil kalau dimarah bini dan benaknya sudah kena oleh Wisky. Semua yang dibicarakan tadi adalah semua yang dikarang karang saja untuk mengisi waktu dan menghilangkan kedongkolan yang diketemukannya di rumahnya yang dibawahnya kemana saja bernama benak Wisky.
“oh ! sama sama kolam, sama sama kecebur, kecebur.” Kata si laki laki.
“tapi bodoh amat. Sekarang aku kepingin mencari ketenangan di taman. Duduk memandang pantai malam malam sampai pagi. Itulah obat yang paling baik untuk mencari ketenangan.
“Saya biasa begitu.”
“masa begitu.”
“Saya belum pernah begitu”
“Mesti mencoba. Pantai dan laut malam adalah tempat kita melepaskan segala kedongkolan,” kata lelaki itu.
Kemudian keduanya diam. Rupanya semuanya hanya sampai ke gendang telinga, karena si wanita muda itu kembali kepada ketegangannya dan si lelaki kepada benak wiskynya.
Keduanya berlainan dunia, selama lamanya, selama lamanya sampai akhir zaman. Tetapi ketika wanita itu turun dari bus, laki laki itupun turun. Kemudian sang lelaki memanggil taksi.
“Kolam empat,” kata wanita.
“Tidak, tidak enak rasanya kalau Zus pulang ke rumah orang tua denga keranjang arang,” kata si lelaki itu. “Kita langsung ke pantai saja. Besok pagi saya akan membelikan anda sebuah tas.”
Dan seperti kena magnit, Sang wanita menuruti saja ajakan si Lelaki. Soalnya biasa dimengerti bahwa wanita itu dalam keadaan terapung apung, wanita itu dalam keadaan dendam, dan lain lain lagi.
Taksi meluncur menuju pantai dan disana keduanya duduk di bangku pantai di bawah payung ilalang, berbicara terapung apung, bercengkrama terapung apung, sampai dengan suatu saat mereka mengganti, perseneling lalu kendaraan pantai terapung apung menuju motel itu.
Itulah cerita kawanku. Oleh karena cerita itulah maka aku mengetahui bahwa motel itu adalah tempat yang bagus untuk bercengkrama. Tetapi soal motel itu bukan apa apa. Ia adalah benda mati yang netral, yang bisa saja menerima bajingan, pelacur maupun nabi. Yang aku pikirkan sekarang adalah manusia yang memasuki motel itu. Tetapi persetan dengan manusia laki laki karena sekarang yang aku sedang pertimbangkan adalah seorang perempuan yang bernama Monika.
Menurut cerita, wanita muda yang lari dengan keranjang arang itu, adalah betul betul arang yang sudah menjadi debu: Suaminya mengusir dia, karena tidak setia dalam perkara menjaga kebersihan badan suami istri. Itulah sebabnya maka suaminya kontan membelokkan perhatiannya kepada sebuah kebersihan baru yang setiap hari berada satu kantor dengannya.
Alangkah sedinya hati melihat keretakan yang demikian itu tetapi apa boleh buat seorang istri yang keluar dari rumah dengan pakaian yang dimasukan dalam keranjang arang, begitu bertemu dengan lelaki tidak dikenal, begitu cepat bisa dijerat ke pantai.
Sungguh terlalu cepat semuanya berlangsung. Sungguh ia seorang perempuan yang tak setia kepada dirinya sendiri. Sungguh tragis.
Dan Monika pun secepat itu ku bawa ke pantai lalu dengan cepat bisa dibantai oleh seorang lelaki yang belum pernah dikenalnya secara mendalam.
Ini sangat mengkuatirkan, ini sangat meragukan, ini sangat menakutkan aku karena aku telah berjanji padanya untuk menikahi dia dan aku sangat mengenal sekali diriku sendiri bahwa aku adalah lelaki yang sangat memegang janji.
Tetapi bagaimana dengan masa depanku kalau Monika adalah seoranhg perempuan yang bejat.
Pikiranku terapung apung terus dalam kamarku yang kecil itu. Aku tak bisa tidur walaupun aku sangat lelah karena menghabiskan waktu dengan Monika tadi malam. Pada suatu saat pikiranku jadi kosong dan hanyalah mataku yang terbuka memandang buku-buku yang kukumpulkan setiap tahun. Aku jadi ngeri tatkala mataku memagut sebuah panorama yang terdapat dalam sebuah buku yang pernah kubaca dan selalu kupakai dalam menyusun karangan-karanganku. Buku itu adalah buku ilmu jiwa abnormal. Ingatan dan pikiranku terpental-pental karena ditakut-takuti oleh istilah-istilah dan pengeretian-pengertian dalam buku itu. Barangkali Monika adalah seorang wanita promiskus. Biasanya wanita begini suka menjadi aktris film atau teater, penyanyi, pramugari, pelayan. Barangkali ia seorang anak perempuan yang histeris. Kalau ia berasal dari dunia-dunia itu, maka o, Tuhan, aku akan menemukan nasib yang sama dengan perkawinanku yang dulu. Celaka duabelas pangkat duabelas, aku! Kalau demikian halnya maka aku harus bersiap-siap mulai detik ini, untuk berenang ke tepi meninggalkan pusaran air yang maha berbahaya itu. Memang benarlah kata orang bahwa setiap lelaki lebih muda tercebur ke daan pusaran air, tetapi lebih sulit untuk berenang dengan selamat ke tepian. Hanya laki-laki yang jeniuslah yang menguasai seni menghindarkan diri dari pusaran air, dalam hal ini: perempuan yang abnormal. Aku ingat akan seorang kawanku seniman yang mengibaratkan dirinya sebagai lebah yang mencari gula di dalam botol. Sang seniman lebah ini tidak sadar ketika ia memasuki mulut botol yang sempit itu dan malah ia berseru “Eureka” tatkala ia menemukan dalam botol itu gula yang manis merayu tetapi ia telah kenyang dan bersiap terbang pula ke sarangnya, maka sadrlah ia bahwa ia berada dalam botol. Dengan susah payah ia berusaha untuk ke luar tetapi selalu gagal. Haya dengan mukjizat yang sampai hari in sangat rahasia baginya sajalah, maka ia dapat ke luar dari dalam botol itu dan sampai hari ini ia bersumpah pada dirinya : jangan, janganlah cari-cari risiko yang berat bilamana ada perempuan yang latar belakang hidupnya yang tak menentu seperti kuntilanak lewat di depan mata dengan senyum terkulum madu.
Dengan buku yang menakutkan itu dalam hubungan menduga – duga siapakh sebenarnya Monika aku telah banyak dapat uang, sebenarnya. Misalnya, pada suatu periode tertentu dalam karierku sebagai penyorot film, aku sangat keranjingan akan akan film-film komersil mandarin yang mengambil tema-tema abnormalitas, destialisme, lesbianisme, schizopherenia, histeria dan banyak lagi. Tema-tema ini sangat bagus untuk kisah-kisah drama. Aku sering mengeluarkan air mata duka yang niskala memandang nasib manusia dalam sarang laba-laba yang demikian. Semoga Monika tidak berada di sana. O, Tuhan, semoga Monika adalah seorang wanita, yang normal jiwanya walaupun nasibnya telah menjanda beberapa kali-janda berganda.
Aku merokok. Kamarku terasa kering entah karena pikiranku entah karena memang aku haus. Aku bergerak secara otomatis membuka jendela dan memandang ke warung yang tidak jauh dari kamarku itu. Setelah aku berteriak minta kopi pada pelayan warung itu, aku berbaring kembali dan mataku menerawang loteng.
