Seutas Benang Cinta

VI

            Kalau aku berkata bahwa aku sangat bersyukur kepada Tuhan maka hal ini bukan klise. Hal ini disebabkan karena seekor lebah telah mendapat jalan ke luar dari botol madu. Aku telah mendapat jalan ke luar dari sarang laba-laba, karena aku mendapat jawaban dari Australia bahwa aku diterima bahasa dan kesusastraan negriku di benua itu.

Jiwaku berloncatan girang awang gemawan selama beberapa jam setelah membaca surat ari Australia itu. Aku jadi sehat dalam beberapa hari sesudah itu tetapi kemudian hatiku jadi kacau. Pada suatu malam aku bangun memandang Monika yang sedang nenyak.

Kuambil sebatang rokok, sebuah buku, lalu aku membacanya tenang-tenang atau lebih cepat : aku membacanya untuk menenangkan kekacauan pikiranku. Tetapi aku tak bisa tenang karena mataku yang memandang wajah yang sedang tidur itu membuka lagi suatu percakapan tentang sebuah dunia wanita yang penuh dengan rahasia. Dan aku pun berbicara sendiri dalam hatiku dengan wanita itu, dengan Monika.

“Monika! Sebenarnya aku akan segera meresmikan kehidupan bersama di bawa satu atap ini, tetapi mafkan sajalah aku,” kataku dalam hati sambil menarik nafas, sambil melemprkan rokok yang belum memuntung ke sudut kamar. Hatiku jadi terpukul melihat wajahnya yang manis itu.

“Aku tiba-tiba menjadi sedih Monika, untuk meninggalkan kau,” suara hatiku merawan diriku. Aku bangun dari dudukku lalu berjalan ke sudut kamar dan mengambil kembali punting rokok itu. Kuisap rokok itu, kuhembuskan rokok itu. Hatiku merasa sangat berat.

“Bagaimana kalau aku menutup mata, menulikan telinga, melawan luka yang sudah terbela dalam hatiku? Begini saja,” aku menarik nafas.

“Kita harus segera menikah di catatan sipil. Kemudian kita berangkat saja ke Australia.” Kata suara hatiku. “Aku tidak samapi hati meninggalkan kau bagaikan induk ayam yang mengais-ngais makanan siang dan malam diikuti oleh anakmu yang menciap-ciap. Demi Tuhan, aku tak mau. Aku sangat mencintaimu.

Barangkali ini suatu cinta neurotic karena aku identikkan kau dengan ibuku yang juga seorang janda, tetapi aku sadar akan perbedaanya. Cinta neurotic seperti kata orang adalah cinta yang menuntut agar kau bertindak seperti semua atau sebagian dari tindakan ibuku dahulu, tetapi lihatlah Monika, aku telah menurut semua kemauanmu sehingga aku sampai di rumah ini. Aku telah mengambil bagian dalam ketegangan hidupmu dalam rumah ini. Aku sangat iba pada rumah ini dan kondisi orang-orangnya.

Aku sangat simpati terhadap ibumu: setiap suami yang datang, terpental ke luar karena tak tahan. Setiap anak yang lahir dari suami terdahulu, lahir tanpa ciuman terima kasih kepada seorang wanita yang menang atas pergulatan terhadap maut. Aku berterima kasih padamu, Monika, karena kau mau menerima aku, seorang pengembara seorang pencari cinta wanita. Dan aku telah berjanji padamu dan pada diriku bahwa aku harus member dan member. Bukankah cinta sejati adalah member? Uang dan emas tak ada padaku tetapi aku akan member seluruh kreativitasku padamu. Aku harus memberi mata air kehidupan dalam batinku itu. Dan ini aku kira lebih dari member secara transaktif: bayar kontan dengan uang, lalu lari sehingga hilang perih batin. Bukan?”

“Aku akan memberimu penghargaan yang bersumber dari mata air batinku, aku akan menghargai kau sebagai adanya kau, sebagai wanita, ibu dan istriku. Aku akan memberimu perhatian yang wajar maupun perhatian ekstra (karena kau dalam keadaan sakit setelah sekian orang mempersatekan kau), perhatian yang bersumber dari lubuk hatiku yang paling peka.”

“Aku akan mengumpulkan pengetahuanku tentang dirimu, tentang duka nestapamu, tentang temperamen dan karektermu. Aku akan mengumpulkan semuanya dengan kemampuan intelekku, dengan segala kemampuanku untuk memahami dunia di luar diriku. Aku akan dan harus bertanggung jawab secara sukarela, iklas dan menurut kemampuanku, Tanggung jawab yang membersit dari mata air kalbuku, akalku dan tenaga fisikku.”

“Okey. Kita ke Australia bersama!” lalu aku bangun dan mencium pipinya dan duduk kembali. Aku sangat terharu malam itu. Simpatiku sudah melibatkan aku. Aku telah menjagedi satu dengan Monika.

“Dor!” tiba-tiba aku terperanjat sebab pintu digedor dari luar. Pintu itu tidak terkunci memang, dan tiba-tiba kulihat sepasang mata singa berbinar-binar padaku. Dagunya digoyang-goyang.

“Ha? Masih duduk saja?” Tanya ibu Monika. Aku tak menjawab.

“Siang nganggur, malam nganggur.” katanya lau bergerak membuka lemari, memandang radio di pojik kamar, kemudian menyiram sinar yang menyilaukan hatiku. Tiba-tiba saudara-saudara Monika masuk. Semuanya memandang aku. Aku jadi gemetar.

“Ada rencana lari lagi? Malam-malam mau kabur dengan barang-barang dalam rumah ini untuk dijual keapada tukang loak?”

Aku tidak menjawab. Mereka keluar dari kamar satu-satu dan di saat itu aku bukan laki-laki lagi. Aku menangis.

Malam itu aku tak bisa tidur sekejappun. Aku mondar mandir bingung; gelisah cemas dan entah apa lagi. Tanganku meraba-raba entah apa, oya, buku-buku yang berderet di kamar itu. Aha. Ada sebuah atlas tua di sana dan sebaiknya aku memperhatikan peta benua Australia saja. Aku membuka peta itu dan sebuah benua baru aku temukan.

Di dalam atlas itu terselip beberapa lembaran sobekan buku harian Monika. Beberapa hala dan nama dalam buku harian itu menggoncangkan mentalku betul-betul. Aku masih hafal semuanya:

“Lembur. Ketika kapal berlayar. Alex berpesan bahwa ia akan membawa oleh-oleh dari Singapura. Aku tak peduli, biar ia mempunyai istri sekalipun.”

“Lembur malam. Perusahaan Pelayaran tempat aku bekerja selama enam bulan ini membeli kapal baru. Denagn A, nakhoda yang mengajak aku makan malam, lalu berdansa di pantai. Aku tidak percaya padanya. Tapi apa boleh buat.”

“Cuti sakit. Miskram. A tidak bertanggung jawab.”

“Surat dari Hongkong. Ia ke Tokio.”

“Bodoh amat. Masih muda saja kok.”

“Kesepian.”

“Nonton dengan U. pulang lagi. Dimarahi.”

“U menjebak aku ketika aku bersama K. tapi keduanya saling menolong melepaskan U dari cengkramanku. Keduanya licik memang. Tapi tidak apa-apa, aku bisa menjaga rahimku.”

“Orang rumah curiga. Pakian dibawa ke rumah Halima, diganti di sana; dijemput Af dengan mobilnya.”

Oh, oh……. Otakku. Menggema terpelanting, tanganku kaku, tapi aku berusaha menutup atlas itu lalu kuletakkan ke tempatnya semula.

Stop! Aku tidak jadi membawa Monika ke benua Australia.

Stop! Aku tidak bisa menjadikan Monika Nyonya Trias. Maaf saja Monika. Aku sekarang bebas dari segala. Kau sekarang sendiri dan aku pun sendiri. Demikian coloteh batinku malam itu.

Malam itu aku tidur. Sebelum meletakkan kepalku yang puyeng aku koprol sebentar entah karena apa, barangkali karena aku berbahagia dengan keputusanku meninggalkan dia dengan alasan yang kuat, dengan keputusan yang suci karena justru aku telah mempunyai alasan. Bagiku Monika jelek untuk dijadikan istri. Itulah yang membikin aku harus meninggalkan dia. Aku harus mengambil jarak, walaupun aku kasihan dan simpatin pada nasibnya sebagai seorang wanita manis yang harus mencari makan untuk anak-anaknya. Aku tidak boleh lupa, bahwa aku harus sehat jiwa dan raga untuk bisa mencari makan untuk anak-anakku. Aku harus mengambil jarak dari Monika agar bathinku tidak cemburu ngeong-ngeong sepanjang hayat. Aku harus berubah simpati menjadi empati, menjadi laki-laki yang memiliki mental yang kuat. Dan kekuatan itu harus dikumpulkan dalam jarak tertentu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *