“Stop! “Teriak Monika tiba-tiba lalu berdiri dan berjalan menuju kolam. Ia meniti sebuah titian beton yang meliuk bagaiakn huruf S di tengah-tengah kolam… titian beton itu cukup untuk dijalani oleh satu orang saja karena itu aku duduk memandang dia berjalan dengan dagu terangkat marah ke sebrang kolam. Aku serentak bergerak mencegatnya di ujung titian sana, kea rah tujuan Monika. Oh! Aku lihat dia terapung-apung bagaikan seeokor burung belibis yang liar di permukan rawa. Aku menjemput dia di ujung titian, tetapi ia membalik lagi berjalan ke tengah kolam. Aku membuntutinya dari belakang.
“Monika; Monika, “aku berkata pelan. “aku sudah bertekad untuk mengangkatmu dari kondisi kesatean itu. Percayalah. Engkaulah istriku de fakto dan de jure nanti. Apa lagi yang kau harus risaukan ?” kataku pelan mengalun di atas kolam Taman Kebudayaan.
Monika berdiri dan membalik. Wajahnya ku pandang: ia tidak memandang orang yang sedang menatap wajahnya tetapi memandang sesuatu yang terapung-apung dalam panorama nasibnya. Kulihat air matanya telah membasahi pipi: tiba-tiba, ia roboh ke sebelah kanan. Aku menolongnya tetapi tiba-tiba keseimbanganku terganggu sehingga badannya menarik aku ke kolam. Kami sama-sama tercebur ke air dan nampaknya dia tak sadar atau setengah sadar sehingga yang kukhawartirkan adalah kepalanya yang memiliki sebuah hidung yang manis, yang bisa menghirup isi kolam itu. Aku segera mengangkat dan kumuatkan ke atas titian yang pas untuk satu badan manusia itu. Aku segera memberinya pertolongan pertama. Tiba-tiba saja, empat atau lima orang seniman aku bukan sudah berada di atas titian itu.
“Tolong, Dik, tolong”, kataku pada seorang yang paling depan. “ Kenapa, bung?”Tanya seorang itu.
“Dia roboh, aku menolong, aku juga roboh ke kolam”, kataku.
“Mengapa sampai robob?” Tanya seorang yang suaranya suara wanita.
Yang paling depan berkata: “Mungkin ada persoalan pribadi,” lalu ia bangkit berdiri. “Bulan yang lalu ia pacaran di sini, di Taman Kebudayaan ini dengan seorang teman saya, si Rima, seorang wartawan foto. Monika merangsang dia dan membawanya ke rumahnya. Ibunya memergoki mereka. Kawanku dimaki: anjing, anjing! Setelah itu, kawanku angkat kaki seribu langkah dan Monika mengejarnya ke kantornya dan di sana di depan orang banyak ia pingsan begini. Tidak apa-apa. Dokter mengatakan kepada kawanku bahwa ia rada-rada histeris.”
Mendengar itu, aku jadi pusing seketika. Tetapi aku tahan saja. Aku perkukuh diriku untuk menahan emosiku.
Aku duduk mengusap-usap rambutnya yang basah beberapa kali, sembari tiba-tiba aku harus mendengar teror baru: “Ha-ah!” seru sebuah suara perempuan paling belakang. “Ketika Kama sedang sibuk dengan Oedipus ia pacaran dengan wartawan foto itu. Ia puas dan kasihan pada Kama yang murung saban sore di bawah pohon mangga. Terlalu, deh, si Monika ini. Guru ilmu jiwa kami bilang banyak wanita menderita penyakit tetapi saya bilang, Cuma aktris kita ini, Monika,” kata sang wanita muda itu, lalu: cepat-cepat panggil ambulans.”
Monika membuka matanya. Dia berusaha bangun tapi tidak bicara. Aku segera memuat Monika di atas kedua lenganku dan berjalan pelan-pelan meniti titian beton itu.
Iakn-ikan berlari di bawah, sementara aku berlanan diiringi oleh seniman dan seniwati. Aku membawahnya ke sebuah rumah karyawan Taman Kebudayaan. Alangkah kuatnya Monika ! ia tiba-tiba jadi segar tampaknya ! di sana aku meminjam pakian dari istrinya, lalu Monika pun berganti pakian setelah ia mandi.
Sudah tentu aku harus membisikkan pesanku kepada temanku suami istri bahwa nantilah, nanti jika tiba masanya barulah aku menceritakan sebab musabab musibah ini, nantilah, nanti aku akan menceritakan pada suami istri itu, mengapa seniman dan seniwati Taman Kebudayaan menangkap aku basah-basah di tengah kolam.
Aku ingin segera menolong Monika mencuci dan menjemur pakiannya tetapi ia menolak. Ia sudah jadi sehat dan kuat sekarang untuk melakukan segala pekerjaanya sendiri. Aku jadi senang juga duduk sendirian di teras depan rumah kawanku tetapi kini barulah aku dapat mendengar debut jantungku yang memburu karena sebuah teror yang sesungguhnya cukup besar dalam hidupku. Aku duduk tercenung-cenung berdebar-debar sendirian tak ambil peduli kepada siapa-siapa, karena semua orang telah pergi entah ke mana.
Tiba-tiba pelayan membawa aku minuman. Aku menoleh ke dalam. Monika sudah diberi minum oleh istri temanku. Liamsi temanku tak Nampak. Di manakah temanku ? Aku berjalan masuk tanpa bicara, dan dari seberang meja, aku melihat bahwa temanku sedang mewawancarai anak-anak yang menemukan kami. Atau bukan wawancara. Barangkali mereka berbicara soal lain. Tak tahulah aku. Aku sedang bingung.
Kemudian, aku dengar istri temanku berkata : “Baring-baring sebentar untuk menghilangkan ketegangan,” katanya sambil menarik lengan Monika. Monika bangkit dari kursi, lalu tersenyum kepada sang nyonya, kemudian ia tersenyum padaku. Aku kembali ke teras depan dan duduk menghirup teh panasku.
Setelah kurang lebih sepuluh menit lamanya, aku menanyakan Monika. Monika telah bangun dan members-bereskan mukanya dan rambutnya. Kemudian ia mendekati aku dan berkata : “Nonton yok.”
Malam itu kami minta diri lalu berjalan menuju Teater Tertutup, membeli karcis dan menonton. Kami tidak terlalu banyak bicara karena aku piker, Monika masih dalam keadaan sakit. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya, tetapi sebelum layar dibuka benakku penuh dengan macam-macam pertanyaan, antara lain, mengenai nama-nama baru yang kutemukan di tengah kolam. Siapakah kiranya mereka, laki-laki itu ? cemburu dari dasar bumi menggemuruh ketika aku memandang layar teater yang hitam itu, tetapi tiba-tiba aku jadi tenang karena wanita manis yang duduk di sisi kananku yang bernama Monika merapat memegang lenganku, dan ia meletakan kepalanya ke bahuku : ia kecapekan barangkali tetapi ketika aku tanya, ia bilang tidak. Aku mengulurkan tanganku lewat lehernya yang bagus, lalu aku memeluk lengan kanannya. Cemburuku pada nama-nama tadi jadi hilang karena kelembutan tubuhnya.
Layar buka setelah gong pembukaan berbunyi. Aku lebih memeluk dia keras-keras. Cahaya turun di panggung dan ruangan penonton pun menjadi gelap. Di saat itu aku memandang Monika yang matanya terbuka, seolah siap-siap menerima pengalaman batin laki-laki universal yang bernama August Strindberg. Aku agak khwatir juga, karena aku sedikit banyaknya mengenal Strindberg dari studi sepintas lalu dan rasanya ada semacam persamaan pengalaman terhadap perempuan. Entahlah, sejarah telah memberi nama pada proses kehidupannya, bahwa ia nanti akan kekuatan yang ada dalam diri perempuan, tetapi aku, dari perkawinanku yang dahulu melihat bahwa kekuatan setan yang ada dalam diri perempuan harus dimanipulir begitu rupa sehingga terjadilah jalan tengah yang baik, jalan yang tidak merugikan kedua belah pihak.
Akan halnya aku, aku telah menempuh jalan tengah itu : kami berpisah ranjang dan meja makan selama enam tahun, dan selama ini aku hidup dalam sebuah kamar yang berisi buku-buku yang member informasi mengenai pengalaman manusia dalam hubungan dengan perjuangan mencari cinta, keadilan, dan kebenaran.
Aku telah bekerja sendirian selama enam tahun, mencari makan untukku dan untuk anak-anakku sesuai dengan kemampuanku. Itulah yang kupikirkan menghadapi drama Strinberg sebelum kupusatkan perhatianku kepada pemain-pemainnya dan kepala segalanya.
Aku agak ngeri memikirkan Monika. Jangan-jangan ia akan pingsan lagi karena cerita Strindberg, cerita yang berjudul suami-suami adalah sebuah cerita mengenai wanita yang tidak jujur, manipulatif, tidak memperhatikan kemampuan lelaki untuk memasang jerat dan sekaligus menghukum wanita yang tidak setia. Kalau sekiranya Monika adalah seorang janda yang serupa mentalnya dengan wanita itu, maka ada dua hal : ia akan pingsan karena malu atau marah, atau ia akan menyadari kesalahannya lalau bertobat.
Tetapi tunggulah perkembangannya. Aku dan Monika memperhatikan dialog dua orang lelaki di atas panggung Strindberg. Yang pertama adalah laki-laki yang begitu percaya pada wanita. Keduanya mempercakapkan wanita itu, keduanya berdebat. Laki-laki yang kedua membujuk laki-laki yang pertama agar jangan, janganlah percaya pada perempuan itu, karena perempuan itu sudah terlalu parah dia punya mental maupun badan. Ia adalah sate. Dia adalah piala berbilir. Dia adalah perempuan yang makan dua pintu! Artinya begini: ia memperlakukan laki-laki pertama yang mempercayainya itu begitu lembut dan licinnya sehingga bagaimanapun laki-laki kedua meyakinkan temannya, ia tetap pada pendiriannya, bahwa wanita itu setia padanya.
