[dropcap]S[/dropcap]ekarang, kuserahkan jalan hidupku kepada Tuhan. Bagaikan sebuah benang yang terentang panjang dengan pangkalnya yang kuikatkan pada sebuah pohon asam di tepi sebuah kolam di sebuah taman, begitulah hidupku. Dan ujung benang itu telah terlepas entah di tepi sungai itu, enth di tepi pantai itu, entah di tepi benua mana, entah kemana ia meraih.Aku tak tahu. Begitulah cintaku. Hidupku adalah cintaku, cintaku adalah hidupku, tetapi betapalah pangkalnya, betapalah ujungnya, hanya tuhanlah yang tahu.
Sekarang aku hanya mengisi hari-hari berikut dari usiaku dengan berusaha menulis kenangan-kenangan yang manis, murung,lucu,penuh pertentangan, penuh perjuangan yang pahit dan kelegaan yang manis mengatasi kesulitan cinta dan senyum tersipu melihat potret-potret cintaku yang dahulu.
Kenangan-kenangan cintaku ini kuberi nama”seutas benang cinta” karena begitulah memang: cintaku bukanlah cinta seorang nabi yang dapat menyelamatkan dunia- cintaku hanyalah seutas benang sutra yang tulus, tapi apalah artinya kalau hanya seutas benang cinta selembut sutra yang pangkalnya berada di sebuah kolam di mana kami pernah bertemu dan ujungnya entah di benua mana, di laut mana?
Di tepi kolam itu kami pernah bertemu untuk pertama kali, lalu di pantai di tepian laguna, kemudian kami bersama turun ke lubuk hati, ke lubuk duka dan harapan, kemudian kembali ke seutas sutra-cinta-sutra yang terjalin diantara akar-akar ilalang dan ranting sejuta belantara dunia.
Sungguh manis cinta itu, berlangsung di tepi kolam taman kebudayaan, di kursi teater,di motel kemudian terpental ke gubuk gedek dalam kampong. Ya, sungguh manis cinta itu, menggapa tidak? Bukankah seutas sutra sangat indah dan manis di pandang mata?
Aku tak perlu mengatakan padamu negeri dan kota tempat berlangsungnya kisah ini. Boleh di mana saja, kapan saja, asalkan perlu di ingat catatanku ini bahwa kisah ini berlangsung di sebuah negeri tropic, di negeri kepulauan dengan perairan biru yang membasah badan membasuh cintaku
Kukira cukuplah sudah kata awalku ini, tetapi wahai, siapakah pelaku- pelaku kisah ‘seutas benang cinta’ ini?
Adapun protagonisnya adalah trias, seorang kritikus seni terutama film dan teater dan antagonisnya adalah seorang aktris teater yang manis, cerdas tapi nantilah, nanti saja anda melihat bahwa dalam kehidupan manusia selalu ada seutas benang cinta yang membelit kita dimana saja kapan saja.
