Hari ini tampak cerah. Barangkali tidak ada badai yang datang bagai mimpi buruk yang selalu menghantui tidur malam. Aku ingin sekali berjalan-jalan sedikit ke taman untuk sekedar membuang rasa bosan dan selalu penuh dengan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya.
Sesekali aku membuang pandangan ke luar rumah sembari mengawasi seluruh isi rumah yang selalu kacau. Mama dengan ocehannya yang tak pernah habis, dan bapak selalu saja ada cara untuk bertengkar dengan mama dan kami semua.
Setelah memastikan pekerjaan rumah sudah beres dan keadaan mulai tenang karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi di rumah, aku memberanikan diri keluar dari rumah. Dengan langkah pasti dan penuh kehati-hatian. Telinga dan mata masih setia mengawasi keadaan. Setelah agak jauh dari halaman rumah, aku mulai mempercepat langkah. Mungkin inilah kebebasan yang mestinya dialami oleh anak-anak seusiaku. Tapi tidak dengan aku.
Sesekalaku berlari kecil sambil merentangkan tangan mungilku, menikmati kebebasan yang setiap hari memenjarakanku. Beberapa saat setelah menikmati kebebasan ini, langit tampak mendung. Langit-langit di kampung kecil ini mulai gelap pertanda hujan akan turun. Beberapa bulan belakangan ini memang caca selalu tidak stabil. Kadang kala, matahari tampak panas dan tiba-tiba saja hujan. Mungkin karena pengaruh pemanasan global, aku dan mungkin ahli BMKG tak mampu memprediksinya. Kadang juga muncul hujan lokal.
Angin bertiup kencang menerpa pepohonan. Aku masih berlari kecil. Sesekali aku membuang pandangan ke langit mengantisipasi hujan lebih cepat turun dari langkah kakiku. Gerimis mulai jatuh perlahan-lahan. Aku membiarkan diriku basah sedikit. Sebagian anak kecil di kampung mulai membut jalur kali dengan tangan mungil mereka dan memastikan ketika hujan turun, akan melewati kali yang mereka buat. Mereka tampak bahagia.
Dibawah pohon beringin di samping jalan tapak menuju jalan raya, aku berteduh karena hujan melai lebat. Aku memainkan butiran hujan yang mulai membias lewat celah pohon beringin. Aku menyeka muka dengan tangan yang mulai membasah dengan air hujan. Di bawah pohon beringin ini pula, konon katanya pernah ada orang yang hilang, sehingga para orang tua tidak mengijinkan anak-anak mereka bermain di sini. Pernah juga ada kisah, seorang anak kecil yang bermain karet dan tiba-tiba jatuh dan patah tangan. Masyarakat di kampung kecil ini percaya, pohon beringin selalu ada penunggunya. Membayangkan itu semua, bulu kudukku mulai merinding.
Tak lama berselang, bunyi raungan kucing terdengar samar-samar di telinga dari balik pohon beringin semakin menambah rasa takut. Aku memandang sekeliling. Tak ada siapa-siapa. Hujan semakin lebat. Aku memberanikan diri, mengumpul semua kekuatan untuk mendekat ke arah datangnya suara. Hujan semakin lebat. Saat mengitari pohon beringin yang besar itu, bunyi raungan kucing mulai meredah. Aku berhenti sejenak untuk memastikan keberadaan kucing tersebut. Sepertinya kucing juga mulai menyadari bahaya dan aku masih dengan rasa takut yang masih sama. Aku memberanikan diri untuk melangkah perlahan. Terus menelusuri bentuk lekuk pohon beringin. Taka ada suara lain selain bunyi guntur, hujan dan derap langkah yang penuh hati-hati.
Saat hendak melangkahkan kaki melewati akar pohon beringin yang muncul di permukaan tanah, bunyi raungan kucing semakin kencang dan membuatku kaget. Ia meraung seolah melindungi diri dari bahaya. Aku hampir terjatu. Namun aku memberanikan diri untuk mendekat ke arahnya. Dalam hati sempat guncang. Barangkali, yang membuat orang hilang menurut cerita banyak orang di kampung kecil ini mungkin karena kucing ini. Kalaupun hilang di sini, barangkali aku bisa terbebas dari penjara keluarga. Barangkali bapak akan senang dan mama tidak akan lagi ngoceh panjang lebar perihal pekerjaan rumah dan kegiatan di sekolah.
Aku membungkuk perlahan dan mendekatkan tangan ke arah kucing itu. Aku membelai lembut bagian kepalanya yang sedikit basah akibat hujan. Setelah tak ada pergerakan dari kucing, aku memberanikan diri untuk mendekapnya dalam pelukan. Tak ada perlawanan. Sepertinya, kucing juga menyadari niat baikku. Aku mendekapnya erat-erat di bawah pohon beringing disaksikan hujan yang semakin lebat. Tak ada tanda-tanda hujan mau berhenti. Akhirnya, aku memutuskan untuk menembus hujan yang semakin lebat dan desa yang mulai gelap untuk kembali ke rumah.
*
“Odete, kamu dari mana saja? Sudah tahu pekerjaan belum beres semua sudah keluar-keluar tidak jelas.” Teriak mama dari dalam dapur saat mendengar bunyi gemercik air dari kamar mandi.
“Saya dari teman ema.” Jawabku seadanya. Aku buru-buru masuk ke dalam rumah setelah membersihkan diri seadanya. Sepertinya bapak sedang tidak ada di rumah. Pada jam seperti ini, pasti ia ke rumah temannya mecari tuak. Kalau tidak, sudah pasti tangannya yang kaku sudah melayang dipipiku. Dalam keadaan demikian,aku selalu menerima semuanya dengan lapang dada.
Setelah masuk ke kamar, aku membantingkan badan di kasur dengan pikiran masih terbayang pada kucing tadi. Kucing itu aku amankan di dalam kandang belakang rumah. Aku meraih ponsel dari atas tempat tidur. Barangkali ada informasi terbaru dari grup kelas. Teman-teman sekelasku selalu jail dengan hal-hal yang konyol.
Grup Kelas Jail
Hari ini
@markus_jail
“We….”
@nadus
Apa sih?
@markus_jail
Kalian tau gak?
Besok kita sekolah…
@Anda
Njir…. kalau itu semua orang jga tau kali…..
@markus_jail
Yoi, kan cuman sekedar informasi…
@Anda
Dadada… gua off yahhh…
Grop kelas ini memang kadangkala tak ada faedahnya. Banyak teman-teman yang jail. Namun aku selalu merasa ini bagian dari hiburan. Untuk sekedar melampiaskan emosi di rumah atau sekedar melepas rasa bosan. Aku memang termasuk salah satu siswa yang disiplin dan berprestasi di sekolah. Dan aku patuh pada semua tugas yang diberikan. Kalau saja ada teman-teman yang jail, aku selalu menghubungi guru mata pelajaran untuk memastikannya.
Hujan di luar belum redah. Aku masih terpenjaran dalam pikiran dan lamunan yang jauh tak tertempuh. Entah kenapa, aku masih terperangkap dalam lamunan tentang kucing yang ada di dalam kandang.
Kucing itu tidak biasa. Bulunya abu-abu keperakan, matanya bening seperti embun pagi. Setiap kali aku berusaha mengingatnya, ada sesuatu yang bergetar di dalam dadaku—perasaan aneh, antara iba dan takut. Aku tidak tahu kenapa aku membawanya pulang sore itu. Aku hanya ingat suaranya. Lirih, nyaring, seperti anak kecil yang minta tolong.
Karena terlalu pikiran, ak memberanikan diri ke luar mengambilnya dan membawa masuk ke dalam kamar. Sekarang, kucing itu duduk di lantai kamar. Tapi yang membuatku tak bisa tenang adalah tatapannya. Ia menatapku tanpa berkedip, seakan tahu sesuatu yang tidak aku tahu. Sesekali, suaranya terdengar seperti… suara manusia yang berbisik.
“Mengapa kau pulangkan aku?” begitu yang kurasa ia katakan.
Aku menelan ludah, mencoba menepis pikiran itu. Tapi bayangan tentang pohon beringin tadi sore tak mau pergi. Saat aku berhenti di tempat itu, hujan tak mau berhenti. Daun-daun bergerak tak karuan. Angin berhembus kencang disertai petir dan guntur yang dahsyat. Dan aku… aku merasa seperti dilihat oleh sesuatu yang besar, yang tidak tampak.
Tiba-tiba, suara dari balik jendela membuatku tersentak. Kucing itu berdiri tegak. Matanya kini bersinar kehijauan. Aku memberanikan diri untuk mendekat, tapi langkahku berhenti ketika kudengar bisikan pelan di telingaku:
“Dia milik kami.”
Aku menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi dari jendela, kulihat pohon beringin itu—ya, pohon yang jaraknya jauh di ujung desa—tampak jelas, seolah berdiri di depan rumahku. Akar-akarnya menjalar sampai ke teras, dan dari balik batangnya, tampak bayangan perempuan berambut panjang menatapku dengan senyum samar.
Kucing itu mengeong pelan, lalu tiba-tiba lenyap dari kamar. Yang tersisa hanya bulu-bulu basah dan bau tanah yang baru disiram hujan.
Aku berlari ke pintu, tapi udara di luar pekat dan berputar. Suara hujan kini berubah menjadi bisikan.
“Jangan bawa pulang yang bukan milikmu…”
Sejak malam itu, setiap kali hujan turun, aku merasa kucing itu masih berada di kamarku dan suarany ngeongnya selalu menjerit minta tolong.
Lira menutup mata penuh ketakutan ketakutan. Di luar, ngin berputar kencang, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.+++
Kolontobo, Ruang kelas XII, SMAS Ile Ape 29/10/2025












