Tuahn! Aku terlalu tertekan mala mini kamarku yang berisi buku-buku sudah kutinggalkan. Rumah yang sudah kukontrakan, dengan barang-barang dan buku-buku, sudah kuberikan pada seorang sudaraku dengan anak istrinya. Aku tidak bisa kembali tinggal dengan mereka, karena merekapun tidak setju dengan pilihanku. Aku tidak tahu, karena aku pergi. Uang pun sukar sekali aku cari sekarang, karena jiwaku terlalu tegang tenang karena suasana rumah Monika. Di sinilah pentingnya seorang istri atau kawan hidup : bantuan yang terbesar yang diharapkan oleh sang suaminya – seorang yang berurusan dengan huruf-huruf – adalah ketenangan. Mana bisa aku tenang mencari makan kalau aku berada dalam sarang laba-laba?
Aku harus menunggu mala ini. Barangkali salah satu laba-laba dalam rumah ini akan melilit aku. Aku harus menunggu, aku harus bejaga dengan sabar. Tetapi segala sesuatu mempunyai batas dan batas itu telah menyatu dengan sarang laba-laba: kalau kantukku sudah tak tahan lagi, maka barulah tiba batas kemampuan bekerja yang paling tegas. Aku jadi tambah lemas. Aku sampai kepada kondisi setengah tidur jadinya. Di saat itu barulah semuanya terjadi. Betul-betul terjadi.
Monika menggerakkan badannya. Dia menggeliatkan tulang punggungnya. Seluruh badan yang bagus menggeliat dengan tulang punggungnya itu betu-betul bagus. Semua ini kusadari setengah-setengah dan makin lama makin sadar seratus persen bahwa dia bangun dan duduk. Ketika itu aku harus terlentang: dengan kelopak mataku kubuat secipit mingkin sehingga dia tak tahu bahwa aku sedang memperhatikannya. Nampaknya dia memperhatikan aku. Karena itu aku menutup mataku rapat-rapat dan bernafas sebaik mungkin seperti halnya orang yang nyenyak. Sementara itu telingaku masih terbuka dan telingaku inilah yang menggerakkan semua kesadaranku. Sudah tentu malaekat itu jugalah yang turut bekerja. Monika menguap. Mengapa ia menguap pada hal ia baru bangun dari nyenyaknya? Kemudian kepalaku bergerak bersama bantal yang diangkat oleh tangan Monika. Semula aku piker bahwa semua ini adalah geliat kantuk, semua ini adalah geliat ranjang, sehingga aku terus menutup mata keras-keras, tetapi tiba-tiba malaekat membuka mataku.
Benar! Bencana itu ada di depan mataku: sebuah keris yang berkarat berisi racun keparat milik kordinator pelacur-pelacur kelas kambing rel sedang diangkat tinggi oleh tangan kanan Monika sampai ke titik kluminasinya dan ketika aku turun ke jantungku dan akan tertancap di sana, tanganku cepat menangkap tangan Monika. Kuplintir tangan itu dan segala puji bagi Tuhan Yang Mahabesar dan Penyayang karena aku terlepas dari pembunuhan oleh seorang perempuan yang pernah disatekan oleh sekian lelaki!
Keris itu terlepas. Tangan kiriku kupergunakan untuk mengebas Monika ke dinding. Kepalanya segera terangkat dan matanya yang bundar bagus seperti purnama, tiba-tiba berubah menjadi mata naga. Mata itu memancarkan api murka tetapi aku tenang-tenang saja mengambil keris itu lalu kubuang ke kolong tempat tidur. Tempat tidur itu terbuat dari kayu jati, berkaki rendah sehingga barang siapa yang memungut kembali keris itu harus merayap pelan-pelan. Sudah tentu aku tidak berani merayap ke kolong tempat tidur itu sebab kalau aku berbuat demikian maka ada kemungkinan keris lain atau pisau dapur atau gunting akan menancap lagi ke punggungku.
Aku tetap menatap Monika. Tuhan! Mata naga yang menyala-nyala itu tiba-tiba berubah menjadi danau yang penuh dengan linangan air mata perempuan. Air mata Monika menitik, mengalir dan mengalir. Pipinya yang putih seperti padang pasir di bawah sinar rembulan, mendapatkan aliran sungai yang ajaib. Aku jadi terharu lalu aku tenang-tenang membaringkan badan. Tidak ada gunanya bersuara. Suara manusia yang berasal dari kerongkongan yang kering keparat, lapar dan capek, pasti akan memancing hysteria Monika dan seluruh isi rumah di malam buta.
Malam yang tadinya gerimismakin gerimis rasanya. Aku kepingin beristirahat tetapi tangis yang terisak kecil itu makin lama makin menelan keharuanku. Aku menjadi panic. Laparku, capekku, semuanya telah berubah menjadi kepanikan malam. Kantukku telah terbang melayang entah ke mana. Malaekatku lebih serius menjaga aku. Aku terus berjaga, waspada. Aku terus awas ketika Monika bergerak : secepat kilat aku melompat mencegah dia keluar kamar karena terpikir olehku bahwa ia keluar mamngambil senjata yang lain. Di sana aku menghadang dia dan dia pun membalik lalu membungkukkan badan dan merangkak mengambil keris itu. Aku juga cepat mengikutinya merangkak untuk lebih dulu mengambil keris itu. Aku menahan tubuhnya yang kecil sambil tubuhku bergerak merayap maju, maju dan maju, sambil dicegah olehnya. Ketika tanganku hampir meraih keris itu, tiba-tiba lenganku lumpuh karena kesakitan yang luar biasa. Monika mengerahkan segala kekuatan rahangnya untuk menggigit lenganku. Sungguh-sungguh pernah terjadi dala sejarah, bahwa wajah yang bagus, manis, dan lembut, bersembunyilah rahang dan gigi harimau betina yang bengis.
Inilah ujian yang luar biasa buatku. Aku ingin berteriak minta tolong tetapi kesadaranku menghalangi aku. Aku kepingin mengebas dia seperti mengebas seekor tawaon, tetapi kesadaranku tidak mengizinkan. Terpaksalah aku menahan segala kesakitanku, sambil menatap keris keparat itu dan memperhitungkan kemungkinan kriminil yang bisa datang dari luar kamar kami, dari saudara-saudar Monika.
Tiba-tiba ketika giginya mengurangi tekanan, timbul pikiran untuk melepaskan diri dari bencana. Aku membisik padanya ketika giginya sedang nancap pada daging lenganku: Monika, apakah kau tidak cinta padaku? Kasihanilah aku, laki-laki yang sangat mencintaimu. Aku sudah membuktikan semuanya. Pertama aku keluar dari tempat aku bekerja hanya karena aku memilih kau, dan bukan seorang gadis yang dicalonkan kepadaku, oleh teman-teman . . . . aduh jangan nancapkan gigimu lagi . . . . aduh duh…..” aku menarik nafas legah karena tancapan itu selesai……”Aku sudah mengontrak rumah yang baru untukmu dan semua buku-bukuku sudah kupindahkan ke sana. Kau tidak mau dan karena itu kuberikan pada saudaraku. Aku jadi putus arang dengan saudaraku hanya karena kau. Aku sangat mencintai kau. Aku sudah datang ke sini, mengambil bahagian dengan sebuah neraka yang tumbuh karena perceraian ibu dan ayahmu. Aku sangat prihatin pada penderitaanmu. Aku bisa cari uang, karena aku cukup terpelajar tetapi ketahuilah Monika, aku bekerja dengan pikiran dan perasaanku terdalam, aku seorang penyorot kesenian. Kalau suasana dalam rumah ini begitu menekan, bukan salahku. Karena itu, tolonglah. Mari kita cari jalan keluar yang baik, tanpa kiminalitas. Oh, aku sudah cukup banyak berkorban untukmu, ”kataku dengan suara pelan hampir berbisik di kolong tempat tidur itu.
“Itu risikomu!” katanya menyentak.
“Lihat, Monika. Dengar, Monika. Cinta bukan transaksi daging. Cinta adalah jiwa yang menyatu, aga yang menyatu. Risiko ini bisa diatasi kalau kita bersatu sungguh-sungguh, dalam pemikiran untuk mencari jalan keluar.”
“Jangan lagi hanya mulut. Aku lagi terapung-apung sekarang. Hidup di rumah ini mebutuhkan uang yang banyak. Kau tidak ingat ketika melamar aku dan ibuku mengatakan: keluarga ini keluarga besar?”
“Aku dengar, tetapi aku segera berpikir bahwamkeluarga yang besar tak dapat dibiayai oleh seorang aktris teater negeri berkembang yang honornya seperti harga bonbon atau permen di took,” kataku. “Aku tahu,kau banyak menderita hanya karena kepingin berbakti pada ibumu, dan ibu membawa sejumlah putra-putri tercinta. Marilah kita bekerja sama mengatasi salib ini. Aku sudah bilang berkali-kali, ketika kita menghadapi kemelut di rumah ini: berikanlah ketenangan pikiran dan emosi.”
“Aku hanya marah padamu karena informasi terakhir tentang kau,” katanya. “Aku dengar dari orang-orang di kantormu dahulu kau akan kembali pada istrimu, dank au mengatakan bahwa aku adalah pelacur,” kata Monika.
“Tidak,” jawabku. “aku melarikan diri dari rumah ini, hanya karena rumah ini, bukan karena masa lampau kau. Mafkanlah aku harus mengatakan ini: rumah ini perlu ditolong tetapi bukan dengan melibatkan diri ke dalamnya.”
“Tapi bagaiman,” kata Monka, “segala dalam rumah ini demikian mutlaknya. Begitu kau meminta untuk pindah, teror akan terjadi dan inilah yang kau takutkan,” kata Monika sambil terisak-isak.
Tanganku yang satu menyeka air matanya dan tanganku yang lain, pelan-pelan mengambil keris itu lalu aku menyisipnya ke papan tempat tidur itu.
“Ibuku adalah dewa di rumah ini. Aku benci juga kepadanya. Tapi bagaimanapun dia ibuku,” kata Monika.
“Aku mengerti. Ketika ayahmu membuang dia dan kalian seumur hidup, karena terornya kepada ayahmu, karena histerianya yang tak mungkin mnerima dialog, maka kalian menjadi anak ayam yang mengais-ngais makanan di kota besar ini. Oleh karena itu aku mengerti cintamu pada ibu semenjak kau kecil hingga besar,” kataku dengan penuh kesungguhan hati. “Hatiku turut menangis melihat duniamu. Tetapi yang aku minta Monika, ambillah dulu jarak,” kataku. “Aku sangat cinta dan simpati pada nasibmu akan kuberi segala kemampuanku dalam bidang ekonomi dan pemikiran. Asal, ada jarak.”
