suluhnusa.com_Cerpen Gerson Poyk yang secara khusus dipersembahkan untuk para nelayan di Lembata.
Ketika perahu penangkap ikan paus itu turun ke laut, Anna mulai mengerjakan pekerjaan rutin.
Pekerjaan rutin yang harus dilakukannya agak ringan sebab belum tiba musim menanam ladang dan telah lewat musim panen. Pekerjaan rutin itu ialah dua atau tiga kali seminggu pergi ke semak belukar di lereng bukit mengumpulkan kayu bakar, kemudian masak makanan untuk anak-anaknya yang empat orang yang sedang bersekolah di sekolah misi Katolik yang terletak di lereng sebuah bukit karang yang tandus.
Setelah semuanya selesai, maka Anna menuju ke bawah pohon-pohon kelapa dan pisang, pohon pinang dan kemiri serta ketapang untuk memulai suatu pekerjaan yang paling dianggapnya suci. Ia menenun kain ikat dengan kembang-kembang yang paling indah untuk dipakainya di hari Natal yang akan tiba beberapa bulan lagi.
Anna duduk menenun di atas tikar yang digelar di atas pasir, lalu dihisap oleh angin laut yang menjadi sejuk karena menyelusup lewat daun-daun pohon. Desir gelombang ke telinganya tidak disadarinya, tetapi desir itu secara otomatis menggerakkan tangannya yang menyentak dan menyentak benang, gemulai tangannya yang memasukkan dan mengeluarkan benang.
Ia sangat bahagia menggerakkan semua yang perlu digerakkan. Jiwanya sedang bergerak-gerak dalam suatu kebahagiaan rahasia berdesirkan gelombang laut. Ia sangat bahagia bilamana perahu penangkap ikan paus turun ke laut.
Sudah menjadi kehidupan rutin bahwa suaminya harus turun ke laut menangkap ikan paus dan akan kembali membawa ikan raksasa itu untuk dibagikan ke seluruh kampung dan pulau kecil Lembata.
Anak-anaknya pun demikian. Mereka telah menjadi satu dengan kebahagiaan pulau kecil itu. Pagi-pagi ke sekolah, siang hari pulang sambil bermain pinang dan kemiri di jalan-jalan atau halaman bersih berpasir putih, atau mendaki bukit tandus mencari batang-batang pohon kesambi yang terbakar oleh api musim kemarau, api yang memakan bukit-bukit itu kalau musim kemarau tiba, kemudian membawanya ke rumah untuk dipakai masak ikan dan sayuran serta membakar ubi atau sukun.
Tatkala anak-anak Anna mendaki bukit-bukit tandus Pulau Lembata, mereka tidak lupa memandang ke laut, mencari titik-titik yang jauh. Dan bilamana mahluk-mahluk mungil segar itu melihat ada titik yang terpencil terapung sepi di bawah lengkung langit di sejauh kaki langit, maka mereka melompat-lompat girang.
“Itu Ayah, itu Ayah, oh Ayah, Ayah sedang mengintip dengan radar. Yang ada di hatinya adalah seekor paus yang lebih besar dari semua yang pernah ditarik ke pulau kita!”
Anak-anak sangat gembira dan bangga akan ayah mereka. Meskipun ayah mereka tidak memiliki perahu dan perlengkapan penangkapan ikan, meskipun ayah mereka bukan juragan, tetapi menurut cerita para penangkap ikan, ayah mereka adalah salah seorang nelayan yang berani. Dia melakukan segalanya.
Dia adalah laki-laki penancap tumbak ke rusuk ikan paus, kemudian ‘berjalan’ tergantung-gantung dengan tangannya dari perahu melalui tali tumbak menuju pundak ikan lalu menancapkannya lebih keras tumbanya ke dalam jantung ikan. Bilamana ikan paus itu kaget dan berenang menarik perahu itu, maka ayah anak-anak Anna yang berani itu tergantung-gantung ‘berjalan’ dengan tangannya kembali ke perahu. Sudah beberapa puluh ikan paus dibawanya ke desa pantai mereka, sudah berpuluh-puluh kisah keberanian sang ayah yang mereka dengar.
Mereka sudah tak menganggap semua itu suatu hal yang istimewa. Semuanya telah menyusup ke dalam citra kekanakan mereka. Dan mereka pun tidur dan bangun dengan kebahagiaan.
Biasanya, kalau anak-anak pulang dari sekolah, mereka hanya melemparkan kayu api yang dibawanya dari bukit, lalu mereka mencari sendiri makanan di dapur. Mereka tidak pernah mengganggu ibu mereka yang sedang menenun. Anak-anak sudah terbiasa, sebelum pergi bermain pinang dan kemiri mereka menanyakan ibunya apakah ibu haus.
Dan tiap kali sang ibu haus, maka anak-anak memanjat kelapa muda untuk ibunya, lalu menghilang ke arena permainan kemiri dan pinang. Anak-anak Anna sangat pintar dalam perkara bermain pinang dan kemiri. Kalau mereka menang, maka bukan sepuluh atau lima biji, tetapi sampai setengah atau satu karung kemiri didapat. Mereka menjual hasil kemenangan mereka, lalu uangnya diberikannya kepada ibunya.
Sudah lama suami Anna berada di laut lepas. Ia menganggap biasa saja walaupun terlintas juga proses deras dalam jiwanya. “Kalau pun hal itu terjadi lagi dalam hidupku, maka aku akan menyerahkan sisa hidupku kepada Tuhan.
”Demikianlah gumam jiwanya. Tangannya masih terus mendetakkan alat tenunnya, tangannya masih menggemulaikan benang-benang yang masuk ke dalam jalinan benang yang lain. Namun, di atas segala-galanya, jiwa Anna setelah sebulan suaminya mencari ikan paus itu di samudera dan laut lepas, mulai menenun kecemasan dan harap dalam bentangan sunyi seluas laut sekering bukit-bukit karang Lembata.
Setiap pagi, dalam menunggu kembalinya sang suami, jiwanya selalu bergumam sesuai dengan irama nasibnya dalam detak-detak alat tenunnya, dalam desir gelombang pantai.
Ah! Desir itu mengirim berita rahasia dari tengah samudera, dari titik mana, dari ufuk mana, entahlah. Anna menarik nafas, manakala capek dan selesai bergumam. Kemudian ia melanjutkan lagi. Tiada yang tahu bahasa kehidupan yang ditenun dalam dirinya.
Benang demi benang batin ditenun oleh pengalaman, oleh bukit-bukit ranggas Lembata, oleh laut dan dua perkawinannya yang menghasilkan anak. Ini suatu tenunan batin yang aneh.
Di desanya selalu terbentang benang-benang yang terbuat dari kapas yang sudah dicelup dengan warna-warna pulau, lalu menjadi kain ikat dengan motif-motif Lembata, tetapi di dalam dirinya ada yang lebih indah yang telah tertenun yakni ketabahan Anna menerima sunyi senyap laut yang luas, pulau kecil berbukit-bukit tandus.
Setelah kepergian suaminya itu, ia mulai menarik nafas dan nafas itu menarik benang-benang kenangan yang telah tertenun lama dalam jiwanya. Anak pertama adalah anak lelaki yang diperolehnya dari nelayan ikan paus yang perkasa.
Setelah sepuluh ikan paus yang tertumbak suaminya (oleh ayah anak pertama), maka suaminya kena cedera lalu dengan luka-luka laut yang parah suami pertamanya yang masih muda belia itu diangkut ke Lembata. Pukulan yang hebat betul bagi Anna yang masih muda.
Ketika rakyat berduyun-duyun mendapat rejeki dari laut, ketika rakyat membawa kapak dan parang dan ramai-ramai membagi isi, tulang dan minyak ikan paus, ketika itu, Anna yang masih muda tenggelam dalam perkabungan.
Sebuah selimut ikat yang ditenunnya ketika ia masih menjadi dara pantai yang jelita membungkus jenazah suaminya, lalu ia pun duduk dengan pakaian yang ditenunnya sendiri ketika jenazah disembahyangkan di gereja sampai dengan dikebumikannya nelayan muda itu ke pangkuan alam Lembata yang selalu dihisap oleh angin laut dan Roh Kristus.
Masa berkabung dilewati dengan tabah oleh Anna melalui kesibukan melahirkan anaknya yang pertama, kemudian memeliharanya dengan baik sampai dengan anak itu lepas susu. Kemudian ia meneruskan pekerjaannya yang paling bersifat wanita, yakni menenun dan menenun selimut ikat yang berwarna dan bermotif setempat. Ia tidak lagi sempat memikirkan tragedi suaminya dan anaknya yang tak berbapak karena ia telah terhibur. Nasib apa yang telah menimpa bukanlah suatu yang hampa.
Semuanya memberi kekuatan batin yang baru, yakni ketabahan dan iman. Ia malah makin rajin sembahyang di rumah atau di gereja. Ia malah makin akrab dengan Bunda Maria.
Pada suatu hari, ketika ia membawakan kain tenunnya ke pasar, ia bertemu dengan sebuah peristiwa yang merubah jalan hidupnya. Ia duduk bertetangga dengan seorang pemuda penjual dendeng ikan paus. Pasar sangat ramai ketika itu. Banyak sampan dan perahu datang dari pulau-pulau kecil lain atau desa lain, di antaranya ada seorang tuan bersepatu bot datang juga berbelanja. Tuan itu tegap dan agak kasar suaranya.
“Hei, berapa harga ikan asin ini?” tanyanya sambil menunjuk dengan sepatu bot. Beberapa dari bungkah-bungkah ikan paus asin itu disenggal oleh sepatu bot si tuan besar itu. Karuan saja sang pemuda pulau tandus dan penantang ikan-ikan paus itu jadi tersinggung.
“Pak, ini makanan, ini bukan cirit kalong. Kenapa bapak menunjuk-nunjuk dengan sepatu? Kalau mau, lebih baik injak-injak saja baru dimakan!” kata si pemuda.
Sang Bapak bersepatu itu juga tersinggung hatinya. “Apa? Pembeli adalah raja, tahu?”
“Tapi raja yang bodoh, Bapak ini!” kata sang pemuda. “Itu kulit yang membungkus telapak kaki Bapak tidak bisa dimakan. Apa sih! Ini ikan bernilai gizi yang tinggi, yang tidak usah dicari jauh-jauh dari luar negeri seperti Bapak punya sepatu yang dibeli dari luar negeri dengan uang Perhimpunan Anggrek Indonesia yang banyak,” kata pemuda desa yang tak bersepatu, tetapi tegap karena banyak makan dendeng ikan paus yang banyak nilai gizi dan vitamin itu.
“Ah! Sok tahu, lu! Kayak bersekolah saja!” katanya.
“Sekolah saya cukup baik. Tamatan SMP Katolik sana!” kata sang pemuda. “Kemudian saya jadi nelayan.”
Karena merasa pemuda itu mengalahkannya dengan kata-kata, maka sang Bapak merasa bahwa kewibawaannya dicoret oleh kata-kata anak desa nelayan itu. Sang Bapak menarik tangannya, lalu menempelengnya beberapa kali.
Sang pemuda diam.
Tapi jiwa Anna tidak diam. Ia jadi gempar mengingat pengalaman pamannya di zaman Belanda. Seorang polisi Belanda pernah datang ke pasar dengan kasar menginjak ubi pamannya yang sedang digelar di tanah pasar. Pamannya menegur, tapi sang polisi menendang semua ubinya. “Hei, jangan menutup jalanan!” kata sang polisi Belanda.
Ubi-ubi pamannya terpental seperti bola. Dan pada suatu pagi di suatu hari Minggu, ketika sang polisi sedang memukat ikan di pantai, datanglah pamannya dengan parang terhunus.
Aneh betul! Di pulau kecil ini harga diri lebih penting dari segala nilai yang pernah datang dan pergi. Polisi datang polisi pergi, sepatu datang sepatu pergi, tetapi harga diri tidak boleh terhina.
Laki-laki yang membawa parang itu yakin betul bahwa makanan yang suci sudah ditendang oleh sepatu yang dibeli di toko kelontong itu. Masa, barang yang dibeli dari luar negeri itu lebih tinggi dari barang yang dihasilkan oleh bumi pertiwi sendiri, dihasilkan oleh keringat yang membersit dari kerja dan kerja sebagai suatu sayap kehidupan ini?
Polisi Belanda itu telah menghina makanan, menghina kerja yang produktif dan batinnya merasa bahwa memproduksi makanan untuk manusia adalah suatu yang suci, maka ia jadi tersinggung. Ia jadi marah. Aneh betul. Pada suatu hari Minggu pamannya membawa parangnya menuju sang polisi Belanda yang sedang asyik berolah raga memukat ikan, sedang berdiri di lidah-lidah gelombang pulau. Di saat sang polisi sedang bahagia menarik ikan-ikan yang menggelepar berkilau seperti perak, di saat itu pamannya mengarahkan parangnya ke leher sang polisi Belanda itu.
Sang polisi membalik, dan mencabut pistol, mengarahkan ke jantung pamannya. Keduanya meninggal secara tragis di lidah –lidah gelombang.
Anna ingat betul semua ini. Ngeri! Anna betul-betul menjadi ngeri dengan temperamen orang sekampung halamannya, yang suka menyelesaikan segala ketersinggungan mereka dengan parang. Ia jadi heran, mengapa penduduk di pulau yang tandus dan penantang ikan paus di laut lepas ini jadi cepat naik darah. Oh! Pemuda penjual dendeng ikan paus itu harus diselamatkan!
Malam-malam si janda kembang, Anna, berpakaian rapi. Sarung ikat tenunnya sendiri dipakainya, lalu ia membawa lilin ke patung Bunda Maria, dan ia pun bersembahyang!
“Ya Bunda Maria. Bunda yang melahirkan seorang Putera yang penuh kasih sayang kepada sesama manusia, bahkan musuhnya sendiri. Petrus, nelayan muda itu sedang kalap dan dendam kepada seorang pemakai sepatu yang dibelinya dari toko China. Doakanlah dia! Berdoalah kepada Puteramu memberikan Roh Cinta kepada Petrus dan supaya ia tak sampai membunuh!”
Malam itu, dengan sebuah selimut yang baru ditenunnya, yang dibungkusnya rapi dengan kelopak bunga pinang, ia berangkat menuju gubug nelayan tempat anak muda Petrus tinggal. Angin laut sedang mengebas-ngebas atap daun ketika Anna membungkuk dan memasuki gubug itu. Jelaslah sekarang dugaannya bahwa Petrus sedang mengasah parangnya di bawah kerlip lampu minyak kelapa.
“Petrus!” panggil Anna dengan suara dan nafas yang hambar. “Apa yang akan kau buat dengan parangmu?”
“Tidak apa-apa!” kata Petrus.
“Kau akan mengikuti jejak para pembunuh di Nusa Kambangan?”
“Diam kau, perempuan!” bentak Petrus.
Anna membuat tanda salib. Petrus melirik kepadanya sambil mengasah parangnya terus menerus. Tetapi bagaimanapun, lirikan sedetik itu membuat jiwanya terpukul juga. Ia jadi terganggu seketika. Tetapi, ah! Arus dendam dan ketersinggungan lebih deras dari kehalusan mata parang yang telah sangat tajam. Telapak ibu jarinya memang dapat merasakan kehalusan mata parang.
“Rambut yang melayang liar pun dapat dipotong, apalagi orang yang angkuh karena sepatu!” katanya lalu berdiri dan memasukkan parang itu ke sarung yang tergantung di pingganggnya. “Apa maksudmu datang malam-malam di sini Anna?” tanya Petrus. “Nanti masyarakat bilang apa?”
“Demi Bunda Maria, aku pinta padamu supaya janganlah kau membalas dendam seperti perbuatan pamanku yang hanya karena sepatu,” kata Anna.
“Dendam? Apa itu dendam?” tanya Petrus.
“Kau jangan membunuh orang yang menyinggung hatimu dengan sepatu itu.
Sabarlah. Dengan sabar maka bara api akan datang ke atas kepala musuh,” kata Anna. “Engkau masih muda, masih lebih baik mempergunakan usiamu di pulau ini. Anak-anak dan penduduk pedalaman masih memerlukan ikan, daging dari ikan paus yang penuh gizi. Ini sarung ikat tenunanku sendiri. Pakailah baik-baik dan pergilah sembahyang ke gereja,” kata Anna, lalu Anna meletakkan sarung tenunan itu ke atas tempat tidurnya.
Malam itu Petrus berubah. Hari-hari berikutnya terjadilah suatu hal yang lebih dari perubahan malam itu. Kalau malam itu Petrus merubah niatnya untuk membunuh orang bersepatu yang menghina makanan yang suci, maka hari-hari selanjutnya iapun berada dalam jalinan cinta kepada Anna. Kemudian keduanya menerima sakramen pernikahan yang terletak di bukit sana.
Perkawinan keduanya berlangsung dengan penuh kebahagiaan, sampai dengan yang ketiga. Ditambah dengan anak dari perkawinan pertama Anna, maka Petrus harus berjuang di laut sebagai nelayan ikan paus untuk memberi makan pada empat orang anak, termasuk ibunya.
Itulah Anna, itulah Petrus. Sekarang, Petrus sudah lama berada di laut. Tapi Anna yakin, ikan paus yang ditumbaknya adalah ikan yang besar dan penuh dengan daya tahan. Biasanya ikan paus yang demikian akan menarik perahu itu mengitar-ngitari laut Sabu menuju perairan pulau Timor, Sumba dan Flores. Apakah sang ikan membawa mereka ke Samudera Indonesia, lalu jalan-jalan sampai ke Madagaskar atau perairan Australia?” gumam Anna. “Ah, lupakan saja!” ia menenangkan hatinya. “Toh ia akan kembali.”
Anna hanya menenun. Anna hanya memasak makanan untuk anak-anaknya yang masih bersekolah. Tahun pertama telah lewat, kemudian tahun kedua, tahun ketiga, keempat dan kelima.
Petrus tidak pulang-pulang, juga anak buah seluruh penangkap ikan paus itu. Teranglah bahwa perahu mereka sudah tenggelam di dasar laut Sabu atau Samudera Indonesia.
Anna semakin tua ketika anaknya yang pertama kawin dengan seorang gadis yang telah pandai menenun. Kini keduanya menenun saja di bawah naungan daun pisang, pinang, dan kelapa, di ujung lidah-lidah gelombang, ketika anak lelakinya turun ke laut mengikuti sebuah perahu baru penangkap ikan paus.
Anna menenun untuk cucunya yang sedang dihamilkan oleh menantu perempuan, sedangkan menantunya menenun untuk suaminya, putra Anna, nelayan yang muda dan perkasa . ***
(Ini salah satu dari 30 cerpen Gerson Poyk yang secara khusus dipersembahkan untuk para nelayan di Lembata)
