WEEEKLYLINE.NET_Inilah kisah tentang sebuah sepeda yang teronggok membisu di sudut ruang tamu rumah kami. Rantainya telah lama rapuh lalu beberapa waktu kemudian putus dan jatuh berserakan.
Lama sepeda itu berada di sana. Ditikam kebisuan yang sunyi. Tak ada yang sudi melapnya. Tidak juga aku. Sarang laba-laba merajai segenap jari-jarinya, membentuk lingkaran dengan garis-garis tegas menyerupai areal persawahan Lodok Lingko yang ada di tanah Flores sana. Tapi sudahlah, sekarang ia memang benda mati yang tak lagi berfungsi. Coba tengok beberapa waktu terdahulu, di masa yang telah terenggut oleh beragam cerita dan sepeda tua itu menjadi saksinya.
Syahdan, setelah menimbang-nimbang dengan segala pertimbangan yang matang, ayah memutuskan untuk meloak benda yang teronggok beku di sudut ruang tamu itu. Menurut ayah, kisahnya sudah tamat. Ia sama seperti manusia, lahir, bertumbuh, dewasa, tua, lalu mati. Semua atribut yang menyertainya akan ikut terkubur. Ayah memutuskan sebaiknya memang begitu, agar hal-hal yang menyakitkan dalam kisah yang terekam bersama sepeda tua itu, tak lagi menjadi beban pikiran di kemudian hari.
“Jangan dijual Ayah,” pintaku. “Jika di hitung-hitung jasanya cukup besar, bertahun-tahun ia mengantar Ayah bekerja sebagai guru, mengantar kami ke sekolah, menjemput ibu sepulang dari pasar dan mencarikan dokter tatkala tak satu tetangga pun peduli dengan permintaan tolong Ayah untuk meminjamkan motor ketika ibu muntah darah akibat tuberkolosis.”
Ayah merenungi ucapanku dan sepeda tua itu tetap membisu. Sarang laba-laba yang melingkar di jari-jemarinya semakin menguasai tiap sudut yang ada. Lelaki yang telah berusia tujuh puluh tahun ini tampak menimbang-nimbang keputusannya, menjualnya ke tukang loak atau tidak. “Ya, benar juga, selain kenangan tentang Ibumu yang telah tiada itu, ada hal yang membuat aku terus maju mundur untuk menjualnya.” Katanya lagi seperti bergumam.
Dan memang demikian adanya, sepeda tua itu boleh tersenyum sejenak, Ayah tidak jadi menjualnya, meski tidak bisa digunakan, ia melapnya seminggu sekali, wajahnya yang kusam mulai terlihat sedikit bersinar.
***
Malam tatkala mertuanya bertanya apa yang ia miliki untuk melamar kekasih hatinya, yaitu ibuku, ayah tertunduk lesu. ia hanya memiliki Surat Keputusan yang menyatakan dirinya sebagai Pegawai Negeri Sipil, namun surat itu hanya dipandang sebelah mata oleh mertua perempuanya, nenekku. Tahun lima puluhan, nasib yang diterima ayah dengan Surat Keputusan sebagai Pegawai Negeri Sipil, kurang menggembirakan, gaji yang ia terima hanya setahun sekali, untuk makan ayah menanam singkong dan jagung di halaman rumah dinasnya, ia juga memberi les bahasa Inggris dan aljabar pada siswa-siswi yang bercita-cita menjadi guru itu. Di situlah, di antara para murid yang diajarnya, mata ayah terpatri pada sosok gadis berambut panjang dengan raut manis yang sangat memesona, terutama lesung di kedua pipinya.
“Itu hanya selembar surat, kau sudah dua tahun menjadi guru di kota ini, tapi mana gajimu? Kau kos di rumahku pun sudah setahun tidak bayar-bayar. Lalu bagaimana kau akan membiayai hidup anakku kelak jika gajimu tak kunjung datang?” bentak calon mertuanya tatkala ia memberikan lembaran SK PNS untuk melamar kekasihnya yang manis, ibuku.
Mata ayah berputar-putar bagai lampion yang terbentur cahaya lampu petromaks di rumah bakal mertuanya. Sudah kepalang tanggung, batinnya. Perempuan bernama Martina, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, berlesung pipi dan memiliki rambut panjang sebetis, sungguh tak boleh beralih ke tangan lelaki lain. Otak ayah seperti mati pikir, ia salah tingkah. Tatapan Martina yang tajam dengan bentuk mata indah bak kristal yang berpendar-pendar itu, telah membuat ia bagai orang mati enggan hidup pun tak ingin bila tak bisa mendapatkannya. Gadis remaja yang menjadi muridnya itu seakan telah memanteknya dengan paku baja yang kokoh dan kuat.
“Dengar, Martina sudah punya tunangan, dia anak tuan tanah di kampung ini! Calon suaminya turunan raja, punya mamar (1) yang luas. Dia akan memberikan saya belis (2) lima puluh ekor kerbau, kelak mereka akan menikah. Jadi jangan coba-coba kau melamarnya jika kau tidak memiliki belis sebanyak itu!” ultimatum bakal mertuanya.
Begitulah, saat pohon-pohon lontar bergoyang lambat, saat tenun ikat Rote yang dimilikinya tak lagi memiliki arti, saat nira dan gula lempeng menjadi upeti ringan agar senyum tetap terkembang di wajah sang calon mertua menjajah ingatannya, penolakan yang diterima ayah membuatnya berbalik pergi dengan penuh dendam kesumat.
“Apa yang Ayah lakukan?”
“Aku membalas semua perlakuan Nenekmu, mertuaku yang materialistis itu dengan…”
Ayah mendengus. Ia menatap sepeda tua yang teronggok tak berdaya itu lebih tajam lagi. Kemudian, dengan sigap ia mengangkatnya dan menentengnya ke luar ruangan. Lalu diambilnya minyak kelapa dan kain lap usang. Sepeda tua itu kembali dibersihkannya. Namun rantainya yang sudah diperbaiki ayah, tiba-tiba rontok satu persatu, jatuh berurai ke lantai. Ayah memunggutnya dengan penuh keseriusan. Kemudian menyimpan serpihan rantai itu dalam kaleng bekas biskuit yang berisi minyak tanah.
“Dia sudah rontok dan tak bisa digunakan lagi. Untuk apa Ayah simpan di situ? Jadi dijual ke tukang loak?” tanyaku akhirnya.
Ayah tak menyahut. Semilir angin menerpa rumah yang dikelilingi dengan pepohonan lontar yang tumbuh subur di halaman depan. “Cepat panggil Ma’ Boi (3) dan suaminya, suruh mereka mengambil nira di pohon-pohon lontar depan rumah, gula lempeng yang mereka buat dari nira itu sudah mau habis. Esok Ayah akan ke kota mengambil pensiun untuk membayar gaji mereka!”
Ma’Boi dan suaminya Om Peter datang ke rumah ke esokan harinya. Mereka mengerjakan apa yang diperintah ayah. Sepeda tua yang terlihat semakin letih itu, ditaruh ayah tepat di bawah salah satu pohon lontar yang ada di halaman. Semilir angin pantai Nembrala, pulau Rote, menerpa catnya yang berkarat. Om Peter hendak memindahkannya namun suara lantang ayah terdengar dari balik pagar sebelum lelaki paruh baya itu melaksanakan niatnya.
“Biarkan sepeda itu tetap di sana. Saya telah membeli rantai baru, mudah-mudahan pas!” kata ayah.
Sesaat kemudian, ayah dengan wajah sumringah mengenjot sepeda itu di halaman rumah. Senja belum lagi tiba, wajah ayah yang keriput, berbinar cerah, ia seperti menemukan mainan baru yang membuatnya girang bukan kepalang.
“Hm…akhirnya sepeda itu telah menjadi miliknya yang sah.” Ujar Om Peter.
“Maksudnya?” tanyaku.
Om Peter membisu, ia mulai memanjat pohon lontar dan bersiap-siap menyadap nira untuk dijadikan gula lempeng.
Ayah terus memacu sepeda itu hingga ia lelah. Kemudian, tertatih-tatih ia memasuki halaman rumah. “Kapan kau kembali ke Jakarta?” tanyanya.
“Lusa.”
Lalu pria yang akan memasuki usia sekitar tujuh puluh lima tahun itu menarik nafas panjang. Dan alur cerita yang bukan fiksi meluncur lancar tanpa hambatan dari bibirnya. “Nenekmu tak pernah menyetujui Ayah menikahi anaknya. Tapi Ayah sudah bertekad untuk menjadikan Ibumu isteri, Ayah sangat menyintainya. Segala cara Ayah lakukan untuk membuatnya setuju. Tatkala jalan itu benar-benar buntu, Ayah pusing tujuh keliling. Ibumu sebentar lagi akan dinikahkan Nenekmu dengan pria bangsawan yang menjadi pilihannya. Jika aku tidak segera mengambil alih, tamatlah semuanya. Aku tak bisa memiliki Ibumu lagi.”
“Apa yang Ayah lakukan?”
“Sepeda itu, lemari, perhiasan emas, dan semua benda berharga milik Nenekmu kudata dan kucatat, kemudian catatan itu kubawa ke Ibu Habibah, menukarnya dengan uang. Aku melamar Ibumu dengan uang yang kuterima dari perempuan itu.”
“Ayah menggadai barang-barang Nenek?”
Kepala ayah mengangguk-angguk. “Itulah jalan satu-satunya untuk memperoleh uang secara instant. Uang itu kutaruh tepat di hadapan wajah Nenekmu. Matanya berbinar, ia mengambil tumpukan uang itu dengan senyum yang paling cerah yang pernah kulihat. Ia setuju aku menikahi anak perempuannya. Dan setahun setelah itu kau lahir. Kemudian, bencana kedua datang. Ini yang paling celaka.”
“Mengapa?”
“Ibu Habibah datang ke Nenekmu, meminta barang-barang yang kugadai. Aku terlambat membayar bunganya. Nenekmu terkejut setengah mati. Terlebih lagi tatkala Ibu Habibah mengambil semua barang-barangnya, ia stres dan langsung terkena stroke. Nenekmu meninggal sebulan setelah menderita penyakit itu.”
“Begitukah?”
Ayah membisu, wajahnya pucat tanpa ekspresi. Raut muka lelaki tua itu tampak keruh. “Hanya sepeda ini yang bisa kutebus. Tadinya akan kukembalikan ke Nenekmu, namun ia sudah keburu pergi untuk selama-lamanya. Aku dan Ibumu sangat menyesal, kamu memohon ampun atas semua yang telah kami lakukan di kuburannya, tentu saja Nenekmu tak pernah mendengarnya.”
Ketika rantai yang dibeli ayah untuk sepeda tuanya kembali putus. Ia akhirnya menyerah. Ia membawa sepeda itu ke rumah mertuanya yang sunyi dan mulai rapuh. Ayah menaruh sepeda tua itu di gudang belakang rumah. Ia bermaksud untuk mengembalikan apa saja milik nenek yang diambilnyal dengan tidak hormat. “Terimalah sepeda tua ini, semuanya telah kukembalikan padamu, termasuk isteriku. Bukankah ia sudah ada di sisimu sekarang? Kini aku tidak punya apa-apa lagi kecuali anak-anak. Tapi mereka pun satu-persatu sudah pergi mencari kehidupan mereka masing-masing. Aku sekarang pria yang kesepian, aku sendiri kini, sama seperti saat aku hendak melamar puterimu.”
Bisu.
Tidak ada yang bisa menduga ketika kayu pohon lontar penyangga gudang itu tiba-tiba rubuh dan menimpa kepala ayah, lelaki tua itu terkapar dengan darah berurai di sekelilingnya. Dan sepeda tua yang disandarkan di halaman gudang, menatap samar tanpa bisa berbuat apa-apa. (Fanny J.Poyk)
Pernah Dimuat di Suratkabar Jurnal Nasional 29 Desember 2013
Catatan :
1. Mamar : Kebun
2. Belis : Mas kawin di Nusa Tenggara Timur khususnya Pulau Rote
3. Ma Bo’I : Ibu
4. Lontar : Pohon mulitifungsi yang ada di NTT
5. Gula Lempeng : Sejenis gula merah yang dibuat dari nira pohon lontar
