Damai Itu Datang, Karena Sexio Caesar

Pagi, tepatnya pukul 05.00 WITA, kota Ruteng tetap menampilkan sosok yang sama, diselimuti cuaca yang sangat dingin. Rasanya berat untuk beranjak dari tempat tidur.

Lalu…..tiba tiba terdengar bunyi genta dari menara Katedral Ruteng, membahana memenuhi seluruh penjuru kota, memecah kesunyian di pagi itu. Bunyi lonceng Gereja, pertanda memanggil seluruh warga kota penganut agama Katolik untuk bergegas mengunjungi rumah Tuhan guna memuji dan memuliahkan namaNya.

“ Ka Domi ……” kupanggil nama suamiku seraya membangunkannya. “ Ka…..bangun yo…….agar kita mempersiapkan diri ke gereja. Hari ini ada misa pemberkatan anak – anak”, kataku dengan nada ajakan. Kami pun bergegas bangun seraya melantunkan nada syukur kepada Tuhan atas anugerah dan perlindunganNya sehingga di pagi yang indah ini, kami masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara di hari yang baru dengan penuh sukacita. Ka Domi, suamiku tercinta langsung ke dapur untuk memasak air mandi, sementara saya masih menjaga Stefian, buah hati kami yang masih tertidur pulas.

Usai mempersiapkan diri, bersama suami terkasih dan putra pertama kami yang baru berusia 3, 5 bulan, melangkah perlahan meninggalkan rumah menuju Katedral, untuk merayakan Misa Natal kedua sekaligus upacara pemberkatan anak – anak. Anak, sebagai titipan dan anugerah Tuhan yang paling berharga buat keluarga, perlu mendapat berkat dari Pastor sebagai wakli Tuhan di dunia, semoga anak mendapat roh kekuatan dan perlindungan dari yang empunya kehidupan ini, agar anak tumbuh dan berkembang baik secara fisik, rohani dan mentalnya secara wajar dan semoga kelak menjadi anak yang berbahkti kepada gereja dan bangsa.

Suasana pagi di hari Natal kedua itu begitu cerahnya. Sang mentari pagi dengan setia memancarkan sinar keemasannya menyapa seluruh penghuni jagat. Burung – burung berterbangan mengepakan sayapnya sambil melantunkan suara yang begitu merdu. Angin pun perlahan berhembus menerpa tubuh, sehingga terasa begitu menyegarkan.

Dari dedaunan menghijau yang terkena siraman embun pagi, tampak jelas…menyembulkan kabut putih karena terkena jilatan sang mentari pagi. Semuanya……berpadu erat menampilkan suatu panorama alam yang begitu indah mempesona, dan seolah – olah bergembira bersama seluruh warga kota menyambut kelahiran sang Kristus, Raja Dunia pembawa damai.

Setiba di Katedral masih sepi, karena belum banyak umat yang datang. Kami langsung mengambil posisi di depan, persis di depan altar. Beberapa menit kemudian, umat mulai beramai ramai berdatangan bersama anak anaknya. Ada yang datang bersama kedua orang tua, ada yang hanya dengan salah satu orang tuanya. Suasana pun berubah seketika, karena memang ruangan Katedral yang cukup luas itu didominasi oleh anak – anak berusia 0 tahun hingga 10 tahun.

Tepat pukul 07.00, upacara perayaan Misa Natal kedua tanggal 26 Desember dan Pemberkatan anak – anak dimulai. Suasana berubah menjadi khusuk, semua mengarahkan konsentrasi ke depan meja altar, walau masih ada terdengar suara berisik anak – anak dari sudut – sudut ruangan Katedral. Maklumlah…….anak – anak. Acara pemberkatan anak ditempatkan di awal upacara dari berbagai rangkaian acara Misa Kudus.

Tampak, Pastor Paroki sudah mengambil air berkat yang sudah didahului dengan ritus – ritus lainnya. Aku memandang wajah anakku yang masih polos dan lugu. Ia pun membalas tatapan Mamanya dengan ekspresi yang sangat manis. Lalu….Pastor memercikan air berkat ke atas kepala anak, lantas ….seraya bergantian bersama Ka Domi, suamiku yang berdiri di samping kananku, memberikan tanda salib di dahi anak kami tersayang, seraya melantunkan nada syukur dan pujian kepada Allah, sang Pencipta atas anugerah yang terbesar dan terindah dalam bahtera hidup berkeluarga. \

Tiba tiba……tanpa terduga….setetes bening jatuh – luruh membasahi pipi…..dan….terlintas memori tiga bulan silam, mengenang proses kelahiran putra kami yang pertama – Leksi-. Memori indah…..sekaligus ..…memiluhkan ……hadir terkontruksi kembali dengan begitu jelasnya.

Aku mencoba untuk membendung air mata ini…….namun tak sanggup. Aku begitu emosional. Kudengung dalam hati…..begitu cengeng aku…..??? Ahhh tidak…….Ini……..hal yang manusiawi. Aku betul – betul terharu………

5 September 2002………….di pagi hari dalam selimutan dinginnya kota Ruteng yang mencekam tubuh, aku terpaksa dilarikan ke RSUD Ruteng, karena ada tanda – tanda partus. Aku sangat meyakininya, lantaran usia kandungan sudah tiba waktunya. Aku terbaring dengan penuh harap kedatangan sang buah hati. Hatiku tersenyum bahagia dan bersorak riang, karena tidak lama lagi kami punya momongan.

“Pasti Ka Domi sangat bangga”, kataku dalam hati. Persekutuan dua insan dalam ikatan pernikahan kudus yang diikrarkan di hadapan Pastor di bulan November 2001 lalu, kini membuahkan hasil. Namun….., dari balik itu, terselip rasa cemas yang menyesak di dada, karena partus….apalagi pada pengalaman pertama, membutuhkan perjuangan yang amat sangat……

“ Enjel……kapan masuk rumah sakit dan kira – kira kapan partusnya “, iseng – iseng kutanyakan hal itu untuk bisa menghilangkan rasa kecemasan ini. Enjel adalah istri seorang Polisi muda yang kukenal beberapa waktu lalu, saat bersama – sama mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan.

“Oh….sebenarnya saya belum waktunya untuk partus Kaka” jawab Enjel dengan lembut. “ Akhir – akhir ini aku merasa kurang fit, sehingga ke rumah sakit untuk cek – up dan butuh istirahat yang cukup, sehingga nantinya partus bisa berjalan dengan lancar, jelas Enjel.

Tiba – tiba, datanglah Dokter kandungan bersama Bidan untuk melakukan pemeriksaan secara detail. Perasaanku tetap cemas menggelayut. “ Suster Maria….” Dokter memanggil namaku dengan nada yang sangat bersahabat, maklum, saya adalah salah satu suster yang mengabdi di rumah sakit itu.

“ Ya….Dokter…..” kubalas sapaan Dokter, seraya bertanya “ Gimana hasil pemeriksaan Dokter….?” “Maaf yah….., ternyata janin mengalami hambatan untuk partus spontan” ungkap Dokter singkat. Aku terbaring lesu, semangat dan rasa gembira sirna seketika. Kepalaku bagai disambar petir, lantaran hal itu tidak dikehendaki.

Secepatnya kupanggil suamiku yang sedang menunggu di luar ruangan nifas. Kuraih kedua tangannya, kupegang erat-erat sambil menjelaskan semua keadaan yang kualami.

“Yah…..kalau itu adalah jalan terbaik yang diambil oleh Dokter, maka kita rela dan berbesar hati untuk menerimnya”, kata Ka Domi meyakinkan. “ Ina,….tabahkan hatimu dan kuatkanlah imanmu. Kita serahkan semunya ke dalam tangan Tuhan”, tutur Ka Domi.

Saat – saat mendebarkan dan menegangkan kini tiba waktunya. Aku pun dibawa ke kamar operasi, setelah mendapat pelayanan rohani oleh Pastor yang ditugaskan di rumah sakit itu. Kini, aku berada di kamar operasi untuk mendapat tindakan medis selanjutnya tanpa ditemani oleh suami tercinta. Dalam keadaan setengah sadar, aku menangkap sesosok wajah yang kukenal baik, tergesah – gesah datang menghampiri. Ia adalah Suster Esty. Ia memeluk dan mencium keningku.

“ Aduh……Ka….mengapa sampai terjadi begini? Maafkan saya atas segala kesalahan saya selama ini” ucap Suster Esty. Tanpa menjawab, tiba – tiba saya tidak sadar lagi dan semuanya terjadi di luar rekaman memoriku.

Empat jam telah berlalu. Kondisiku pun telah sadar kembali, dan bisa ngobrol dengan suamiku dan sahabat lain yang datang menjenguk. Sementara buah hati kami masih dirawat pisah.

“Selamat berbahagia dan proficiat buat Ka Maria dan Ka Domi yah”, tutur Suster Esty dengan nada bangga. “Anakmu laki – laki, dengan berat badan yang cukup ideal, 3, 25 kg. Rambutnya hitam, lurus dan tebal, dan…aduh…gantengnya“, ungkap Esty dengan nada pujian.
“Pasca sexio caesar, saya pertama yang menerima dari tangan Asisten Dokter dan saya yang merawatnya” jelas Suster Esty. “Terima kasih banyak yah enu Esty” ungkapku singkat sambil tersenyum bangga. “Rawatlah baik – baik yah, anggap saja juga sebagai ademu ” tuturku dengan nada pasrah.

“Saya juga minta maaf atas kesalahan saya selama ini” . Akhirnya semua rasa penyesalan berlebur menjadi satu. Suasana batin dan hati yang selama ini membeku dan terpenjara oleh rasa egoisme pun menjadi cair. Percakapan – percakapan menjadi semakin hangat dan sangat familiar.

Suster Esty adalah sahabat lamaku. Sejak di bangku kuliah Akper Kupang, ketika sama – sama bergelut merebut predikat calon Perawat Pratama Madya, hubunganku dengan Esty sudah terjalin erat. Kami sering membagi suka maupun duka. Segala persoalan yang dihadapi, selalu didiskusikan bersama untuk mencari solusi yang terbaik.

Demikian juga, ketika sama – sama mengabdi pada RSU Ruteng. Mengalami nasib sebagai penghuni baru di kota dingin tersebut, kami tetap bersahabat. Namun…….pada titik inilah, terjadi antiklimaks. Hubunganku dengan Esty sedikit tergganggu, lantaran persoalan sepele. Pacarnya yang kini menjadi pendamping hidupnya, kadang mengobrol dan berdiskusi dengan saya tentang berbagai hal. Sehingga Esty menjadi salah paham denganku.

Suatu ketika, saya tegaskan kepada Esty bahwa saya sangat menghormati hubungan kamu. Namun, Esty tetap salah paham. Mulai saat itu, hubungan menjadi renggang. Ketika berpapasan muka, tidak ada tegur sapa dan senyum salam, semuanya jadi hambar. Suatu ketika, saat perayaan Misa di Katedral, Esty bersama suaminya mengambil tempat duduk persis di depan kami, namun pada saat acara “salam damai’ ( umat saling bersalaman / jabat tangan ), mereka tidak berbalik ke belakang untuk bersalaman dengan kami.

Dalam titik permenungan ini, patutlah kami melantunkan puji syukur kepada Tuhan karena melalui tangan Dokter, Bidan dan perawat telah bersusah payah membantu proses kelahiran buah hati kami. “ Puji syukur juga, karena dengan kelahiran putra tersayang kami, telah mempertemukan kembali dengan sahabat lama saya”, doaku dalam hati.

Hal ini merupakan suatu momen yang sangat indah dan sulit terlupakan dalam catatan memori jiwa. Dalam keterbatasan alam pikiran manusia, ternyata dibalik itu, ada campur tangan Tuhan dibalik peri kehidupan insan manusia.

Acara pemberkatan anak – anak yang memakan waktu kurang lebih 20 menit telah usai. Pastor dan Misdinar telah kembali ke altar untuk melanjutkan acara liturgis lanjutan sampai acara penutupan. Akhirnya bersama suami dan anak tersayang kembali membawa sukacita dalam hidup, ada karya tangan Tuhan yang menjelma dalam diri hambaNya. ” Salam Damai“.

Malam sunyi nan dingin kota Ruteng, 10 Januari 2003
Domi Lima Sido

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *