Antara Dua Hati

suluhnusa.com_Rindu terjaga mendengar suara pintu di buka. Rupanya suaminya sudah pulang. Hampir pagi seperti biasa. Dipejamkannya mata kembali. Tapi telinganya tetap terjaga. Ia baru tidur beberapa saat yang lalu.

Terdengar suaminya membuka dan menutup pintu kamar sebelah. Sepasang sepatunya membuat satu satunya suara di rumah itu menimpali suara anjing yang menggonggong mungkin di ujung gang. Rindu membalikkan badan memeluk anaknya. Wajahnya terlihat damai. Ah.. nak.. sampai kapan bapakmu tidak mau melihat wajahmu yang lucu ini ?

Sementara di kamar sebelah tempat biasa suaminya tidur hanya terdengar suara tv , Rindu tak bisa terlelap lagi. Pikirannya seperti kapas yang terbang bebas di bawa angin. Kadang ke timur kadang ke barat. Terbang tinggi lalu jatuh terjerembab ke tanah, pada kisah kisah yang begitu menyedihkan dalam hidupnya.

Ah.. ingin sekali waktu dihampirinya suaminya atau di buka pintu kamarnya lalu memeluknya dengan hangat dari belakang seperti sering dilakukannya dulu pada awal pernikahan mereka. Kemudian rasa manis dari pernikahan itu mereka nikmati dengan sepenuhnya. Tapi itu dulu hanya di awal pernikahannya saja.

Rindu tak ingin mengeluh. Bukankah keyakinannya mengajarkan keikhlasan untuk menerima takdir , apapun itu, adalah sebuah karma yang harus dilakoninya dalam hidupnya saat ini. Tapi ia hanya manusia biasa, pernah jua ada dalam pikirannya untuk berjuang demi kebahagiaannya. Untuk berjuang atas hak haknya sebagai manusia.

Melawan, protes, menjelaskan apa yang dituduhkan padanya, mencoba meluruskan tuduhan tuduhan miring atas dirinya. Tapi entah dirinya kurang gigih atau memang suaminya yang terlalu kaku, dan egois, semua berakhir sia sia. Dia, suaminya, lebih mendengar suara suara di luar sana. Terlebih suara orang orang yang dekat dengannya yang semua menunjuknya sebagai istri yang tidak setia.

Apalah dayanya kemudian. Sampai anaknya lahir , suaminya pun tak pernah peduli lagi.
“Mungkin itu anakmu dari lelaki yang setiap malam mengantarmu pulang” katanya dingin.

Rindu letih menjelaskan, bagaimana pekerjaannya mengharuskannya untuk pulang malam. Sebagai guide pekerjaannya tak mengenal waktu. Kadang harus menjemput tamu di malam hari , bahkan menunggu sampai dini hari karena pesawat mereka delay. Itupun suaminya tahu , dan memberinya ijin. Tapi sekali lagi suara suara miring begitu kuatnya mencengkram pikirannya. Dan Rindu akhirnya memilih bungkam.

Impian manis tentang cinta semasa remaja kian pudar dimakan waktu. Juga impian indah tentang pernikahan. Tentang suami yang yang romatis dan hangat. Tentang keluarga yang rukun . Ah… hidup seolah tak memberinya pilihan.

Tapi itu sampai siang kemarin. Kini ia sudah mempunyai pilihan, dua pilihan. Ya.. apakah ia akan memperjuangkan kebahagiaannya atau akan bertahan demi membuktikan kesetiaan.
“Mari kita pergi. Engkau bersiap siaplah. Kita pergi ke Jakarta dua hari lagi. Kita tinggalkan Bali, dan semua kerabat yang pernah menentang kita. Kita menikah disana. Tak ada yang akan tahu. Aku, kamu dan anakmu”
Ajakan itu sungguh teramat manis, sebab keluar dari bibir seorang lelaki yang telah lama dirindukannya. Seseorang yang telah meninggalkannya tanpa kabar. Namun kemarahan karena itu tidaklah serta merta hilang karena ucapan manisnya.

Dengan suara bergetar karena menahan marah dan sakit, Rindu berkata, “om..apakah arti ucapanmu ini ? Lama Rindu menunggumu. Mengingat janji kita setiap malam, tapi kau lupa.. kau lupa, kau pergi, tidak bisa dihubungi, dan tidak ada seorangpun yang memberikan jawaban atas pertanyaanku, kau kemana ?? ” isaknya

“Rindu.. maafkan aku “ Alan memegang tangan Rindu. Menelungkupkan wajah di atas tangan itu. Penyesalan atas kepengecutannya tak mampu ia tanggung selama bertahun tahun.
“Rindu .. maafkan aku. Aku tahu kau marah padaku, mungkin juga benci. Kau boleh menghukumku nanti. Apa saja. Tapi ikutlah denganku ke Jakarta,” Alan memohon.

Atas nama rasa bersalah yang sangat dalam karena telah meninggalkan Rindu dan cinta mereka dulu, kini ia datang. Ia tahu betul Rindu tidak bahagia dengan suaminya. Ia tahu gunjingan orang tentang dirinya, tentang anaknya.

“ Rindu harus katakan apa padamu, om ?” suara Rindu melemah.

Hati perempuannya meleleh melihat lelaki yang dirinduinya sejak lama memohon mohon di hadapannya. Sekalipun ia tidak pernah mengerti kenapa Alan meninggalkannya dulu. Memang, cinta mereka bukan hal umum bagi banyak orang. Alan adalah pamannya, sepupu jauh ibunya. Tapi bukan berarti tidak bisa menikah. Apalagi dari garis keturunan ibu, itupun hanya sepupu. Sekalipun Rindu sadar tdk semua berpikir sama, dan itu termasuk keluarganya, bahkan lelaki yang dicintainyapun ragu dengan keyakinannya.

“Kita pernah berjanji , akan mengatasi setiap rintangan berdua. Dengan cinta. Dengan cinta, katamu ! Tapi apa ? Kau tidak sekuat yang kupikirkan, atau cintamulah yang tak sebesar apa yang terucap di bibir.” Rindu meluapkan kemarahannya.

Semua orang tidak adil padanya. Alan, ibunya, keluarganya bahkan sekarang suaminya.
“Rindu, maafkan aku. Aku memang tidak memiliki keberanian untuk bertahan. Tapi cintaku tak selemah yang kau tuduhkan. Karena itu aku datang . Rindu, kita akan bersama” jawab Alan

Rindu menghela nafas panjang. Kini matanya sama sekali tidak terasa mengantuk . Terngiang ajakan Alan yang begitu manis, mimpi mimpi mereka dulu, selangkah saja, hanya selangkah akan segera terwujud.

Teringat ucapan suaminya yang menuduh dirinya penghianat, menghindar untuk tidur bersama atau menimang anaknya. Teringat wajah ayahnya, ibunya saudaranya. Gunjingan apa lagi yang akan mereka dapatkan saat ia menerima ajakan Alan. Semua berputar putar tak berhenti. Lalu berhenti pada wajah anaknya. Itulah jawabannya.

Terdengar ayam berkokok , hari mulai terang. Dengan langkah pasti, Rindu bangkit. Mencuci wajahnya di kamar mandi. Lalu ke dapur . Memanaskan air untuk menyeduhkan kopi suaminya, dan membuat susu anaknya. Mengambil beberapa bahan makanan dari kulkas. Hatinya sudah bulat, ia akan tetap menjadi ibu dan istri di rumah ini. Biarlah Alan tetap menjadi pamannya. Biarlah waktu yang akan membuktikan kesetiaannya.

widyastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *