II
Pagi itu, aku kembali ke kamarku yang kecil, yang di kelilingi oleh rak-rak buku. Kertas-kertas sedang menggeletak di semen. Aku memperhatikan setiap kertasku, kalau-kalau ada tikus dan cicak yang datang merusak-rusak kekayaanku yang sangat kucintai itu.
Aku sedang mempersiapkan sebuah buku tentang estetika dan kertas-kertas, kartu kartu, buku-buku, sedang kuletakan dengan rapi di atas lantai di dalam kamarku. Semua kerta-kertas itu nampak berserakan tetapi aku mempunyai sistematik tersendiri yang buatku sangat praktis.
Begitulah setelah aku memperhatikan kerta-kertasku yang penuh dengan hasil tik-tikan, aku mulai menggeletakan badanku di atas sofa menanti kantuk terakhir yang membawa aku tertidur pulas nanti. Aku tak bisa tidur dengan seketika karena ada saja yang muncul dalam benakku. Naskahku yang sedang kukarang ini harus segera kuselesaikan lalu aku harus segera pula mencari penerbit. Hasil dari semuanya ini, akan kupergunakan untuk ongkos perceraian dan selanjutnya ongkos pernikahan. Beres pikirku. Tapi kini aku harus segera mempunyai uang, karena tidak enak kalau Monika dating ke kamarku ini lalu memergok aku dengan sebuah sofa, beberapa tikar, sebuah meja kecil dengan mesin tik kecilnya, sebuah tustel kecil yang selalu terletak di kolong rak bukuku, dan rak-rak buku yang melingkari tembok-tembok kamarku itulah.
Perubahan total mesti kubuat dan karena itu aku harus berpikir, bagaimana aku mencari uang lebih banyak dalam waktu cepat untuk membeli dipan membuat sebuah sekat yang membatasi dipan denagn kamar tamu yang sudah tentu mempunyai seperangkat kursi tamu yang membikin ramai kehadiran sofa tercintaku yang telah berfungsi sebagai tempat tidurku sewaktu malam dan tempat duduk di waktu siang.
Pusing juga! Biaya perawatan mobil lebih besar dari pada sepeda ! selama ini aku hanya merawat diriku yang kuibaratkan sepeda.
Tadi malam aku mulai dengan pekerjaan baru: harus merawat sebuah mobil, nanti. Ah! Tetapi aku masih punya gaji, aku masih mempunyai naskah dan sedikit uang di Bank.
Buat apa takut menghadapi persoalan ekonomi? Buat apa susah? Aku menyentak tubuhku, melepaskan punting rokoku di atas asbak yang terletak di meja kecilku, lalu merangkak ke kolong rak bukuku: aku menarik sebuah kotak karton dari dalamnya. Aku mengeluarkan sebuah benda yang jarang kupergunakan: sebuah tustel dengan beberapa buah lensanya, termasuk sebuah tele, yang dahulu pernah kupergunakan untuk membuat artikel-artikel tamasya maupun laporan-laporan perjalanan.
Kini aku bosan dengan pekerjaan demikian. Haya sekali-kali sja aku membuat tulisan yang demikian karena aku tela memilih jalan baru: menulis buku. Aku sibuk betul, kini. Siang hari harus bekerja dan malam hari harus menulis buku.
Nah, lebih baik aku menjual tustel yang bisa dibeli lagi nanti itu. Uangnya ku pakai untuk ongkos pacaran dan ongkos mengisi ruangan kamarku dengan benda-benda yang menimbulkan kesan tempat tinggal manusia dari pada kesan gua. Ah! Aku girang karena ada jalan keluar.
Kemudian, apa lagi yang harus kukerjakan? Biasanya aku masuk kantor hanya sebentar saja, sekedar mengantarkan naskah kepada redaktur pelaksana. Tetapi kemarin sudah kuantarkan.
Mungkin besok harus segera kuantarkan naskah baru kepada redaktur pelaksana, tetapi naskah apakah kiranya? Tidak terlau lama mendapatka ide : berapa hari yang lalu, aku nonton sebuah film yang mengisahkan seorang profesor Mahasiswainya. Profesor itu telah sepuluh tahun berumah tangga, tetapi karena satu hal, karena istrinya selalu ditelfon oleh anak dari perkawinan yang dulu, ditambah lagi main telfon-telfonan denagn bekas suami- ayah dari pada anaknya. Maka sempurnalah konflik batin sang suami, jika memikirkan bahwa perkawinannya selama sepuluh tahun tidak melahirkan seorang anak pun itu.
Profesor itu minta cerai dari istrinya, tetapi isterinya menolak denagn alasan: sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama, untuk membuat seorang wanita menajdi tua dan tidak bisa kembali kepada suaminya yang dahulu.
Sang Profesor ngotot mengejar mahasiswi sampai akhirnya si burung pipit itu terkena jerat sang profesor, tetapi yang terakhir ini menjadi gentar dan terpelanting jungkir balik tatkala mengetahui bahwa mahasiswi yang cantik dan cerdas itu. Atas kemauan nasib telah menjadi semacam piala bergilir yang telah berpindah dari tangan ke tangan beberapa orang juara – beberapa orang atlit seks. Tehuyung – huyung dalam kecamuk konflik batinnya, sang profesor mengendarai mobilnya, meninggalkan rumah istrinya, menuju ke rumah pacarnya. Di atas mobil butut ia hidup dalam dua dnia : sebagai sopir dan sebagai profesor yang dilanda konflik batin.
Film ini adalah film barat dank karena ini, pesimisme barat mengirim sebuah truk yang menabrak mobil butut sang profesor, lalu semuanya terlempar ke pinggir jalan dan terbakar hancur menjadi debuh…
Aku kembali ke sofaku lalu memandang mesin tikku. Besok saja baru aku mengetik karena ingatan kepada kisah film itu menimbulkan ingatan lagi kepada peristiwa semalam: aku ingat pada Monika. Apakah wanita yang bayangan wajahnya sedang ku bawah serta ke atas sofa ini merupakan pacar baru dalam kesendirian hidupku ini? Kini aku harus waspada, aku harus berjaga, aku harus kritis!
Pertama kali harus aku perhitungkan bahwa dia adalah seorang janda. Dalam peringatan orang barat dan orang Kristen, yang di sebut janda adalah seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Tetapi monika hanya bercerai dari suaminya. Ini terbukti dari ucapannya tadi malam, ucapan yang menguatkan informasi tentang dia dari rekan sekantorku. Dia bilang : aku tidak mau mengalami nasib seperti dulu; ia, sepert dulu, yah aku ingat betul. Berarti ia mempunyai kerinduan untuk kawin baik-baik, berumah tangga baik-baik, dan hidup tenang-tenang tidak dilanda oleh teror penceraian lagi. Dari segi ini, ia baik kalau kata-katanya bukanlah sebuah rayuan perempuan.
Tetapi adegan-adegan pantai itu, menimbulkan asosiasi macam-macam tentang perempuan yang kuketemukan dalam kehidupanku. Negri yang sedang berkembang-berkembang menjadi negri industry ini, ahai, mempunyai beban sosial yang cukup parah. Alkisah, adalah kebudayaan korupsilah yang puny aula: koruptor-koruptor menciptakan industri baru, dimuka bumi negri yang sedang berkembang ini yakni industry tunasusila dan idustri janda. Uang yang di korup, menurut Koran-koran dihamburkan untuk kesnangan seks di rumah-rumah pelacuran dan dipaki modal untuk kawin, kemudian kalau uang habis maka perceraian pun tiba. Sang koruptor angkat kaki dan menjadilah istrinya seorang janda yang telah siap mentalnya untuk menjadi janda berganda. Amboi!
So industrious ! Begitu rajinnya! Bukankah kata industrius adalah istilah inggris yang artinya rajin? Aku tertawa kecil memkirkan negriku yang sedang berkembang entah kearah industry macam mana ini, bah! Begitu rajinnya wanita Indonesia menjadi janda berganda!
Aku harus mempelajari apa motif Monika kawin duluh. Dimana bekas-bekas suaminya sekarang. Apa pekerjaannya. Apakah mereka koruptor, apakah narapidana. Dan ketika sampai di sini jalan pikiranku, maka aku jadi ngeri. Apalagi bila terbayang proses pertemuan badan begitu cepat tadi malam. Hanya perempuan yang jahatlah yang begitu cepat memberikan dirinya kepada laki-laki. Tetapi aku tidak benci pada Monika. Aku hanya prihatin pada dia yang berada dalam barisan-barisan pelacur taman pantai, barisan janda-janda yang ditelorkan oleh kebudayaan korupsi. Tetapi kalai demikian halnya, maka janganlah aku cari gara-gara memasuki dunia orang sakit. Diantara wanita-wanita yang sudah disatekan oleh kebudayan korupsi, ada wanita yang penyakitnya sudah terlau parah. Oh. Tuahn ! aku pernah menonton film mengenai kehidupan bahwa sadar permpuan yang meletus ke permukaan berbentuk kriminalitas yang membikin aku mengusap dada beberapa hari. Aku masih ingat sampai sekarang, aku masih ngeri dan mengerti sampai kini. Seorang laki-laki bertemu dengan wanita muda di jalan keduanya berkenalan. Sudah tentu karena si wanita muda itulah yang merangsangnya. Rangsangan itu membikin sang lelaki mengejar sang wanta muda itu, dan tertangkap di guha permukiman sang wanita, yakni sebuah apartemen tingkat kesekian dari mana sang wanita dapar melihat jendela, non-non katolik sedang bermain volley dengan kerudung yang menutup kepala mereka, dengan baju panjang yang menutup tubuh mereka yang bagus demi untuk upacara pernikahan abadi dengan Roh Cinta Kasih Kristus. Tetapi sang wanita dalam film itu tidak memilih jalan yang di tempuh oleh nn-non itu. Ia berangkat ke dapur, mengambil psau lalu laki-laki yang terjebak dalam guha yang tidak dikenal itu menemukan akhir hayatnya.
Aku kira setiap wanita baik-baik, atau setiap wanita terpelajar perlu mempelajari film mini. Maksudku : mempelajari dunia tersembunyi yang hidup dalam diri salah seorang kaumnya dalam film itu.
