III
Sesungguhnya, tiga tahun terakhir ini aku telah mendekati seorang rekan sekantorku yang selalu kuantarkan kemana saja menurut kemauan tugasnya. Nampaknya temanku ini seorang yang cukup terpelajar yang masih hidup sendiri sebagai seorang perawan tua menurut ukuran negri yang sedang berkembang, karna sang perawan menyediakan umurnya untuk kuliahnya di fakultas. Dalam hubunganku dengan rekan sekantorku ini aku memakai semacam gaya alon: kami nonton bersama setiap acara-acara kesenian, kami nonton bersama setiap film yang bagus. Kemudian, kami berpendapat, sebaiknya kami menyusun bersama sebuah buku tentang estetika dan ia sangat antusias dengan proyek ini lalu ia mempergunakan waktu – waktu tertentu menyimak buku-buku di kamarku dan mengetik berjam-jam sambil mengalunkan musik-musik klasik, jazz,dan rock.
Tiga tahun lamanya kutanam benih-benih percintaan yang bersih dari polusi seks, tiga tahun lamanya benih itu berkembang sangat indahnya, tetapi begitulah nasib manusia: malam terakhir kami bertemu di Taman Kebudayaan adalah malam yang sangat menghancurkan hatiku untuk beberapa minggu, kemudian aku berseri kepada negri teopik ini: “sekarang kubuka hatiku untuk siapa saja yang datang!” dan yang datang itu adalah Monika, Malaikat yang turun dari pohon asam di tepi kolam!
Aku tak mau menyebut nama rekan sekantorku itu. Aku tak mau, karena jika kusebut namanya maka hal itu berarti aku menyebut luka yang belumlah sembuh dalam kalbuku. Biarlah kukatakan saja di sini bahwa soalnya hanya sepeleh saja. Pada suatu malam aku harus menghadiri suatu pertemuan yang penting bagi masa depan kami – sebutlah masa depanku – yakni sebuah rapat dari sementara orang untuk membentuk sebuah perusahaan terbatas yang bergerak dalam bidang pendidikan. Duduk dalam perusahaan itu, seorang janda kaya dan terkenal memiliki beberapa buah hotelm raksasa. Rekan sekerjaku pada malam itu buru-buru makan malam dan mengenakan pakian yang paling indah sambil menunggu aku untuk sama-sama menonton konser di Taman Kebudayaan. Ia menunggu dan menunggu tapi ia bersabar saja. Tetapi ia jadi hilang sabar ketika ia mengetahui bahwa aku mengantar sang janda yang kaya utnuk melihat kota di waktu malam lalu kami mampir di kelab malam untuk menonton penari telanjang dari sanfransisco. Memang pada malam itu aku sangat gelisah memikirkan rekan sekantorku dan kegelisahan ini aku beritahukan padanya smbil minta maaf.
“Tetapi aku tak bisa terima perlakuan itu aku kenal betul pada perempuan itu. Ia telah menjadi semacam komoditi seks, yang senag masuk ke kelab malam untuk melihat kaumnya yang telah menjadi komoditi seks pula, “ gerutu rekan sekantorku.
“Tetapi dia memberi saham yang besar dalam perusahaan yang baru itu,”kataku. “aku sudah tak tahan bekerja di perusahaan tempat kita bekerja karena kita tidak diberi saham kecuali hanya menjual tenaga.”
Malam itu aku bersimpu di kakinya untuk minta ampun; malam itu ia tidak memberi ampun padaku dan malam itu pun menjadi lengang ketika aku melenggang pulang sendirian.
Begitulah, maka kemudian aku membuka diriku, aku membuka hatiku pada Monika, aktris yang kontan membayar kesedihanku yang dalam dengan kenangan atau polusi pantai dan motel.
Tak apalah. Pernikahan dan pergaulan hari demi hari dalam cinta yang saling memberi akan membersihkan kami: aku dan monika.
Pintu kamarku diketuk oleh pelayan warung yang membawa minuman.
“hati-hati jangan injak kertas-kertasku,”kataku ketika pelayan itu masuk.
“Sudah pukul dua belas, “kata pelayan.” Apa tidak makan siang?”
“Ya nasi goring dan susu, “kataku. Kopinya di bawah kembali saja, dig anti dengan teh pahit.”
Persiapan dan salah pengertian itu pahit sekali rasanya. Lebih pahit lagi, ketika rekan sekerjaku itu kontan menghilangkan amarahnya itu dengan jalan saling bergandeng tangan dan memeluk pinggang di taman kebudayaan dengan seorang pemuda, pacar barunya. Dalam keadaan pahit sepahit empedu itu akan menemukan penawar duka, takkala membaca ceritra pendek monika dan selanjutnya secara kilat aku menunggunya di bawah pohon asam itu, di tepi kolam itu, lalu akhirnya secara kilat bermain cinta di pantai laguna. Ya aku puas juga tapi apakah ini suatu cinta dalam huruf besar? Tidak, tidak, aku belum berhenti membina cinta dengan huruf besar itu: bukankah monika barulah sebuah permulaan?
Aku berdoa dalam hati kecilku supaya apa yang kutemukan ini adalah suatu penemuan yang tidak sia-sia. Aku berharap supaya monika tidak membawa penderitaan. Seperti hidupku yang dahulu, seperti perkawinanku yang dahulu, percekcokanku yang dahulu. Aku pikir-pikir, aku tidak terlalu neurotic dalam perkara bercinta, walaupun aku terlalu cinta pada ibuku: aku pikir-pikir aku tidak pernah mengharapkan agar supaya setiap pacarku harus seperti ibuku yang kucintai itu dan yang mencintai aku itu. Aku ingat betul belum pernah aku menuntut dari pacar-pacarku agar mereka melayani aku seperti aku dilayani ibuku. Bukankah aku sudah terlalu banyak member, kepada pacar-pacarku? Di masa remajaku, aku pernah terlibat dakam cinta monyet yang manis: aku berpacaran dengan teman sekolahku dan aku tidak pernah menciumnya, menyumbuhnya, kecuali duduk berjam-jam belajar bersama di bawah pohon di halaman sekolah atau di bangku taman, kemudian mengantarkan pulang. Aku banyak membantu pelajaran pacarku yang ketinggalan: aku mengajar dia ilmu ukur dan aljabar, aku menyelesaikan soal-soal matematika yang sulit di depan matanya yang bundar segar berbulu mata lengkung bagaikan bulan sabit. O, betapa sucinya cinta pertama yang disebut cinta monyet itu. Ei, mengapa istilah monyet dibawa-bawa ? Mungkin karena cumbuan dan naluri seks monyet sangat suci sedangkan naluri manusia bisa dijadikan barang dagangan dari desa ke kota; dalam negri ke kota luar negri. Kota memang merusak kemurnian seksku. Ketika aku masuk universitas di kota; aku nonton film ciuman yang berani dan ditambah dengan pergaulan dan kebudayaan santai yang gencar, maka sempurnalah gencaran rasa memancar hari-hariku di sekitar masa muda yang setiap hari menjinjing buku dengan kantong kosong, yang tak mampu membeli komoditi seks ! Aku lalu membeli diriku sendiri: pada suatu malam yang rahasia, ketika pulang kuliah berjalan kaki di trotoar aku melihat pemuda dan pemudi berdiri bergandengan atau berdempetan badan di bawah lampu neon, di bawah poster-poster paha dan pipi yang membengkak-bengkak besar karena penuh dengan cinta erotic. Mereka membeli karcis dan menonton film yang mengirim hawa nafsu ke lensa mata, kemudian berlatih turun ke ulu hati. Hatiku kepingin seperti mereka, tapi kantong seorang mahasiswa ingusan seperti aku, sudahlah tentu tak mampu untuk membuat transaksi paha dan pipi yang demikian itu. Aku tak punya pacar, aku tak punya uang untuk menonton film-film cinta dan kalau aku kepingin juga untuk berpartisipasi dalam upacara cinta eroti itu, kepada siapa harus aku meminta ? aku selalu berjalan pulang dari kuliah lewat gerbang bios, altar gereja erotic itu; aku melihat banyak muda-mudi berbahagia, aku berjalan terus sampai ke pojok jalan dan di sana aku terpojok dalam semacam ingatan atau sebutlah mimpi yang mengirim bayangan pacarku yang kini hidup sendiri, berjalan sendiri, di bawah pohon di halaman sekolah. Aku berjalan pulang dari pojok jalanan dengan pacarku. Yang kutemukan di pojok jalanan itu menuju kamarku yang kosong bertembok putih dan buku-buku.
Pada suatu saat yang sangat tak dapat kukendalikan kamar yang kosong dan buku-buku menjadi tak berarti karena diri manusia ditarik ke dalam dirinya sendiri. Aku berubah menjadi keong dengan kulitku yang keras membungkus badanku yang telah mendaging lemah membaur begitu rupa sehingga aku tak dapat membedakan mana dagingku dan bayangan pacarku yang telah mendaging pula dalam dagingku. Dengan ini aku mulai mengatakan bahwa masturbasi adalah proses perkeongan.
Karena itulah, karena aku sadar bahwa aku adalah manusia, maka obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan penyakitku yang timbul akibat virus kebudayaan paha dan pipi kota adalah kawin dengan perempuan yang sebenarnya dan bukan dengan bayngan. Terburu – buru aku mengejar seorang perempuan yang sebenarnya, yang kutemukan di pojok jalanan itu dan perempuan itu menjadi istriku. Pertemuan di jalanan, perkawinan yang dilakukan terburu-buru, akan mengembalikan dua sejoli ke jalanan pula dalam bentuk pertengkaran kelas jalanan. Tuhan dan sementara manusia menyaksikan bahwa aku tidak bahagia karena pertengkaran yang terus menerus. Pengalaman perkawinan membuktikan bahwa dalam dunia yang sangat fana ini, ada perempuan yang benar-benar batu. Para cendekiawan tentu telah di tolong oleh buku-buku mengenai kebatuan- kepalabatuan- perempuan yang sukar untuk menerima dialog yang memakai logika yang paling simpel sekalipun begitu pula mengenai kekepalabatuan laki-laki. Demi tuhan, aku telah mengoreksi diriku, aku telah menyelidiki di mana kelemahanku, aku telah menyelidiki dimana kelemahanku untuk bisa mengerti perempuan yang sudah kujadikan istriku, tapi demi setan, aku tidak pernah bisa mengerti mengapa dadaku yang sudah kubelah selama tahun-tahun perkawinan, tidak pernah bisa dilihat dengan penuh kejelasan. Betapa terbatasnya aku! Orang mengatakan bahwa hanya dengan dialoglah segalanya bisa berlangsung penuh harmoni dan kebahagiaan, tetapi yang kutemukan adalah situasi tanpa dialog yang dapat diibaratkan dengan perempuan histeris yang menjerit-jerit dan pingsan atau pingsan-pingsanan karena keinginanya adalah keinginan dirinya sendiri dan bukan suatu keinginan untuk berdialog. Payah benar!
Misalnya, pada suatu hari aku ke luar hujan-hujan membeli sate di arah kanan rumah tetapi satenya telah habis sehingga aku harus kembali ke warung yang terletak di sebelah kiri rumah. Kedua warung itu, masing-masing berjarak kurang lebih dua ratus atau tiga ratus meter dari rumahku. Sudah tentu aku agak alam dan istriku tidak sabar lalu ke luar. Ia melihat di muka rumah kami ada orang berhari-jadi, dan ia langsung menyangka bahwa aku memasuki rumah yang sedang berhari- jadi itu. Ia masuk berselubung kain dan menanyakan apakah ada seorang lelaki yang dikenal sebagai suaminya. Sudah tentu semua kepala menjadi tegak karena hal itu sambil menjawab: tidak, tidak ada orang itu. Ketika dia keluar aku telah berada di muka rumah itu dengan lenggangku yang santai dan bersiul-siul menentang sate dan mie goreng. Kontan aku di sambarnya. Sudah tentu aku berbicara dengannya dengan lemah lembut dengan logika yang paling simple: tidak tauhkah anda bahwa suamimu ke luar dengan kelom kayu dan memakai kain saja? Apakah anda tidak bisa berpikir bahwa aku sampai hati masuk ke pesta orang berdasi itu?
“Tapi aku menunggu lama, “katanya.” Aku tidak tahan; sebab aku pikir kau ada di pesta. Aku masuk saja ke pesta dan semua orang tahu siapa aku kalau aku sudah marah!”
“Aku, aku, aku…akumu yang kau lihat. Bukan kita, “kataku tenang-tenang.
“jangan banyak mulut!”lalu dikebsakannya sate dan mie goreng, lalu sate dan mie goreng terlempar ke jalan raya.
Dalam hidup berumah tangga, hari demi hari, bulan demi bulan tahun demi tahun bila perlu: abad demi abad – perlulah ada itikad dan usaha supaya suami-istri mengenal kekitaan dan yang terakhir inilah yang menjadi rumah tangga itu sendiri. Suara kalbuku selalu meneriakkan kerinduan untuk berkita, untuk membina kekitaan, tetapi itulah:buku-buku yang melingkari kamar tidur dan kamar kerjaku sekarang ini, hanya menyaksiskan hidup yang sendiri ini yang kadang-kadang jadi sangat murung bila malam bertambah lengang dengan bayangan histeris yang menghantu. Wanita yang histeris adalah contoh yang diambil oleh salah satu buku dalam kamarku, tentang situasi dimana dialog tidak mungkin.
Begitulah kiranya pikiran dan anganku melengang-kangkung di jalan kenangan hidupku yang berdebu di musim panas dan berlumpur di musim hujan dengan titian bambu yang mengerikan: histeria.
Apa mau di kata lagi karena segalanya telah menjadi lagu sedih dalam hidupku, jika hal itu dikenang, atau dikisahkan kembali di sana-sini dalam rangkaian cerita ini. Apa mau dikata lagi : aku telah berjanji kepada Monika untuk memulai babak kedua dalam hidup kerumah tanggaanku, sebutlah babak Monika.
