suluhnusa.com_Langit kota Denpasar berwarna biru cerah. Iringan putih awan, berkelompok membentuk lukisan abstrak yang unik dan memukau mata.
Peluh membasahi keningku. Suara kaki kuda yang kudengar dari atas dokar yang kutumpangi berdetak-detak bagai irama salsa yang menggelora. Dadaku bergemuruh mengikuti irama detak kaki kuda yang berlari setengah kencang. Meski demikian, nama Ni Luh Kerti memenuhi hampir seluruh rongga dalam kepalaku.
“Awas, jika kau sampai tidak bisa menemui perempuan itu, kau tidak usah pulang ke rumah. Kaulah yang bertanggungjawab atas semuanya!” suara ibuku terus terngiang-ngiang di gendang telingaku.
Di tanganku ada kertas yang bertuliskan alamat perempuan itu. Dia tinggal di tepian tukad Badung, dekat Pasar Kumbasari.
“Seken, niki alamat tiang, tiang ten nguluk-nguluk!” katanya dalam Bahasa Bali, Kerti meyakinkanku bahwa alamat yang diberikannya bukan palsu.
Saat itu, aku merasa yakin kalau perempuan Bali yang tampak lugu itu tidak akan menipuku. Kuberikan sekarung beras yang ada di atas dokar kepadanya. Ia menerimanya dengan mata berbinar.
“Matur suksme nggih, tiang lakar mayah mekejang buin mani!” janjinya pasti.
Aku menganggukkan kepala. Janji yang diucapkannya dengan wajah serius akan membayar sekarung beras daganganku esok, semakin meyakinkanku kalau perempuan berusia sekitar dua puluh tahun yang berprofesi sebagai buruh serabutan di Pasar Kumbasari ini, adalah perempuan jujur yang bisa dipercaya. Kuyakinkan pula pada ibuku bahwa sekarung besar yang kupasarkan berada di tangan yang aman.
Ibuku yang berprofesi sebagai makelar beras dan pegawai asuransi jiwa di perusahaan swasta di kota Denpasar itu berkata, “Kalau sampai perempuan itu membohongimu, kau yang harus bertanggungjawab. Dua pelanggan sudah menipumu, sampai sekarang mereka tidak membayar lima karung beras yang mereka ambil.
Kau terlalu baik dan lemah. Kalau mau jadi pedagang, harus bisa melupakan rasa belas kasihan. Kau seperti Bapakmu saja, seniman kere yang selalu memberikan apa saja miliknya pada orang lain!” celoteh ibuku dengan wajah sengit, terutama bila sudah berkaitan dengan bapakku.
Harus bisa melupakan rasa belas kasihan. Jangan seperti bapakku, seniman kere yang selalu memberikan apa saja miliknya untuk orang lain. Aku merenungkan kalimat yang diucapkan ibuku. Hm…bapakku, memang dia seniman kere, yang hanya mampu menanggung biaya hidup anak-anaknya dari penghasilannya sebagai pengarang. Meski demikian ada rasa bangga menyeruak dari dalam sanubariku. Bapak tidak kere dalam artian jiwa dan hatinya, dia welas asih, dan yang paling kusuka darinya, dia sangat manusiawi.
Aku mengerjapkan mata.
Di atas dokar yang berdetak-detak dengan bunyi sepatu besi kudanya yang pletak-pletuk, hatiku sedikit terhibur bila mengingat ucapan Ni Luh. Ah, dia pasti menepati janjinya, hiburku pada diri sendiri.
Keramaian kota Denpasar menjelang siang kian terasa. Hiruk pikuknya manusia di dalam Pasar Kumbasari, menjadi pemandangan keseharian yang tidak lagi memiliki arti penting buatku. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing, semua berlomba mencari kehidupan yang lebih baik.
Di antara ramainya manusia, aku menebarkan pandangan ke seluruh sudut pasar, mencari sosok Ni Luh Kerti. Hari ini adalah hari terakhir ia harus menepati janjinya, membayar sekarung beras yang diambilnya dariku.
Matahari kian meninggi. Langit di atas kota Denpasar semakin gagah memantulkan cahaya panasnya ke bumi. Keringat mengalir di tubuh tiap-tiap manusia yang sibuk di sudut-sudut pasar. Kudatangi tempat yang dijanjikan Ni Luh, tapi sosoknya tak ada. Aku letih. Hampir setiap celah pasar sudah kujelajahi. Namun sosok perempuan yang mengambil sekarung beras dariku itu tetap saja tak terlihat. Aku mengeluh dalam diam.
Ucapan ibuku kembali terngiang. Kalau mau jadi pedagang harus melupakan belas kasihan! Perlahan-lahan, aku mulai membenarkan ucapan ibuku. Aku merasa telah menjadi pedagang yang bodoh. Yang mudah diperdaya oleh mulut manis seorang kuli angkut pasar yang mengenyam pendidikan SMP pun tidak. Habis sudah karirku sebagai pedagang beras bila hari ini tidak kutemui sosoknya. Ibu akan memarahiku habis-habisan. Satu karung beras lagi telah lenyap. Total semua, enam karung beras yang telah kuberikan pada orang-orang yang tak bertanggungjawab. Setiap karungnya berisi lima puluh kilogram beras. Jadi, semua kerugian yang kuciptakan, tiga ratus kilogram beras tanpa bayaran sepeser pun.
“Kau sama saja dengan Bapakmu si seniman kere itu. Jangan pernah percaya dengan penampilan luar manusia. Mereka memiliki berjuta kedok. Kau terlalu lemah, terlalu percaya, kalau begini terus kau bisa ditindas dan dijajah orang lain!” cerocos ibuku seakan-akan kembali mengorek-ngorek gendang telingaku. Getar rasa takut mulai memberi sinyal padaku. Ni Luh Kerti, di manakah kau kini? Tanyaku berbaur dengan rasa takut dan sedih.
Hingga langit berubah menjadi gelap, dan bintang-bintang mulai menyembul perlahan-lahan, aku masih berkeliaran di areal pasar Kumbasari. Rumah di tepian tukad Badung seperti yang tertulis di kertas kecil pemberian Ni Luh, hanyalah sebuah alamat palsu yang berhasil memperdayaiku. Aku semakin merasa pasti apa yang diucapkan ibuku benar.
Kini ruang jelajahku bertambah, kususuri Jalan Gadjah Mada, dan Banjar Titih sembari melemparkan pandangan ke berbagai sudut lorong pertokoan. Aku berharap menemukan sosok Ni Luh Kerti di situ. Mataku kupaksa bekerja keras meneliti tiap perempuan yang mirip dirinya. Tapi dia tetap tidak terlihat. Perempuan itu seolah lenyap ditelan bumi.
Aku hampir saja mengutuknya, mengucapkan segala sumpah serapah yang mengkristal di dalam dada. Tapi niatku itu kuurungkan. Sebab, di saat kata-kata menyakitkan hendak terlontar, kudengar seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun menegurku.
“Mbok terlihat bingung, bisa saya bantu?” tanyanya lugas, mata anak itu bening, sebening aliran tukad Badung yang mengalir di pagi hari.
“Kamu kenal dengan Ni Luh Kerti?”
Bocah laki-laki itu mengangguk.
“Bisa antarkan saya ke rumahnya?” Bocah itu diam sejenak. Ia berbalik menatapku tajam. “Mbok tidak tahu apa yang terjadi dengannya?”
Tentu saja jika aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu, kataku dalam hati.
“Dia sekarang ada di penjara Kerobokan. Kemarin dia ditangkap polisi karena menipu Dadong Sadru.”
“Menipu apa?”
“Beras. Beras Dadong Sadru diambilnya. Perempuan itu gemar berhutang, hutangnya sudah menumpuk di nenek tua itu. Menurut Kelihan Banjar, Ni Luh pantas berada di penjara, karena dia kerap menipu warga.”
Ucapan bocah laki-laki itu seakan menambah penderitaanku. Semangatku pupus bersama datangnya gerimis dari langit Denpasar. Aku tak berani pulang ke rumah. Sekarung beras yang telah diambil Ni Luh Kerti dariku akan menambah nestapa hidupku..
Tak ada harapan untuk lepas dari kesalahan yang telah kulakukan. Satu-satunya jalan adalah mencari Ni Luh Kerti di penjara Kerobokan. Penjara yang menjadi tempat berkumpulnya para penyalahguna hukum itu, merupakan jawaban pasti apakah Ni Luh akan membayar hutangnya hari ini. Di situlah aku menggantungkan asaku. Sekarung beras yang menjadi masalah itu, harus kutuntaskan sekarang juga. Ni Luh musti mempertanggungjawabkan semua janjinya. Dan aku harus memenuhi permintaan ibuku. Pilihan yang berat memang. Tapi itulah yang harus kulakukan.
Bangunan kokoh dengan tembok tinggi melingkar yang di atasnya dihiasi kawat berduri lengkap dengan setrum yang berkekuatan ribuan volt itu, berdiri kokoh, membisu bagai raja yang penuh wibawa. Di dalamnya bersemayam puluhan bahkan ratusan manusia yang bersalah maupun yang tidak bersalah. Di situlah kini aku berada. Di tempat ini kucari jejak Ni Luh Kerti.
Apapun yang akan terjadi, ini malam terakhir aku harus menemukan dirinya. Perempuan muda yang telah menipuku itu, harus membayar janji yang telah diucapkannya padaku. Janji itu adalah tiketku untuk pulang ke rumah, untuk menebus kesalahanku pada ibu.
Ni Luh Kerti menatapku kosong dari balik jeruji besi. Ia tampak pasrah. “Tiang ten ngelah pis anggo mayah utang.” Katanya serak, dalam nada suaranya mengandung permohonan belas kasihan yang dalam. Ia ingin aku mengerti akan keadaannya.
Saat itu tanpa sadar aku telah mengiyakan permintaannya. Perempuan yang dijuluki penipu kelas kakap ini, seakan sadar kalau dirinya sudah menerima cap itu dengan segala konsekuensinya. Meski ia telah terbiasa berada di balik jeruji penjara, aku malah merasa apa yang terjadi pada dirinya tidaklah adil. Ia kini benar-benar dianggap tak berharga sebagai manusia. Dan ia sadar kalau dirinya telah berada di titik nol.
Tidak ada jalan keluar yang bisa kulakukan kini. Melihat penampilannya yang kumuh, perutnya yang membuncit dan garis hitam di bawah matanya, batinku meronta. Aku tak kuasa memaksa maupun mengeluarkan kata-kata kasar padanya. Baru kusadari kalau wanita ini tengah hamil tua dan ia bahkan meminta aku membelikannya sebungkus nasi rames.
“Tiang konden medahar uling semengan.” Katanya memelas.
Aku makin iba padanya.
Keluar dari penjara, langit telah hitam pekat. Dengan langkah gontai kutinggalkan bangunan kokoh yang ditempati segala bentuk karakter manusia. Gerimis malam menyentuh pelipisku, kuhapus perlahan dengan rasa pasrah di hati. Malam ini, aku siap menerima kemarahan ibuku. Dalam bisnis aku telah gagal. Namun di balik kegagalan itu aku bertanya dan terus bertanya, salahkah apa yang telah kulakukan?
….
Akhirnya hari yang mencengangkan itu tiba. Semua dibuat terkejut. Manusia yang ada di rumahku gempar. Mereka menatap penuh tanda tanya pada sesosok mahluk mungil yang terbungkus rapi dengan kain flannel tepat di depan pintu rumahku. Ibu menatapku curiga, Bapak pun demikian. Dua adikku berlari lalu bersembunyi di kolong meja. Pak Nyoman Rinten Kelihan Banjar kami menjambangi rumahku sambil membawa notes dan alat tulis. Para tetangga geger.
“Bayi siapa ini?” tanya Nyoman Rinten.
“Entahlah. Nia, kau tahu ini bayi siapa?” Ibu menatapku curiga.
“Mana saya tahu.”
“Jawablah yang jujur. Jangan-jangan…kau…” Ibu terus mencecarku.
“Sungguh saya tidak tahu.” Air mataku hampir keluar.
“Lihat ini!” Ayah mengeluarkan sebuah amplop dari balik kain flannel penutup sang bayi. Beramai-ramai kami menunggu apa isi surat dalam aplop itu :
Ini anak saya. Beri nama dia Gde Sumerta. Dia saya titipkan di sini sebagai ganti membayar hutang sekarung beras yang saya ambil. Tolong jaga dia dengan penuh kasih sayang. Beri dia pendidikan yang baik, sebab saya tidak bisa melakukannya. Terimakasih sudah merawatnya. Ni Luh Kerti.
Bapak melipat surat itu dengan penuh perasaan. Ibu membisu di tempat duduknya. Pak Nyoman Rinten tak banyak cakap, pulpen di tangannya kembali dimasukkan ke saku bajunya. Beberapa warga kembali ke rumah mereka masing-masing. Cericit burung di pagi hari terdengar dari pepohonan. Langit di kota Denpasar mulai berwarna biru cerah. Bayi yang terbungkus kain flannel itu menguap perlahan, matanya yang indah, bening dan penuh cahaya berputar sejenak lalu mengatup kembali. Ia tertidur lelap di pangkuan ibuku.
Catatan :
- Seken niki alamat tiang, tian ten nguluk-nguluk : Sungguh ini alamat rumahku, aku tidak berbohong.
- Matur seksame nggih, tiang lakar mayah mekejang buin mani : Terimakasih ya, saya akan bayar semuanya besok.
- Tiang ten ngelah pis anggo mayah utang : Saya tidak punya uang untuk bayar hutang.
- Tiang konden medahar uling semengan : Saya belum makan sejak pagi.
- Dokar : Delman
- Dadong : nenek
- Kelihan Banjar : Pimpinan Banjar (Semacam RT/RW)
- Mbok : Kakak
Dimuat di Bali Post Minggu Februari 2010