Dari Rumput Hingga Pesawat Terbakar di El Tari

suluhnusa.com_Setelah rumput terbakar pesawat Angkasa gagal landing dan terbakar.

Beberapa hari terakhir musibah penerbangan kembali terjadi. Di bandara El Tari Kupang, pesawat Angkasa Air terbakar. Dua hari sebelumnya terjadi kebakran pada rumput di sekitar bandara.

Rumput terbakar di dekat landasan terbang Bandara Eltari, membuat tiga maskapai penerbangan yang beroperasi di Bandara El Tari Kupang mengalihkan pendaratannya.

Tiga maskapai penerbangan yang sempat mengalihkan penerbangan, yakni Nam Air, Susi Air dan Trans Nusa ke Bandara Frans Seda Maumere dan Hasanudin, Makassar.

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang, I Gusti Ketut Gede Arnawa membenarkan pengalihan pendaratan tiga maskapai penerbangan lantaran terbakarnya rerumputan di dekat landasan pendaratan Bandara El Tari Kupang.

Lantaran kebakaran rumput itu, bukan saja tiga maskapai penerbangan yang mengalihkan pendaratan tetapi penerbangan Garuda juga sempat tertahan beberapa menit di udara.

Kebakaran itu sempat heboh karena dikhawatirkan akan merambat ke terminal Bandara El Tari Kupang. Tetapi karena PT Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang memiliki armada pemadam kebakaran, sehingga api dapat dipadamkan. Kebakaran rumput ini terjadi Ini terjadi pada Senin, 5 Agustus 2015.

Sementara itu, Kamis, 3 September 2015 Pesawat Angkasa Air Boeing 737 seri 400 PK-Koe yang terbang dati Jakarta gagal landing. Kegagalan ini mengakibatkan dua orang penumpang tewas karena pesawat Angkasa Air dengan nomor penerbangan Koe 084 itu terbakar. Pesawat naas itu mengangkut 95 penumpang, diduga mengalami swing grip pada lambung bagian kiri.

Selain dua penumpang tewas, sekitar 15 penumpang luka berat dan 78 penumpang luka ringan.

Hari ini, naas bandara Eltari Kupng. Sebab, belum habis kepanikan penumpang atas musibah Angkasa Air, tak berselang lama terjadi kebakaran di plafon ruangan kantor imigrasi, bea cukai, dan karantina di terminal kedatangan Bandara El Tari Kupang.

Kejadian kebakaran di kantor Imigrasi ini, mengakibatkan Sebanyak lima penumpang mengalami luka sedang dan tiga orang luka ringan dan dua perempuan pingsan akibat menghirup asap. Para korban tersebut dievakuasi Pembinan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) dan langsung ditangani di kantor kesehatan pelabuhan (KKP).

Berselang satu jam kemudian petugas keamanan menemukan tas ransel di depan costumer service Komodo Air yang diduga berisi rangkaian bom. Tim gagana Birmob yang tiba di lokasi memerintahkan mengamankan dan mengevakuasi rangkaian bom aktif yang ditemukan di Bandara El Tari Kupang.

Rangkaian kejadian itu merupakan bagian dari skenario latihan penanggulangan keadaan darurat dirgantara raharja ke-48 PT Angkasa Pura I Kupang. Latihan itu melibatkan 329 personil dari TNI AU, Angkasa Pura dan instansi lainnya.

“Latihan PKD ini merupakan komkitmen angkasa pura I untuk mewujudkan keselamatan dan keamanan penerbangan,” kata Direktur Operasi Bandara El Tari Kupang, Yushan Sayuti.

Latihan ini, menurut dia, untuk memastikan kesiapan bandara El Tari dalam mengahadapi kondisi emergency, dan melatih dan memantapkan kemampuan personil di Bandara.

“Ini untuk menguji fungsi penanggulangan keadaan darurat di bandara,” katanya.

Sebab, musibah pernah terjadi saat ban pesawat Komodo Air tidak keluar hendak turun di Bandara Udara (Bandara) El Tari Kupang, 29 Februari 2012. Pesawat Komodo Air, jatuh dan terbakar.

Musiba lain, pesawat Merpati jenis M 60 dari Bandara Soa, Bajawa, Flores mengalami kecelakaan di Bandara El Tari, Nusa Tenggara Timur. Salah satu mesin pesawat terbakar ketika mendarat sekira pukul 09.40 Wita.

Petugas pemadam berhasil memadamkan kobaran api dari mesin pesawat yang mengeluarkan asap hitam. Dua unit mobil pemadam dikerahkan untuk memadamkan api yang keluar dari mesin.

Pesawat terhenti di ujung landasan pacu dengan kondisi rusak parah. Badan pesawat patah dua dan kedua baling-balinya terlepas.

Beruntung, saat itu, 46 penumpang, salah satu di antaranya bayi serta empat kru berhasil selamat, meski mengalami memar dan luka terkena pecahan kaca. Musibah ini terjadi pada 10 Juni 2013 silam.

Maka latihan rutin penanggulangan musibah mesti dilakukan untuk mengantisipasi kejadian luar biasa yang bisa terjadi kapan saja. (goristakene/sandrowangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *