Seutas Benang Cinta

I

Aku adalah si trias itu.

Pada suatu hari, sebelum aku membuat sebuah tulisan tentang pementasan karya ibsen di teater terbuka taman kebudayan kota, aku membaca sebuah ceritra pendek di sebuah Koran yang dikirimkan ke kantor kami sebagai nomor tukar.

“Hai !” kataku pada rekan di sampingku.”Aku tertarik sekali pada cerpen ini. Siapakah kiranya pengarangnya? Namanya di sini………….Monika. Tapi ini nama samaran. Tidak pernah nama baru begini memperlihatkan suasana hati dan bobot pengalaman batin yang mampat-padat begini. Perhatikan untaian katanya yang mengalun pelan tetapi penuh duka keperempuanan yang rahasia. Ia mengisahkan detik-detik melahirkan. Dengarlah kalimat ini, kawan: perempuan itu telah bebrapa saat terbaring di kamar rumah sakit bersalin itu. Ia tidak menyadari akan kesepian kamar sunyi hospital yang putih itu karena jantungnya sedang bekerja keras secara rahasia mengelindingkan sebuah salib baru keharibanan dunia. Ia berkeringat. Keringat dingin dalam panasnya api nasib perempuan: perempuan selalu berada di jurang maut manakalah harus melahirkan anak. Akulah yang celakah.

Semua ini karena kebiasaanku membaca ceritra pendek maupun panjang dikalah jaga malam mapun siang. Aku di ajarkan oleh cerita-cerita yang kubaca untuk menjadi sadar akan tragicnya sebuah rahim yang menggelindingkan beban dunia alias bayi alias manusia cilik itu. Aku adalah suster yang paling celaka, karena aku sadar akan penderitaan perempuan itu. Hatiku jadi peka dan teriris-iris dank arena itu, akulah yang tragis itu, barangkali. Oh, perutku nyeri manakala melihat perempuan melahirkan. Apalagi perempuan yang di mukaku ini. Menurut pengakuanya padaku, ia telah kawin tiga kali dan setiap kali ia melahirkan, suaminya tidak ada. Oh ! aku jadi ngeri. Kamar sunyi hospital itu member suasana nestapa dan sunyi. Di manakah suaminya?

Alangkah bahagianya ia kalau anaknya menggelinding ke dalam dunia yang dingin penuh dengan angin penyakit ini, kalau pada saat anak membunyikan tangis-tangis ketakutanya yang pertama terhadap dunia yang berbahaya ini, sang suaminya datang mendekat, mencium sang ibu sebagai tanda terima kasih, bahwa kerja sama raksasa ini telah berhasil dengan selamat justru karena jasa seorang perempuan!

Di manakah sang suaminya ? celakalah aku, seorang suster yang penuh dengan angan dan ingin yang lain dari yang lain ini. Aku cepat bertindak: aku senyum pada sang ibu. Aku memegang nadinya, kemudian aku mencium kedua belah pipi sang ibu, sambil menangis dan terharu dan bahagia sekaligus, karena sejenisku telah luput dari maut…

Temanku redaktur ceritra fiksi itu, mengangkat kepalanya dan memandang aku kemudian berkata: ”pengarangnya adalah seorang wanita mudah, yang baru bercerai dari suaminya yang ketiga. Dia pernah ku lihat di sekolah teater tropic tetapi tidak selesai, justru karena buruh-buruh kawin itulah. Sekarang ia kesepian barangkali dan duda seperti kau memang perlu mendekati dia. Bawalah dia kembali ke jalan yang benar: kepada teater.”

Saat itu juga aku membujuk temanku untuk mendapatkan alamat Monika. Hari itu aku bekerja sampai sore karena aku harus lembur menyelsaikan tulisanku mengenai pementasan ceritra Ibsen. Setelah naskahku jadi, aku menyerahkannya ke redaktur pelaksana dan selanjutnya aku mandi di kamar mandi kantor. Biasanya aku membawah pakaian serep ke kantor untuk keperluan-keperluan mendadak.

Aku langsung menuju ke alamat yang di berikan oleh rekanku dan setiba di sana ada seorang ibu tua menyambutku dan mengatakan padaku bahwa Monika telah kembali ke teater: ia harus berlatih setiap hari di Taman Kebudayaan. Ibu itu menganjurkan aku untuk menemui monika ke tempatnya berlatih. Sudah tentu aku gembira sekali, aku bersemangat sekali, aku buruh-buruh sekali menuju ke taman kebudayaan.

Aku duduk menunggu dia di tepi kolam sambil memandang ikan-ikan mas yang berenang bercumbuhan. Dia sedang berlatih di teater tertutup ketika aku dating dan bertanya pada seorang actor, yang manakah kiranya yang bernama monika, aktris yang pernah belejar di sekolah teater tropic itu actor ini menunjuk seorang wanita manis yang sedang bercoloteh dengan kata-kata yang di gubah oleh kamus.

Setelah itu barulah aku duduk di tepi kolam itu, memandang ikan-ikan mas itu. Aku tidak sabar. Sebentar-sebentar aku bangkit dari bangku beton yang ku duduki lalu berjalan menanggalkan sepatu dan kaosku menuju tepi kolam. Aku duduk sambil merendamkan kaki kemudian sebentar-sebentar mengebas-ngebaskan kakiku ke air. Ikan-ikan pada berlarian riang atau gelisah seperti juga hatiku, seperti juga kakiku yang bergoyang-goyang di air kolam. Angin bertiup ringan tetapi daun-daun bisa bergugurana turun pelan-pelan ke permukan kolam. Mengapakah angin yang ringan dapat menggugurkan daunan? Soalnya daun-daun itu adalah yang berjatuhan di permukan kolam itu memberikan suasana yang enak karena terpikir olehku bahwa kedatanganku di tepian kola mini disambut oleh hamburan daunan alaa yang rupanya turut memberikan restu atas itikadku mengejar seorang aktris teater yang bisa juga menulis sebuah cerita pendek lumayan tentang kehidupan wanita yang melahirkan di Rumah Sakit bersalin. Hatiku jadi gembira dan kakiku terus menceplu-cepluk air.

“Hai ! kritikus kita sedang mengeritik kolam dengan kakinya !” terdengar suara wanita di belakangku. Aku menoleh kepadanya dan bertanya kepadanya : ! bagaimana anda bisa tahu bahwa aku seorang kritikus ?”.

Dia tidak menjawab dan aku tiba-tiba malu atas kebodohanku sendiri. Aku tidak keritis lagi, karena tidak mengetahui bahwa setiap hidung yang berhubungan dengan teater di Kota ini tentu mengenal kritikusnya sendiri. Aku berdiri serentak sentak dan terus menyorong tanganku. Kami berjaba tangan.

“Monika, namaku Monika” kataku mengucapkan namanya.

“Terias,” katanya. Dia mengucapkan namaku.

Mata kami saling memandang. Nampaknya sama-sama jalang. Kami, tiba-tiba tertawa kecil akan akting kecil ini. Aku lalu merenggut dan menariknya duduk di bangku beton di tepi kolam.

“tadi aku membaca cerita pendek anda sudah berapa cerita pendek yang anda buat?” tanyaku.

“cukup banyak. Aku memilih semenjak di Sekolah Teater Tropik. Tetapi semuanya hanya latihan.

Aku belum sempat merevisi kembali dengan pengalaman hidup dewasa. Tetapi rasanya aku tidak serius menulis. Aku kepimgin kembali ke Teater saja. Tapi entalah bagaimana jadinya nanti”, kata Monika. Dia menarik nafas berat, barangkali karena capek berlatih, barangkali karena hidupnya memang berat seperti terpancar sedikit dalam cerita pendeknya yang ku baca tadi.

“Latihannya cukup lama, tadi? Tanyaku.

“Tiga jam,” Katanya.

“Kapan akan dipentaskan?”

“Sebulan lagi,” Katanya. Dia menarik nafas : “capek sekali.”

“Sudah minum? Katanya.

“Belum” Katanya.

Aku bergegas menuju kafe “ars longa” yang terletak tidak jauh dari kolam itu. Kuambil dua bungkus eskrim lalu aku kembali kepadanya.

“sory” katanya.” Aku tidak bisa minum es. Begitu aku minum es fluku kumat” katanya.

“aku juga. Bakat badanku juga begitu. Kalau minum es, badanku jadi demam,” kataku.

“kenapa dibeli?” Tanya Monica.

“Aku pikir bahgianku untukmu. Dua-duanya untukmu, seluruh hidupku untukmu”, kataku kepadanya sambil menatap wajahnya. Pandangannya meloncat dari mataku ke kolam yang permukaanya bergoyang oleh angin lunak dan ikan-ikan.

“tetapi begini saja” katanya.

“Aku tiba-tiba jadi panas dan ini menimbulkan daya tahan terhadap es. Biasanya begitu : kalau aku merasa panas, barulah aku berani minum es”, katanya.

“badanmu kenes benar,” kataku.

“jangan menyindir.” Katanya mendorong bahuku. “ayo, ini, kita sma-sama makan es krim.”

Lalau lidah kami tidak sempat berbicara karena sedang sibuk menari-nari permukan es krim. Tidak berapa lama kemudian bungkusannya kami buang ke keranjang sampah yang terletak di pinggir bangku.

“Demam?” tanyaku.

“tidak,” katanya. “mungkin sebentar lagi.”

Tanganku merabah keher dan pipinya. Semuanya masi normal aku menarik tangannya ke leherku dan berkata: “aku juga tidak apa-apa. Tidak demam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *