Seutas Benang Cinta

“Ceritrakanlah. Kalau diam terus, aku bisa ingat anakku di rumah”, kata monika.

“Aaa, kalau begitu, kaulah yang lebih dahulu memperkenalkan riwayat hidupmu padaku. Bukankah mala mini malam perkenalan kita? Saat inilah saat yang paling bersejarah buat kita berdua. Intuisiku berkata begitu,” kataku dengan penuh gairah, lalu lengan kananku memeluk merapatkan badannya ke dada kananku. Kmudian, telapak tanganku menempel ke pipi kanannya dan kepalanya ku tarik ke dekatku: aku mencium pipi kirinya.

Ia agak mengelak dan berkata: kaulah dulu yang menceritakan riwayatmu padaku. Kita sudah cukp tua untuk kehidupan ini, kita sudah cukup makan garam dalam perkara duduk-duduk dan mengalami romantika pantai begini dan semuanya bukan apa-apa. Kuno! Aku pernah mengenal namamu, tetapi aku tidak mengenal siapa sebenarnya kau. Semenjak tadi pertemuan kita di kolam, kemudian kata-katamu mengalir sampai di ‘ restoran roda’ tadi, aku telah mengerti sedikit-sedikit maksudmu. Aku ngeri kalau segalanya terjadi terlalu cepat dan hilang terlalu cepat. Maksudku, malah…”

“aku adalah orang yang paling sial di dunia, karena badan dan batinku telah lama di kunyah-kunyah oleh konflik rumah tangga”, katak.

“memang, orang menceritrakan bahwa kau hidup sendiri sekarang, jauh dari anak istrimu”, kata monika. “anakmu dua, bukan?” “ya,” kataku cepat. “sykurlah kalau kau telah mendengarnya”.

“Tapi kau bukan belum bercerai bukan,” Tanya monika.

“Belum,” kataku. Hanya pisah ranjang dan meja makan, “ sambungku” buat apa berkumpul satu rumah, kalau lelaki dan perempuan yang berkumpul dalam satu rumah itu yang satu jad singa dan yang satu jadi harimau? Aku pikir, kalau ada wanita lain yang mau menerima hidupku, aku akan minta cerai resmi di pengadilan dan aku akan kawin resmi dengan dia. Oh, walaupun perkenalan kita terlal singkat, kata hatiku menggemuruhkan mulutku untuk berkata bahwa barang kali kaulah itu, wanita itu, tetapi siapakah kau monika?” tanyaku sembari ku tarik pipinya lalu ku kecup dia dan kali ini lehernya luwes tak mengelak.

“Barangkali kita saling mengirim kata-kata dari hati yang bertanya-tanya ini, kepada hati yang juga bertanya-tanya itu,” kata monika.

“tetapi sudahlah, jangan lagi betanya-tanya. Malam ini jawabnya telah begitu cepat terjadi. Kita telah berada di sini, dan kita mulai mendapat jawaban. Memang perkenalan kita terlalu cepat. Aku mengenal kau lewat ceritra pendekmu itu, dan lewat temanmu yang kini menjadi kolegaku. eh, sejak kapan kau mengenal dia?”tanyaku.

“Ketika aku masih belajar di Sekolah Teater Tropik dulu. Ketika itu ia bekerja di sebuah majalah mingguan Film dan Teater sehingga demikian ia selalu harus bergaul dengan aktris-aktris dan calon-calon aktris. Tetapi sudah lama aku tidak bertemu dengan dia, semenjak aku kawin. Semenjak aku bercerai dan hidup menjanda pun aku belum pernah bertemu dengan dia, tetapi dia masih ingat. Nampaknya salah satu dari dia dan seorang temannya menaruh perhatian padaku dan selalu menghantarkan aku pulang sekolah. Tetapi aku harus meninggalkan bangku sekolah untuk menjamin hidup adik-adik dan ibuku, sebanyak enam orang semuanya. Bayangkan”. Monika terdiam dan sudahlah tentu akupun terdiam.

Stop ! Jangan melibatkan emosi. Stop ! aku berusaha supaya setiap utas benang emosi dalam jiwaku tidak tergetar.

Soalnya, aku adalah orang yang paling cengeng: nonton film drama atau tragedi pentas saja misalnya, aku sudah bisa menangis. Apalagi duka nestapa wanita. Nah ! Sekarang aku harus berani mendengarkan nasib seorang janda yang diceritakan oleh yang bersangkutan kepadaku. Aku harus jadi orang kuat : penakluk perempuan, pemain sandiwara, dan Don Juan. Aku harus bersandiwara kepada Monika si janda berganda, aku harus jadi bajing – bukan bajingan – kayak Don Juan yang berloncat riang dari pohon ke pohon sementara pohon itu tumbuh, berkembang dan berbuah, kemudian layu menurut kemauan alam – atau sebutlah kemauan Tuhan yang menciptakan alam semesta. Inilah moralku, inilah sikap hidupku.

Aku merangkul dia dan kucium rambutnya : dia membutuhkan laki-laki, sekurangnya-kurangya untuk melepaskan segala kerinduan rahasia : dia rindu akan dunia laki-laki yang rahasia pula baginya, sehingga melahirkan kejandaanya. Aku mengerti betul akan hal ini, sekurang-kurangya dari pengalamanku dan pengetahuanku sebagai laki-laki sebagai laki-laki dan sebagai seorang yang sekama ini bekerja menghadapi drama-drama di pentas teater.

“Nasibmu menimbulkan keperhatianan,” kataku.

“Hanya kepada kau kuceritakan sekarang. Aku tidak suka menceritakan nestapa kalbuku kepada orang lain,” kata Monika.

“Ah, Kau pernah menceritakan juga kepada suamimu dahulu, tentu,” kataku. “Tetapi tak apalah. Dia lain dan aku lain dalam cara menghayatinya.”

“Dia juga menghayatin hidupku, karena itu aku berani kawin dengannya. Aku telah menceritakan semuanya kepadanya : bahwa ibuku dating dari pulau, ke ibu kota dengan anak-anaknya yang masih kecil. Aku mengatakan padanya bahwa kami hidup untung-untungan mengadu nasib mencari makan dalam genggaman jemari Jakarta dengan kuku-kukunya yang buas.

“Susah sekali jadi keluarga broken-home”, katanya seraya merapatkan badannya ke dadaku, seolah dadaku pelabuhan yang damai bagi sebuah bahtera yang tak layak lagi berlayar dalam samudera kehidupan ini.

Dan aku berpikir, bahwa harus demikianlah aku, kini dan nanti. Tidak. Pikiran yang demikian tidak mutlak benar, karena camar-camar hawa nafsu atau apalah namanya yang sebenarnya sudah pula tidur ngorok dalam dunia bawa-sadarku kini mulai terapung-apung ke atas permukan cermin air laguna. Bersama-sama dengan cahaya kappa-kapal pesiar yang pecah bergoyang-goyang dalam air, bersama dengan lagu-lagu malam dukana dunia, kurenggutlah Monika menjadi punyaku, seperti halnya mendapatkan durian runtuh. Monika yang hidupnya berduri ini mulai kuperlakukan sebagai komoditi yang baru kubeli di Taman Kebudayaan tadi sore. Aku mulai memamah-mamah sebuah keramahan lahiriah, sebuah kemanisan dunia, sampai aku capek. Dan Monikapun demikian. Kami jadi lupa pada masa lampau kami yang tentuhnya penuh dengan luka. Malamlah, malam laguna inilah yang membikin kami jadi lupa.

Kami bangun dari kursi kayu itu lalu langkah kami mendesir pasir, menyatu diri dengan lagu-lagu pantai yang terpancar dari kafe. Kami berjalan mengalun menuju rumput-rumput pantai lalu berdiri sambil meremas-remas jemari di bawah sebuah pohon sirsak yang memandang dua homo sapiens yang brengsek. Mengapa tidak brengsek, kalau pohon sirsak yang bersih di bawah langit berbintang itu melihat dua makhluk Tuhan itu memamah-mamah cinta dalam huruf kecil yang jatuh tadi sore dari pohon asam ?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *