IV
Seperti ada malaekat yang menyuruh aku berjaga dan berjaga saja malam itu. Aku tak dapat tidur sama sekali. Jika aku bangun dan mondar-mandir di sekitar tempat tidur, mataku terasa berkunang-kunang. Berjalan dan berjalan keliling kota dengan perasaan yang kosong di terik siang, kemudian pulang larut malam, adalah tamasya fakir miskin yang paling kualat yang pernah kualami dalam hidupku. Kalau dapat perutku menghitung dan mengatur makanan dan air yang telah masuk ke dalamnya, maka tidak lebih daripada beberapa butir kue atau kacang tanah kemudian teh, kemudian kopi dan itulah semua yang dapat menahan tegaknya badanku di atas kaki yang telah berjalan dan berjalan tak tentuh arah dari rindangnya pohon yang satu ke pohon yang lain, dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Mulutku sudah beberapa ribu kali menyembunyikan bahasa nasionalku dan bahasa inggris – dua bahasa yang kukenal selama ini – tetapi semuanya percuma. Tidak ada uang yang masuk kecuali lapar dan sunyi dan ketegangan bathin yang luar biasa.
Dalam tempo tiga bulan setelah aku bertemu dengan Monika di bawah pohon asam itu sudah terlalu banyak yang terjadi. Mula-mula seluruh isi kantor, sampai dengan bos jadi gempar, karena aku memilih istri yang tidak cocok sama sekali bagi pandangan mereka.
Mereka mengatakan : mengapa memilih perempuan yang begitu ? Perempuan kemidi stambul, lepasan putus sekolah karena keburu bunting dan sehabis buntingpun, pergi-pergi dengan pacar baru, padahal yang membuntinginya kepingin bertanggung jawab sepenuhnya, tetapi karena kenes dan liar kayak burung belibis maka sang lelaki mencari istri yang tidak kenes liar kaya belibis. Seluruh isi kantor berkata : mengapa di kantor ini ada perawan alias gadis baik-baik tapi aku memilih perempuan lacur.
Tetapi semua yang dating dari pihak luar, bukan apa-apa: aku telah minta keluar dari pekerjaanku dan dengan uang sangu serta gaji yang terakhir aku datang tinggal bersama Monika satu atap. Aku besedia melawan setiap guncingan orang. Aku bersedia mencari makan di luar perusahaan yang lama karena para manajernya turut mencampuri urusan pribadi sekalipun semuanya demi kebaikanku. Mereka sangat saying pada orang yang cukup lama hidup sendiri dan mengharapkan kebahagiaan dalam rumah tangga yang akan datang. Mereka terlalu baik padaku, aku mengerti, tetapi aku juga mempunyai hak untuk memilih yang lain. Semuanya bukan apa-apa, semua yang datang dari luar itu.
Tetapi yang ada apa-apanya ialah dalam rumah ini. Malam ini aku tak dapat tidur karena aku tak tahan lagi : rumah ini adalah Ghetsmane – adalah taman di mana anak insane bergumul dengan batinnya sendiri, lalu berkata : ya Bapa kehendakmu jadilah.
Monika ibunya dan saudara-saudaranya sedang tidur nyenyak sekali karena mental mereka telah lumpuh oleh serangan nestapa dunia barangkali. Malam ini aku tak dapat tidur karena karena itu aku beseru. Ya Tuhan aku berada dalam sarang laba-laba !
Semenjak aku keluar dari perusahaanku, seperti sudah kukatakan aku mengontrak sebuah rumah yang lain, karena kau piker bahwa mengajak seorang janda dengan anak-anaknya adalah pekerjaan yang sangat muda di banding dengan mengawini seorang gadis remaja yang pasti membikin kepala jadi pusing dengan urusan royal-royalan pesta segala. Monika telah menyerakan badan dan kata-kata, yang menurutku, ke luar dari hatinya, bahwa ia akan menerima hidup bersama dengan akau sampai dengan satu saat kami akan nikah resmi. Monika sudah tak begitu percaya pada kertas-kertas alias surat nikah segala, karena toh pada akhirnya cintalah dan bukan kertas segala yang menentukan.
Ada kertas-kertas nikahpun, orang bisa bercerai. Tetapi Monika tidak mau tinggal berpisah dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Aneh betul. Karena itu aku mengalah lalu aku memasuki rumahnya yang penuh dengan suasana menekan itu.
Barangkali aku tidak sempat mengatakan semua ini, kalau tidak ada malaekat itu. Dia menggerakkan hatiku dan badanku berjaga. Aku betul-betul berjaga. Mataku terbuka nyalang menengadah ke loteng gedek yang dilebur putih dan untunglah di sana ada sarang laba-laba.
Tidak ! laba-laba keparat itu membikin aku bertambah gentar tatkala sarangnya gemetar karena ada sejumlah nyamuk yang masuk perangkap, lalu sang laba-laba pun menangkap satu persatu kemudian dililitnya dengan ludahnya yang berisi temali gaib yang kuat memusnahkan dunia lain di luar dunianya.
Aku makin gentar, aku makin berjaga, aku gelisah. Wahai, apakah yang sedang kugelisahkan ?
Di sampingku terbaring damai-damai sesosok kecantikan yang bernama badan Monika yang sedang nyenyak, yang hidup bersama denganku di bawah satu atap, di bawah satu nasib, di bawah satu harapan bahwa kami akan membina masa depan kami yang tak lagi penuh dengan ketegangan.
Dari segala gerak-gerik siaga malam itu, gerak-gerik yang digerakkan oleh malaekat itu, adalah gerak kepala dan mataku ketika aku capeh mondar-mandir dalam kamar lalu membaringkan badanku.
Kepalaku kupalingkan kepadanya. Tiada yang kulihat selain rambutnya dan di seberang rambut itu ada dahi yang bagus, kemudian hidung, kemudian bibir dan dagu yang bagus pula. Semua ini memungkinkah dia masuk Sekolah Teater Tropik.
Semua yang bagus itu, adalah sejauh rangkulan alat pengelihatanku yang dua – mataku yang dua – yang sedang berjaga-jaga. Bangsat ! Tiada satu apa yang membikin aku gelisah kecuali kebagusan Monika. Mengapa pula aku harus begini geliasah ? Aku harus tidur. Tidurlah kau Trias, matahari besok menantimu, matahari tropic yang indah dan penuh harapan biar susah sekalipun.
Maka tidulah aku, mula-mula dengan menutup mata, kemudian bernafas dan bernafas. Tetapi ada suatu kekuatan yang berada di atas kekuatan kelopak mata dan pengaturan nafasku. Kekuatan itu membikin aku membuka kembali kelopak mataku. Aku menoleh ke kiri dank e kanan, aku mencari-cari sesuatu yang barangkali adalah penyebab segala gelisah ini. Aku melihat ke kaca lemari dengan kacanya yang memantulkan dua adam-eva.
Aha, biasanya ada gerakan semut beriring yang sering kulihat dalam kamar tidur dan menghilang lewat lubang gedek menuju lemari makan. Tetapi malam itu, seekor semutpun tak ada yang nampak. Kalau ada yang nampak, barangkali aku bisa tertolong. Tertolong sedikit. Maksudku, kalau semut- semut itu bergerak cepat, itulah kepanikan yang menunjukan bahwa sebentar lagi ada bencana alam misalnya badai atau gempa bumi. Ya, barangkali badai akan tiba sehingga aku begitu gelisah.
