Seutas Benang Cinta

Monika, Monika, seorang janda – dalam negeri pengrajin janda dan pelacur – seorang wanita yang membikin aku ragu sekaligus prihatin. Wahai ! siapakah engkau, Monika ? Aku bertanya-tanya, aku bertanya-tanya dan aku menjawab pertanyaan itu sekarang bahwa bagaimanapun aku masih mempercayai Monika walaupun ia adalah seorang janda dalam negeri yang sedang berkembang. Bukan karena memang ia seorang janda kembang alias janda muda yang kecantikannya sedang berkembang, tetapi karena ibuku adalah juga seorang janda. Inilah pula yang barangkali menyebabkan, begitu aku mendengar cerita rekan sekantorku, bahwa penulis cerita pendek yang kubaca itu adalah seorang janda, maka gelandangku telinga menggaukan sesuatu yang hidup dalam dunia prasadarku. Semua itulah mungkin yang segera mengerakkan tindakanku, tindakan tidak ambil peduli pada waktu-detik antara pertemuan di bawah pohon asam di tepi kolam dan dalam waktu canda dan cumbu yang meneng-lorkan janji pernikahan babak ke dua.

Ibuku begitu setia pada suaminya yang terakhir sehingga beliau – yang kini telah almarhum – membawa serta, dalam pernikahanya yang kedua dengan ayahku, semua anak-anaknya dari pernikahan pertama. Dan ayahku sesungguhnya adalah seorang laki-laki yang mulia:Ia telah memberi makan abang-abangku, dan menyekolahkan mereka sampai menjadi orang berguna bagi nusa dan bangsa dan yang bisa mencari makan untuk anak bini mereka. Dan aku berbahagia, dan aku mencintai saudara-saudaraku lain ayah. Demikianlah, maka kami menjadi keluarga yang sehat dan cerdas.

Dan kini aku dan monika akan mulai mengulangi riwayat yang sama itu: riwayat yang akan membawa anak-anak kami keambang masa depan mereka yang bahagia dan sehat serta cerdas seperti halnya kami bersaudara.

Aku tak ragu pada monika. Sungguh, aku tak ragu.

Aku bangkit berdiri dengan semacam kesegaran batin yang baru setelah luntang-lantung angan dan pikiran serta perasaanku sampai di sini. Kugerakkan badanku ke kiri dan kananku. Tulang punggungku berbunyi: kruk, kruk. O, alangkah segarnya. Kemudian aku duduk menghadapi makananku, tanpa pikiran apa-apa lagi kecuali makan dan makan sampai perutku kenyang-kenyang segar. Setelah semua piring mangkuk yang berisi makanan itu boleh dikatakan kosong, aku bergerak menuju jendela dan memanggil pemiliknya untuk mengangkat piring.

“kalau ada tamu mencari saya, bilang saya ke luar,ya” kataku pada pelayan.

“kalau juru-tiknya datang, bagaimana?”, Tanya pelayan warung.

“oya. Ini, kasih dia surat. Sebentar saya tulis dulu.”

Lalu aku menulis sepucuk nota untuk juru tik-ku.

Niko yang baik.

Saya kepingin tidur untuk mengumpulkan kekuatan badan dan pikiran. Hari ini tidak ada pekerjaan mengetik.

Tetapi pekerjaan di luar rumah, banyak: pertama, anda saya tugaskan untuk mencari bahan tentang keluwesan wanita jawa untuk pelengkap bab III naskah estetika. Carilah di perpustakaan dan museum. Tugas ke dua ialah: bukalah pintu pelan-pelan dengan kunci anda dan jalan pelan-pelan mengambil tustel dengan semua lensa – termasuk telenya – dan uangkan disetor ke rekening nomor 1010. O.K? saya tidur sekarang, wasalam.

Nota itu kuserahkan kepada pelayan warung.

Akupun tidur.

Tiga hari kemudian, aku bertemu monika di tepi kolam, di sebuah senja yang tenang-tenang lengang.

“kita harus nonton Strindberg”, kataku, “nonton suami-suami.”

“Jam delapan, nanti,” kata monika. Wajahnya Nampak kepucatan dank arena yang demikian itu, ia makin manis duduk di tepi kolam.

“Kau sehat-sehat saja, monika?” tanyaku. “kalau sakit kena sawan pantai, janganlah datang latihan. Atau, kau sakit barangkali: mari kita ke dokter,” kataku sambil menarik tangannya.”ayolah, mari kita ke dokter,” sambungku sembari tanganku meraba-raba pipi dan lehernya, kalau-kalau ia panas.

“Tidak apa-apa, saya sudah walaufiat,” lalu ia tersenyum sambil merebahkan kepalanya ke bahuku. “hanya perasaanku tidak enak. Aku di hinggapi oleh rasa kwatir dan cemas akan hari-hariku yang terakhir ini,” katanya sambil kepalanya menyentak rambutnya yang berjurai di dahi. “aku kangen padamu selama tiga hari ini, tetapi sekaligus aku kwatir akan perkembangan emosimu selama ini. Apakah kau sehat-sehat saja?” Tanya Monika. “apakah kau terus masuk kantor?” tanyanya lagi.

“Hari pertama setelah pertemuan kami di pantai dan motel itu, aku tidur sehari suntuk. Malamnya aku menulis resensi film dan besoknya aku menyerakannya ke kantor” kataku lalu aku memandang wajah dan matanya yang memandang jauh. Bola matanya Nampak bergerak liar, tetapi aku segera menenangkannya. “memang aku telah mendengar. Kemarin, aku telah menedengar dari rekan sekantorku itu, mengenai nasibmu. Ia bilang kau sudah pernah kawin tiga kali. Kau mendapat seorang anak perempuan dari perkawinan pertama. Begitu, bukan?” tanyaku sambil melirik ke matanya yang menggeliat-geliat gelisah. Dari perkawinan ke dua, kau mendapat seorang anak laki-laki; perkawian ke tiga, seorang anak perempuan. Tetapi aku bilang pada rekanku itu, bahwa bagiku tidak menjadi soal. Anggap saja seperti berjabat tangan memberi salam lalu pergi, kawin-cerai, adalah persentuhan”, kataku sambil menusuk-rusuknya. Ia nampak geli dan menyentak tubuhnya. “Cuma saja yang aku takutkan adalah akibat mental; jangan-jangan, kalau kita sudah nikah nanti, kau gampang sekali kasih persen kau punya badan kepada entah bekas suami-suami entah kepada bekas pacar-pacar yang semuanya tidak kukenal dan tidak mau aku kenal. Soalnya Monika yang manis, kau ini ibarat sate yang bagus buat mereka…”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *