Mungkin sebentar lagi. Tunggu saja, dua menit lagi dua buah badan yang memendam flu, akan demam. Kalau demikian halnya kita sama-sama ke dokter untuk membalas dendam pada flu.”
Hari makin sore dan udara makin enak nampaknya. Langit di atas pohon-pohon Taman Kebudayaan nampakn jernih, angin bertiup makin pelan sementara daun-daun asam terus turun ke permukaan kolam.
Aku menyapu rambutnya yang dihinggapi beberapa daun asam. Entah bagaiman, entah mengapa, kami betah duduk berlama-lama di tepi kolam itu.
Beberapa lamanya kami tidak berbicara karena aku dengar ia sedang senandung kecil menghadap kolam. Sebentar-sebentar ia menggigit jarinya, sebentar-sebentar ekor matanya menyapu mataku yang menatap salah satu pipinya.
“anda memandang aku terlalu lama. Apa yang menarik padaku?” Tanya Monika.
“Anda cantik,” kataku.
“Rayuan maut!” katanya.
“Bukan!” elakku.
“Rayuan pulau kelapa” katanya.
“Bukan!” kataku.”aku kira kau adalah laut dan aku akan menjadi colombus. Aku kira begitu. Aku tertarik pada cerita pendekmu yang nampaknya sebagai laut luas dimana terpendam didasarnya sebuah atlantis.”
“hm, hm. Nanti lain kali kita sambung, trias, aku harus pulang. Seharian ini aku tidak melihat anakku.” Katanya.
“siapakah yang menjaga anakmu?” tanyaku.
“neneknya,”katanya.
“oh. Kalau begitu aku antar kau pulang. Tidak keberatan, bukan? “ pintaku.
“aku menerima setiap tawaran pertolongan yang ikhlas,”katanya.
Dan ketika hari sudah menjelang malam, kami bangun dari bangku beton yang terletak di tepi taman itu. Aku membonceng dia dengan sepeda motorku. Angin menampar mukaku ketika sepeda motorku membelah kota dan angin itu menghawatirkan aku: aku baru saja makan eskrim dank arena itu angin dapat menimbulkan demam. Tetapi nampaknya badanku jadi hangat, karena monika juga demikian. Barangkali. Tetapi bagaimanapun badanku harus kuisi dengan minuman atau makanan hangat. Itulah gagasan yang melintasi ketika kendaraanku meluncur.
“Bagaimana kalau perut kita di isi dulu dengan makanan dan minuman yang hangat? “ tanyaku keras-keras di atas motor yang meluncur.
“Setuju, setuju ! soalnya hidungku sudah mulai gatel-gatel nih,” kata monika.
“Tapi belum demam, kan?” tanyaku.
Dia tidak menjawab atau menyambung kata-kataku karena dengan cepat aku membelok ke kiri dan kuhentikan motorku di sebuah restoran. Yang lampu reklamenya berputar-putar seperti roda. Aku member nama restoran itu sesuai dengan lampu-lampu reklamenya.
“Kita makan dan ngobrol saja di ‘restoran roda’ ini, “kataku.
Monika diam saja turun dari motor. Setelah kuparkir, kami memasuki restoran dan kamipun memilih sebuah restoran yang nyaman. Aku memesan bird an Monika meminta the panas kemudian kami meminta makanan malam yang cukup enak sebagai jamuan perkenlan ‘Roda’ itu. Roda percakapan kami mulai berjalan pela-pelan mengerdip-ngerdip bersama makanan dan minuman perkenalan yang sedap itu.
“Cerita apakah yang sedang dilatih oleh sutradaramu?”tanyaku. “teroris” katanya, “Karya Albert Camus.”
“aku berpikir-pikir, atau lebih tepat aku mengingat-ingat. Rasanya tidak ada Karya Albert Camus yang berjudul ‘teroris’.
“Apa yang dikisahkan dalam drama itu?” tanyaku.
“Pada Tahun 1905 sebuah grup di moskow, anggota partai sosialis revolusioner, membuat rencana untuk membunuh pamannya tsar”, jawab monica.
“Oh, itu. Judul aslinya ‘les justes’. Bagus, bagus aku kira drama-drama ide sangat diperlukan untuk negeri-negeri sedang berkembang.”
“Kami belum mendapat pengarahan mengenai drama-drama camus,” kata monika. ”Alangkah baiknya jika anda berkenan untuk member ceramah tentang Camus kepada para pemain,”
“Aku tidak keberatan asalkan ada honorarium Tetapi yang penting apakah sutradaramu berkenan mengundang aku ? Kemudian, apakah kau dan teman-temanmu mau mendengarkan aku berceramah ?”
“Nanti aku yang mengusulkan kepada sutradaraku,” kata Monika.
“Atau begini saja,” kataku menyuapkan ke mulutku sendok terakhir. Aku menelannya, kemudian aku meneguk sedikit air mengambil serbet dan mengelap mulutku. “Begini saja : aku member ceramah tentang Camus, kepadamu sendiri. Eh, kau jadi apa dala cerita itu ? Barangkali kau jadi Dora.”
“Ya, aku jadi Dora. Ah, bagaimana ya ? Aku belum pernah studi secara mendalam tentang Camus. Karena itu permainanku tentu akan kurang bermutu,” kata Monika.
“Tidak perlu takut. Yang kau mainkan bukan drama naturalis. Drama ide hanya memperlakukan kau sebagai boneka di atas panggung. Yang penting adalah ide. Kau jadi boneka,” kataku. Drama tersebut adalah konflik tuntutan revolusi dan tuntutan kata hati, suara kalbu,”
“Tetapi boneka tidak mempunyai suara kalbu. Aku, Monika, punya”, kata Monika mengelap mulutnya dengan serbet.
“Tapi begini saja : kita ngomong-ngomong di suatu tempat tentang semua yang berhubungan dengan teater. Sekarang baru pukul setengah tujuh. Tetapi terserah, apakah kau terlalu dibutuhkan oleh anak-anakmu ?” tanyaku.
“Aku biasa pulang latihan jam setengah sebelas malam”, kata Monika. “Kalau begitu, kita bisa teruskan malam perkenalan ini, di suatu tempat, di mana aku bisa menjelaskan padamu, wahai aktris teater yang manis, tentang Dora Kaliayev dan Stepan. Aku mohon, kau setuju dengan undanganku ini. Aku sangat gembira, bertemu dengan seorang aktris yang terpelajar kau, disbanding dengan aktris-aktris film nasional kita, yang pada umumnya berotak keledai. Sorry, aku mesti berbicara begitu, karena selama ini, aku tidak mengharapkan apa-apa dari mereka. Apalagi, seperti aku katakana tadi, aku tertarik sejali akan cerita pendekmu itu…”kataku padanya dengan suara yang lunak selunak mungkin. Monika memandang aku. Matanya berbinar ceria karena permintaanku untuk berjalan-jalan itu disertai dengan pujian dari seorang kritikus seni.
Kami meluncur menuju utara kemudian membelok ke kiri melalui sebuah taman lantana dan perdu berselang kafe-kafe pantai yang berkedip-kemerlap. Kami duduk di sebuah bangku kayu dibawah sebuah paying ilalang menghadap ke cermin air sebuah laguna. Lama juga kami duduk memandang air yang memantulkan lampu-lampu kapal-kapal kecil yang memencil disejauh sana dan semua ini membuat suasana jadi lengang, kelengangan yang bersenandung.
Monika memang bersenandung dan ini membuat aku agak khawatir: biasanya jika kata-kata tidak sempat berbicara, maka musiklah yang akan menolong manusia. Aku khawatir setelah membaca cerpenya kemudian mengetahui dari rekan sekantorku bahwa ia adalah janda berganda yang kembali kepada teater, bahwa wanita manis dan mudah ini telah mengalami konflik berganda-ganda dalam kalbu, konflik yang sukar sekali diselesaikan sehingga ia suka sekali bersenandung.
Tetapi kekhawatiranku itu, di telan oleh kelengangan yang dating secara tiba-tiba. Anehnya, kelengangan itu membikin diriku rebut sendiri. Paradoksal sekali, sial sekali.
Ahoi ! tiba-tiba kelaki-lakianku bangkit lalu bagaikan jendral tartar yang perkasa, member aba-aba kepada pasukan: majuuuuuu jalaaan ! lalu akupun maju lalu akupun berbaris sebagai laki-laki yang perkasa ; lengan-lenganku melenggang, kiri, kanan, kiri, kanan, ah!aku tak tahu akan kemana berbaris perkasa dalam kelengangan kelaki-lakianku. Aku sadar kembali bahwa aku sedang duduk bersama seorang aktris manis, janda berganda, janda tiga kali kawin, seperti yang di ceritrakan rekan sekantorku sekaligus seorang calon penulis ceritra pendek yang berbakat.
Lenganku yang tadinya ringan dan perkasa berbaris dalam imajinasiku barusan, kuulurkan sepanjang sandaran bangku pantai itu kemudian aku menarik nafas panjang lalu menghamburkannya kembali ke cermin air dan airpun seolah beriak menerima nafasku. “aku adalah laki-laki yang paling sial di muka bumi ini, monika”, kataku pelan-pelan.
“kau bilang tadi, aku akan ngobrol dengan tentang dora, kaliayev dan stepan dalam drama kamus, ‘the just.’ Kok sekarang tentang dirimu.” Kata monika dengan muka menghadap kaku ke cermin air.
Aku merasa seperti terseruduk atau diseruduk oleh perempuan yang manis ini ke pasir pantai. Tetapi tidak apa, jangan taruh di hati, anggaplah sebagai mainan di cahaya di cermin air. “persetan dengan albert camus, sekarang kita harus berbicaa tentang orang-orang di negeri kita sendiri, tentang harapanya, tentang kebahagannya, tentang kelucuannya, keadaanya, tentang cintanya, “kataku agak merengek-rengek.
