Seutas Benang Cinta

Monika menarik nafas. “Aku selalu berhadapan dengan dendam dan amarah laki-laki. Karena itu aku kepingin saja membunuh setiap laki-laki yang pernah mempersatekan aku seperti istilahmu. Aku minta maaf padamu, Trias, karena kau sudah lihat sendiri penyakitku. Tapi aku tidak mungkin membunuh orang. Aku sadar bahwa kalau aku membunuh, maka anak-anakku yang tidak punya ayah akan terlantar,” kata Monika sambil terisak-iasak.

“Sudahlah. Aku adalah ayah mereka. Apa lagi. Tinggalah satu masalah kini, kita menolong ibu dan saudara-saudaramu dalam jarak tertentu. Pikirkanlah soal ini dengan tenang Monika,” kataku sambil memeluk dia dengan mesra. Aku mengecup rambutnya berkali-kali.

Malam itu kami sangat capek tetapi aku lega karena sudah mengatakan padanya hal yang sangat prisipil buatku untuk menjalani masa depan kami. Bukankah badan yang capeh bisa diobati dengan tidur dan istirahat, makanan yang bergizi dan reaksi, tatapi kalau suasana rumah ini kayak sarang laba-laba, maka bagaimanakah pikiran bisa terbuka untuk mencari uang?

Aku bergerak mundur untuk keluar dari kolong tempat tidur itu tetap Monika mencegahnya. “Kita tidur malam ini di kolong,” katanya lalau bergerak memuatkan kepalanya di atas punggungku. Dia memeluk aku. Punggungku jadi basah karena air matanya, tetapi tiba-tiba aku menyentak: “Jangan nyentrik ah. Tidak pernahn ada suami dan istri tidur di kolong begini.”

“Kita bukan suami istri! Kau adalah gendakku, aku adalah gundikmu. Alangkah sedihnya nasibku,” lalu ia terisak memeluk aku.

“Jangan nyentrik Monika. Mentang-mentang pemain sandiwara, lalu kau suka nyentrik,” kataku menghibur Monika.

Dia menikam jarinya ke perutku. Aku tersentak geli.

Malam itu kami tidur sampai pagi di lantai di bawah kolong tempat tidur. Ketika aku bangun, leherku pegal karena kena dingin lantai. Aku tak bisa menoleh kekanan. Jadi mukaku seolah terlempar terus menerus ke kiri. Tetapi aku masih sehat. Pagi itu aku mandi pagi itu berpakian rapid an ketika akan keluar, Monika memeriksa pakianku: dia meraba badanku, kalau-kalau ada hal-hal yang terulang di seputar badanku. Ketika aku lari karena tidak tahan akan teror kerongkong mertua, aku memakai celana dua lapis, baju dua lapis plus jeket, dan kain batik melingkar perut. Semua itulah yang membikin aku bisa bertahan luntang-lantung selama dua minggu. Monika memeriksa dengan teliti seperti halnya petugas-petugas pelabuhan memeriksa kalau-kalau ada barang selundupan.

“Apa tuh yang kau pegang?” Tanya Monika.

“Estetika. Naskah buku yang akan terbit. Aku akan menyerahkannya kepada penerbit dan langsung hari ini minta preskot,” kataku.

“Baru dua pertiganya yang selesai, bukan?” Tanya Monika.

“Mereka sudah minta. Aku akan serahkan sisanya kalau sudah punya uang untuk bekerja tenang,” kataku.

“Cepat pulang,” katanya. “Aku lagi sakit nih,” sambungnya sambil menggolekkan badannya di kasur.

“Ah. Keputihan bukan penyakit seriu,” kataku mengingat penyakit Monika. “Aku akan bawa jamu.”

“Cepat pulang,” katanya lagi.

“Selamat tinggal, “ kataku setelah mengecupnya, lalu berjalan dengan kepala yang terkiri-kiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *