V
Semenjak peristiwa-peritiwa yang memukul hidupku di dalam rumah Monika, aku jadi suka bermurung. Mengapa aku begitu murung? Soalnya semuanya amblas! Tetapi semua yang bernama materi dan uang bukanlah apa-apa: yang habis bisa dicari, barang hilang bisa dipulangkan dengan uang yang dicari, tetapi kalau semangat kerja jadi hilang karena seseorang terlalu bermurung, maka inilah yang bikin payah. Payah, sungguh payah! Tetapi akan halnya diriku, betul-betul tidak terlalu payah. Aku mendapat uang persekot dari naskahku untuk hidup beberapa bulan. Ditambah dengan kritik-kritik tentang pementasan dan film-film yang beredar dalam kota, maka soal ekonomi tidaklah terlalu parah. Namun demikian trauma psikhis hatiku: hatiku sekurang-kurangnya gatel kalau tidak terlalu luka memandang dan berada dalam rumah Monika. Monika betul-betul kappa betinanya Ryonosuke Akutagawa yang nerangsang aku di tepi kolam Taman Kebudayaan, lalu membawa aku ke sarang laba-laba.
Aku sekarang sadar dan aku sekarang harus berbuat sesuatu!
Secara diam-diam aku kirim surat kepada temanku yang mengajar bahasa nasionalku di sebuah Universitas di Australia dan kepadanya aku menyatakan kesulitanku. Aku melamar kerja kepadanya. Aku kepingin mengajar bahasa nasionalku di salah satu universitas di Australia. Demikianlah maka aku menunggu balasan dari temanku.
Sementara menunggu balasan, aku mengetik malam-malam di samping Monika dan kalau aku capek, aku keluar minum di warung di pinggir rel kereta. Sudah tentu aku dibentak-bentak oleh ibu Monika karena pintu berbunyi-bunyi tetapi aku biarkan saja. Bukankah beliau adalah dewa dan kepala rumah tangga? Aku merendah-rendah minta permisi untuk keluar sebentar dan dengan demikian aku dapat keluar “dua” bentar. Akhirnya pertentangan batinku tak dapat aku tahan. Aku bukan banteng. Ternyata aku telah mencintai orang, tetapi barangkali bukanlah semua itu cinta lewat kaca mata yang dipakai oleh orang itu: dalam hal ini, Monika. Aku harus memakai kaca mata Monika dan ini sedang aku pakai.
Jika dipakai kaca mata Monika, maka orang akan melihat kehidupann bersama dalam rumah Monika sebagai berikut : setiap laki-laki yang datang adalah mutlak harus harus menjadi ayah Monika yang membuang mereka semenjak Monika masih kecil. Tetapi karena sang ibu tidak sempat membalas dendam pada ayah Monika. Maka laki-laki yang mengawini ataupun nikahi Monikalah yang menerima batunya : laki-laki itu adalah alat cari makan buat korban-korban rumah tangga retak itu. Karena ia alat maka ia bisa dibentak-bentak oleh ibu Monika maupun Monika sendiri yang menerima tempramen dari ibunya. Yakni suka marah, pingsan, marah, pingsan! Karena laki-laki yang datang itu tidak mau diperalat, maka timbullah semacam anggapan rendah pada Monika dan lingkungannya: aku misalnya, mengaggap monika seperti kappa atau sate. Bukankah teori Cinta dalam huruf besar, mengatakan bahwa Cinta itu adalah penghargaan, menaruh perhatian, tanggung jawab, dan pengetahuan-pengetahuan?
Mana ada penghargaan dalam rumah ini? Dalam keadaan aku sakit ada kerongkong yang menyambar setelah memasuki batas kamarku. Ini suatu kekurangajaran. Ketika aku lagi berada dalam kamar bersama Monika, adiknya menunggu di pintu untuk duel fisik. Ketika aku sedang duduk tenang memikirkan pemecahan masalah ekonomi, aku diteriaki keras-keras supaya segera cari uang. Ini, dunia macam apa? Untunglah aku termasuk laki-laki sabar, walaupun aku betul-betul marah. Jadi kesimpulannya, rumah yang kumasuki adalah rumah yang tidak menghargai laki-laki. Penghargaan ini sebagai elemen cinta, tidak ada.
Kalau aku memakai kaca mata Monika maka aku tidak melihat adanya perhatian. Mana ada perhatian dan pengawasan terhadap laki-laki yang memasuki rumah ini? Ketika aku sakit, tidak ada satu orang pun yang bisa aku suruh, atau mintai tolong. Malah aku dibentak-bentak ketika terkaing-kaing sakit. Monika juga sakit. Sudahlah. Aku hanya memberi contoh saja tanpa dendam sedikit pun.
Dari kaca mata Monika aku harus bertanggung jawab atas, tarulah keuangan dalam rumah ini. Ekonomis aku harus bertanggung jawab, memang! Hari-hari pertama aku mempunyai sejumlah uang yang kuperoleh dari berbagai sumber, antara lain dari rekning nomor 1010 itu, dari uang sangguh perusahaan karena aku minta keluar dengan hormat, dan dari naskahku. Apa lagi? Tetapi uang bukanlah suatu tanggung jawab itu sendiri karena uang dicari oleh manusia. Dan kalau pikiran dan perasaan manusia terganggu dengan adanya dia di sebuah sarang laba-laba, maka marilah kita bicara soal tanggung jawab dalam rumah tangga. Ketika aku memasuki rumah ini aku memang sangat prihatin pada lingkungan keluarga Monika. Semua orang mesti iba pada Monika, seorang perempuan yang harus mencari makan untuk sekian banyak perut. Aku bertekad dalam hatiku untuk bertannggung jawab secara ekonomis. Denagn sukarela tanpa paksaan dan teror, hatiku telah mengulurkan tangan, jiwaku telah bertekad untuk kreatif. Aku harus lebih keras banting tulang cari uang lebih banyak, asalkan Monikaku bahagia. Tetapi begitu hatiku yang sukarela itu memasuki rumah ini, amboi: paksaan, tugas, tuntutan, kerongkong, comelan, yang datang dari luar hatiku yang sukarela itu. Inilah, di rumah inilah aku menemukan dictator tanggung jawab itu dan hal ini adalah penafsiran yang salah mengenai tanggung jawab ekonomi rumah tangga, perasaan yang gondok, tertekan, adalah hal-hal yang merusak tanggung jawab dari dalam hati: merusak kerelaan yang memancar dari diri seorang laki-laki yang telah iklas menerima Monika, meskipun dia seorang janda berganda.
Kaca pengenalan dan pengetahuan tentang seorang laki-laki, tidak ada sama sekali. Seorang laki-laki yang memasuki rumah ini hanya dikenal sebagai laki-laki yang memproduksi uang. Titik. Habis. Tidak peduli laki-laki itu maling yang akhirnya masuk bui atau laki-laki seperti aku yang berlenggang dalam taman keindahan.
Ah! Aku telah mengenal Monika sebagai wanita yang jadi korban rumah tangga retak, sebagai wanita yang rada histeris, wanita yang suka marah – pingsan, wanita janda berganda, yang menurut kesaksiannya, bekas-bekas suaminya tidak pernah memberi jaminan kepada anak-anaknya. Tetapi sebenarnya perlu diketahui: bahwa setiapm laki-laki adalah objek balas dendam secara tak sadar.
Semua yang disebut di atas itulah yang bikin aku jadi murung memikirkan Monika si janda berganda alias janda yang sudah kawin beberapa kali.
Aku akhirnya menghilangkan murungku dengan minum berendi di sebuah warung di dekat rel kereta. Ketika alkohol telah samapai di kepala, maka otak pun menggema terbanting sebanyak tujuh keliling bangsat lalu bangkit kembali dalam keadaan segar bugar tanpa sedu – sedan tanpa murung mengurung!
“Bang” kataku pada laki-laki yang duduk di samping kananku. “berendi ini adalah alat untuk menghilangkan kemurungan: hanya berendilah yang menjadi juruselamat dunia. Hidup berendi!”
“Mengapa saudara murung?” Tanya tetangga dudukku.
“soalnya begini, bang. Sudahlah lama kau hidup menduda. Begitu ketemu wanita manis, seorang aktris janda berganda, aku lamar. Tau-tau aku dibawah ke sarang laba-laba. Sialan.” “aktris?” orang itu mengkerut, “siapa namanya?”
“Monika. Dia pernah belajar di Sekolah Teater tropik”
“Ah. Hei, kawan-kawan. Ini dia orangnya yang kita bicarakan.”Aku segera diserbu oleh orang-orang di sekitar meja berendi. “mengapa kalian membicarakan aku?” tanyaku.
“Tambah berendi,” kata orang yang duduk di samping kananku.
Pemilik warung membuka dua buah botol berendi lalu dituangi penuh-penuh semua gelas.
“Mari kita minum sebelum bicara,” kata orang itu.
“Cheer!” kataku sambil mengangkat gelasku. Aku minumseteguk dua.
“Kami selalu berbicara serius tentang nasib anda,”
“Nasib sayan di tangan Tuhan.”
“Betul”
“Pada akhirnya.”
“Betul,”
“Juga pada permulanya, ketika bayi-bayi terlontar dari rahim ibu.”
“Betul.”
“Antara permulaan dan akhir, ada kemauan dan keputusan mengubah nasib.”
“Betul.”
“Ah. Bilanglah, sebutlah kalaun ada yang tidak betul.”
“Sebentar.”
Mulut-mulut mereka mereguk berendi. Aku juga mengikuti mereka-mereka mereguk berendi memanaskan pembicaraan.
“Aku harus mengubah nasib Monika.”
“Tidak bisa.”
“Bisa.”
“Tidak biiisa.”
“Apa-apaan nih, kalian?” teriakku sambil membanting meja.
“Supaya saudara tahu, saya suaminya yang pertama. Tidak. Saya perkosa dia karena dia kenes sekali. Dia bikin saya cemburu meluluh, sih”
“Ah. Sprais!”
“Saya suami keduanya. Bunting-bunting saya lari tinggalkan dia karena tak tahan!”
“Bajingan, kau!”
“Saya suami ketiganya. Aku cinta padanya dan dia merangsang aku dengan teknik menimbulkan cemburuku. Supaya dia tidak bikin aku cemburu, mau aku ikat kaki dan tangannya dengan gelang-gelang emas. Dia puas. Tetapi aku yang celaka. Akibatnya akulah yang kena. Mataku gelap dan aku terlibat korupsi. Aku masuk bui.”
“Aku juga.”
“Masa.”
“Tidak percaya.”
“Bagaimana bisa percaya.”
“Ha, ha, ha,”
“Ha, ha.”
“Haaa.”
“Jangan ketawain aku!”
“Kami menangisi Saudara.”
“Saya belum mampus.”
“Sebentar lagi saudara akan mampus.”
“Lihat saja nanti.”
“Saya laki-laki.”
“Laki-laki yang berada dalam gua.”
“Gua apa?”
“Gua kebencian terhadap laki-laki.”
“Semua laki-laki terpental lari.”
“Meninggalkan anak.”
“Kasihan nasib anakku.”
“Anakku juga.”
“Oh anakku.”
“Ambil! Ambil kembali Monika. Aku belum punya anak dengannya!”
“Begini zazza, begini zazza!” kata seorang dengan lidah orang Batak.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Di waktu hari perkawinan resmimu, masing-masing kami mengendong anak-anak kami masing-masing di muka pengantin anyar dan anak-anak masing-masing akan bilang masing-masing itu ibuku, ini bapakku, itu ibuku, ini bapakku; itu ibuku; itu siapa kok duduk di situ?”
“Ha, ha!”
“Heh, heee!”
“Bajingan kamu semua! Pergi! Aku cinta padanya!” teriakku.
Sebagai laki-laki yang pernah belajar Kung Fu, aku terpaksa mendidik orang-orang itu ke jalan yang benar. Begitulah pikiranku di kala aku mabuk. Sesungguhnya, walaupun aku aku mabuk, aku masih sadar. Karena itu kepada suaminya yang pertama aku hantam dengan Kung Fu jurus Naga. Kepada suaminya yang kedua, aku berikan jurus Kepiting, kepada suami yang ketiga aku hantam dengan jurus ular. Ketiga-tiganya terpelanting di pinggir rel. Aku pulang terhuyung-huyung dan berbaring lelah, bingung dan mabuk di sisi Monika.
