Seutas Benang Cinta

Kami merebahkan badan di atas rumput di depan pohon sirsak dan bertuturnm lagi.

“Monika !” panggilku.

“Mm ?”

“Kau terlalu mulia bagiku, karena itu, aku tak mau kau menjadi seperti mereka,” kataku.

“Seperti mereka ?”

“Pelacur-pelacur yang berserakan di Taman Laguana ini,” kataku.

Monika diam. Akupun diam. Wahai, dia diam terlalu lama. Karena itu aku harus membujuknya dengan mengecup pipinya. Waduh. Anak perempuan orang yang kubawa mendadak dan kugeletakkan di rumput dan malam liar kelaki-lakian ini, kini menangis. Celaka! Aku betul-betul merasa dijebak oleh kesulitan, walaupun bernama kesulitan kecil.

“Monika,” bisikku ke telinganya, “apakah air mata ini adalah air mata buaya ataukah aira mata seorang aktris manis dan calon penulis cerita fiksi ?”, tanyaku lalu aku mengecup dia dan mengusap rambutnya.

Dalam sekejap mata saja, ia membalikkan badannya dan memeluk aku. “Segalanya berlangsung terlalu cepat. Baru sore tadi kita berkenalan dan sekarang kita terkapar di pantai yang asing ini. Bagiku, Trias, kedatanganmu tepat pada waktunya. Aku sangat kesepian di hari-hari ini. Dan kalau aku tidak pernah membaca tulisan-tulisanmu, kalau aku tidak mengetahui bahwa kau telah berpisah ranjang dan meja makan dengan istrimu, maka sehabis makan malam di ‘restoran roda’ tadi, aku terus pulang. Aku bukan pelacur. Aku sadar dengan siapa aku berpergian dan bercengkerama sekarang. Kau tidak usah khawatir tentang diriku,” kata Monika dengan nada sunguh-sungguh.

“Aku mengerti bahwa masyarakat telah membuat suatu penilaian yang tidak memperhitungkan nilai-nilai yang lebih manusiawai dalam kalbu seorang perempuan dalam dalam gelombang nasib seperti yang aku terima sekarang. Orang mengira bahwa janda ‘bisa di itu’ dengan mudah, di mana saja dan kapan saja. Ini suatu generalisasi yang kejam. Aku harap kau tidak sampai ke sana, seperti anggapan yang demikian, “ kata Monika sambil memeluk aku. “Oh, terlalu cepat proses ini: aku sangat khwatir mengalami nasib seperti dulu.”

Mendengar kata-kata Monika, aku harus menenangkan diriku untuk bisa berpikir dengan baik. Tetapi mana bisa berpikir dengan baik kalau seorang aktris yang manis telah sama-sama denganku terlentang di rumput pantai dan memandang gemintang yang jauh di lengkung langit ? aku memeluk dia dan kami berkecupan lama. Lama sekali, atau barangkali tidak terlalu lama karena kami tidak lagi ambil pusing dengan waktu detik, menit dan jam, kecuali waktu kecup yang dibuai oleh desir pantai dan angin, music pantai dan nyanyian serangga.

“Apa yang kau mau dariku ?” tanyaku.

Monika diam. Pertanyaan ini adalah gambaran tentang kesombongan seorang lelaki. Anak orang telah dibawa ke pantai dan yang telah dikecupnya dengan mudah dan akan dilepaskan dengan mudah sebentar lagi, adalah bukan apa-apa, kecuali hanyalah sebuah komoditi pantai yang dipergunakan untuk bersenang-senang. Monika adalah suatu tamsya turistik saja. Bagiku belum apa-apa dank arena itu aku bertanya. Aku bertanya karena Monika adalah sekaligus seorang aktris dan calon penulis cerita fiksi dan celakanya di atas segala-galanya aku tahu bahwa dia adalah janda berganda dan pengetahuan inib sekaligus menyebabkan aku berpikir, atau, lebih baik seperti kata Monika sendiri bahwa janda di anggap ‘bisa di itu’ dengan mudah.

Yang terakhir ini bercampur membaur dengan belas kasihan seorang lelaki terhadap seorang wanita yang menderita nasib menjanda berganda. Wahai, aku berada di mana sekarang? Aku terapung-apung di langit sejuta konflik, cemas tak berdaya.

Tetapi tiba-tiba aku berusaha menghilangkan semua. Aku merangkul monika dan kukecup dia dengan segala kegairahan malam pantai, rumputan dan naluri serangga. Aku jadi segar kembali dari kecemasan dan keterapnganku. Aku telah memilih satu bintang di langit gemintang dan kepadanya aku bergantung sekarang.

“monika”,kataku dengan nafas terburu:” dapatkah kau menolong aku, seorang laki-laki yang sangat haus akan cinta dalam huruf besar sekaligus menolong aku dengan badanmu yang lembut selembut pantai dan rumputan dan bintang-bintang ini?” kataku sembari tanganku mengemas-ngemas bajunya. “ sudahlah. Aku kira aku harus menyerahkan badanku padamu, mala mini, di pantai ini, bukan sebagai suatu transaksi atau peristiwa takluk-menaklukan, tetapi….”

“Jangan!” kata monika menyentak tanganku yang satu sembari tangan yang lain mengusap wajahku. “ bukan karena apa, bukan karena aku ini tidak butuh akan badan tetapi aku perlu suatu hal dari aku: apakah kelanjutan dari perbuatan kita malam ini? Jawablah.”

“kita harus segera hidup bersama dibawah satu atap,” kataku. “percayalah, monika, aku sudah tak tahan hidup sebagai seorang yang munafik. Aku harus jadi manusia normal: hidup dengan seorang wanita yang mengenalku, dan akupun mengenal dia. Semoga kita berkenalan lebih jauh dan dalam, karena ada persamaan nasib menjanda menduda dan kita sama-sama cinta pada panggung,” aku mengusap-usap rambutnya kemudian adalah wajar kalau kami terus terlibat dalam kesibukan kecup-mengecup bersilih silat kata-kata.

“Segalanya berlangsung terlalu cepat,” kata Monika menarik nafas cemas-cemas bahagia, menarik nafas lega bercampur cemas.

“Jika dilihat dari waktu, detik dan jam, memang terlalu cepat: detik pertama kita bertemu di bawah pohon asam di tepi kolam, samapi dengan terbaringnya kita di rumput mala ini, memang terlalu pende. Tetapi cinta tidak biasa melompat seperti detik jam tik, tik, tik…” aku mendetikkan jari manisku di atas putik-putik dadanya dan ia menolak jemariku dengan lembut sedang lenganku jadi bantal itu terus berfungsi seperti sediakala. “Cinta adalah waktu yang konkrit sekali, sekaligus njelimet sekali: watu jam tidak bisa berbuat apa-apa bilamana sebuah kisah cinta seumur hidup dipersembahkan oleh aktris seperti kau di atas panggung teater selama dua jam.

Cinta adalah waktu panggung atau waktu pantai, bukan waktu detik dan jam,” kataku sambil mengecupnya, “dan karena itu, malam ini menghancurkan detik-detik jam semenjak pertemuan di bawah pohon asam di tepi kolam Taman Kebudayaan, sampai dengan detik-detik malam pantai Laguna ini, dengan waktu yang konkrit itu : busyet, Monika, aku harus membeli segala hidupku padamu semenjak mala ini!”

“Kau tidak bohong padaku?” Tanya Monika dengan ramah.

“Tidak, demi Tuhan, “ kataku.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *