Selanjutnya, laki-laki kedua tidak putus asa untuk menolong kawannya dengan cara melakukan permainan cinta erotik dengan wanita itu, sementara laki-laki yang pertama bersembunyi di luar. Begitulah maka dengan mudah perempuan itu tertangkap basah dan ia pun menangis minta ampun, tetapi walau airmata mengolam susu sekalipun, laki-laki pertama telah mengetahui bahwa laki-laki kedua kawannya itu benar seratu prosen…
Aku memandang wajah Monika setalah drama Strindberg itu selesai. Ia memandang aku sambil terkekeh berat. Aku curiga, aku kasihan, aku mengerti akan sebuah kebenaran seperti yang dikatakan oleh filsuf Schopenhauer bahwa wanita adalah mahluk yang tidak jenius.
Entahlah tetapi manakala ia mengatakan wanita adalah makhluk yang dicipta untuk produksi keturunan dan kebolehannya hanyalah shopping dan shopping melulu, maka ia benar dalam hubungannya dengan pengalamanku dahulu. Tetapi bagaimanakh nantinya dengan Monika jika ia telah menjadi istriku ? Soal produksi anak, dia sudah kubuktikan dari tiga orang lelaki, tetapi soal nafsu shopping nafsu mempermahatuan barang kelontong – yang menyebabkan timbulnya kebudayaan korupsi yang timbul di negeri yang sedang berkembang ini, belumlah aku tahu karena aku belum bergaul dengan aktris yang manis ini.
Kami keluar dari Taman Kebudayaan itu, lalu berjalan sebentar menuju sebuah restoran. Kami makan malam bersama, tanpa membicarakan wanita dan suami-suami Strindberg. Lebih baik begitu. Jangan sampai Monika tersinggung kalau misalnya benar Monika adalah wanita itu, yang telah terlibat dengan sualu-suami itu. Aku berusaha membikin ia senang malam itu dengan memikir-mikir apakah kiranya bahan pembicaraan kami.
Aku menemukan, aku menemukan bahan pembicaraan itu !
“Monika !” kataku, “aku pernah punya pengalaman dulu, dengan istriku. Pada suatu hari, kami mengalami krisis ekonomi sementara. Aku terpaksa dating ke rumah mertuaku yang kebetulan sedang mengadakan pesta sembahyangan. Begitu aku masuk ke dalam rumah, amarah mertuaku jadi meluap tiba-tiba.
“Mau apa dating ke sini ?”
“Mau minta tolong pada ibu”, kataku.
“Pertolongan apa ? Sudah setinggi gunung pertolongan saya !”
“Tidak. Anak saya minta tolong sedikit. Ia minta sedikit ikan enak dari neneknya,” kataku.
Kulihat mertuaku yang bawel dan galak itu menggerakkan tangannya ke arah sebuah perkedel. Diambilnya lalu dibuangnya padaku.
Aku menangkapnya seperti menangkap bola tenis dengan kedua telapak tanganku. Aku menaruhnya ke dalam kantong, lalu berjalan terbengong-bengong pulang. Di rumah, aku bilang pada istrikun agar supaya dia berlaku lemah lembut padaku karena aku sekarang ibarat orang jatuh. Aku menderita semacam luka, semacam trauma batin karena perlakuan begitu dan janganlah ia kasar lagi padaku, nanti aku ibarat orang jatuh dihimpit tangga. Lebih dari itu : aku sudah jatuh sejak lama, semenjak aku makan gaji, makan gaji yang kecil terpencil di sudut kantong. Demikian ceritaku ketika kami makan enak di restoran.
“Tidak lucu, ah,” kata Monika menggelengkan kepalanya.
Aku kaget sendiri. Kukira Monika dapat membayangkan seorang lelaki lepasan universitas seperti aku yang menerima perkedel dengan cara demikian, adalah hal yang lucu. “Tapi Monika, kita kan akan jadi mertua di kemudian hari bukan?” tanyaku. “Demi keselamatan anak kita, kita jangan menyiksa menantu kita, nanti. Kita harus mencintai keduanya seperti anak kita sendiri.”
“Kenapa sehingga aku dibenci oleh mertuamu?” Tanya Monika. “Kalau aku jadi mertua di kemudian hari, aku bisa jadi marah pada menantu kalau menantu brengsek.”
“Entah,” aku menjawab pertanyaan Monika.
“Aku kira karena mertuaku darah tinggi. Entahlah.
Gaya hidupnya marah-marah, bawel, tidak pernah puas kalau satu hari tidak marah-marah. Cara berkomunikasinya adalah dengan marah-marah. Aku berusaha menerima cara berkomunikasi begini, tapi lama-lama kau tertekan, lebih-lebih cara ini diambil oper oleh anaknya yang kukawini. Aku tidak cocok dengan cara berkomunikasi demikian.”
“Sebenarnya kau harus memperbiasakan diri, untuk langgengnya rumah tanggamu, tetapi soalnya kau tidak bisa berkomunikasi cara begitu. Sekarang aku tahu sifatmu,” kata Monika.
Mendengar itu, aku gembira. Aku bangun dari dudukku lalu aku mengelap bibirku dengan serbet dan dengan cepat aku mendekati Monika. Aku mencium pipi na. Ahoi !
Orang-orang melihat tingkah lakuku tetapi aku tenang saja. Monika mungkin malu, tetapi ia diam saja menyelesaikan makan malamnya.
Aku kembali ke tempat dudukku dan menghabiskan makananku. Kami kekenyangan betul sehingga kami duduk bersandar ke kursi sambil memandang satu sama lain beberapa lama, sampai dengan lambaian tanganku kepada pelayan.
Malam itu aku mengantar Monika sampai ke rumahnya, tetapi aku belum bisa masuk memperkenalkan diri kepada ibu dan saudara-saudaranya karena sudah agak larut malam. Aku sampai ke rumahnya kurang lebih pukul sebelas malam.
Aku meluncur pulang ke rumahku – eh ! ke kamarku – dan sampai di sana aku belum bisa tidur karena kepalaku penuh dengan pikiran mengeania Monika dan kolam itu. Terlintas godaan untuk melepas dia berdasarkan informasi dan pengalaman pingsannya anak insan yang bernama Monika itu, tetapi aku bukanlah jenis laki-laki yang lekas putus asah menghadapi kesulitan, kalau aku telah berjanji untuk bergandengan tangan menghadapi kesulitan. Aku sudah berjanji untuk menikahi dia. Ini membikin aku sungguh-sungguh. Lain halnya kalau dia yang mulai mengkhianati aku. Terseralah nanti, bagaimana jadinya. Kalau nasibku harus mengalami lagi kegagalan, apa boleh buat aku harus meneriama kesedihan dan bergulat lagi untuk mengatasi kesedihan itu. Dengan penerimaan akan nasib yang telah kujalani dan akan tiba nanti, aku tidur di atas sofaku yang sunyi itu.
