Agama dan Mitos

Jika menafsirkannya secara harafiah, toleransi agama akan kocar kacir, lebih-lebih kalau pihak otoritas pemerintah campur tangan.

Dan agama semakin menjadi masalah yang krusial yang dapat memecahbelahkan persatuan dan kesatuan, semoga tidak terjadi demikian dan Indonesia selalu berada dalam situasi yang tenteram dan damai

Mitos (Inggeris myth) adalah bahasa agama. Menurut Paul Tillic filsuf dan teolog Protestan Amerika dalam bukunya Dynamics of Faith (Ruskin House 1970), mitos menjelaskan kenyataan secara simbolis.

Di negeri ini masih ada cuaca buruk yang tersembunyi di balik senyum. Untuk terlepas dari bahasa mitos yang ditafsir sangat harafiah, menurut Paul Tillich, diperlukan proses demitologisasi atau broken myth. Tentu saja harus melalui pendidikan.

Akan tetapi ini sukar direalisasikan karena tampaknya lembaga pendidikan kita menggiring manusia melalui pendidikan kacamata kuda atau dressuur sehingga timbul kelompok masyarakat yang satu menolak masyarakat yang lain seperti kata Bergson sang filsuf ; berjuta manusia Indonesia bukan dididik sebagaimana layaknya manusia tetapi terlatih untuk menjadi anjing Pavlov.
Cinta Kasih Universal

Perjalanan bangsa ini menuju cinta kasih universal perlu dimulai dari iman. Menurut Paul Tillich diperlukan cinta kasih dan cinta kasih menjadi kuat melalui kerja. Kerja yang bertolak dari kenyataan. Menurut futurolog Buckminster Fuller (Los Angeles Free Press Desember 26, 1969), setiap pekerjaan bertolak dari conceptual tool yang disebut bare maximum (kebutuhan maksimum untuk setiap individu).

Setelah menemukan kebutuhan maksimum kita memerlukan uang (modal), ilmuwan, ilmu pengetahuan (science) dan teknologi. Pada langkah ini, bangsa bukan hanya melihat satu agama yang menjadi kandang ilmuan, tetapi para ilmuan dari berbagai agama sama-sama bekerja menuju pencapaian kebutuhan maksimum setiap individu.

Dengan demikian setiap individu di Indonesia berada dalam suatu kebudayaan material dan kebudayaan spiritual. Tiap orang punya rumah, punya piring makan raksasa (kebun 2 hetar), dan anak-anaknya bisa bersekolah gratis, sehat lahir batin karena berpengetahuan dan tersedia rumahsakit dan fasilitas kesehatan, aman sentosa tak punya rasa takut dalam melihat pendidikan kacamata kuda, karena kebudayaan spiritual di negeri ini agung dan luhur, negeri yang Bhineka Tunggal Ika tetapi dipersatukan oleh humanism yang universal.

Begitu juga jika setiap desa dibangun balai pertemuan budaya seperti Balai Sujatmoko di Solo di mana di balai itu ada bermacam kegiatan seni budaya, seperti pameran lukisan, pertunjukan teater, termasuk teater monolog, diskusi, baca puisi dan ceramah-ceramah, lomba-lomba dan sebagainya, maka semua manusia Indonesia akan sadar bahwa teori pemecah belah melalui agama tidak akan mengena lagi di hati (semoga). Karena Tuhan itu penuh cinta kasih dan perdamaian.

Di setiap desa rasanya teater ekspresionisme seperti milik Knut Hansum sangat cocok. Teater ekspresionisme adalah campuran teater dengan tari dan nyanyi. Tiap desa di Indonesia sudah menjadi kota besar sehingga memerlukan kegiatan cultural berkala. Dengan demikian harus ada pembicaraan di antara beberapa seniman tentang adanya Dewan Kesenian di berbagai provinsi di Indonesia, sehingga pola pikir masyarakatnya lebih mengarah ke intuisi kreatif.

Seluruh masyarakat dilibatkan mulai dari pendidikan rendah sampai pendidikan tinggi terutama anak mudanya, mereka memerlukan sajian cultural. Yang ada sekarang hanya restoran, makanan jasmani berlimpah tetapi makanan spiritual dan budaya masih bersifat sporadis, belum disediakan oleh pemerintah. Sehingga ketika persaingan bisnis timbul, maka segala isu dimunculkan, yang berodal kuat menggerakkan ‘si lugu’ untuk melakukan aksi-aksi anarkis brutal yang mereka sendiri tidak mengerti mengapa melakukan hal itu, juga di dalam politik.

Danau Kecil (Situ)
Di setiap provinsi yang ada di Indonesia, banyak terdapat danau kecil atau ‘situ’ . Bagaimana kalau situ-situ itu dilelilingi patung-patung sastrawan setempat menghadap ke kolam dan di belakang patung itu ada toko buku, mesin fatokopi dan kafe?

Orang yang datang mau menulis skripsi, tesis, disertasi bisa menyewa kamar kos penduduk. Taksi dan tukang ojek dan pedagang bisa punya kegiatan. Syukur kalau ada gedung pertunjukan. Situ itu bisa menjadi kolam pujangga, di sini peran rakyat dimaksimalkan untuk menyumbangkan buah pikiran dan imajinasi kepada bangsa dan negara. Mereka tidak mudah dibentuk menjadi ekstrim kiri maupun kanan karena kesadaran berbudaya dan mengembangkannya semakin tertanam kuat.

Kalau Karl Max mengangkat derajat hidup kaum proletar dengan revolusi maka Max Weber bergeliat mengangkat nasib borjuis kecil menjadi kapitalis dunia yang bermoral. Dengan demikin umat bisa tercerahkan. Anak-anak muda kita bisa menjadi Weberian, terpanggil untuk mengebangkan kemampuan ekonomi mereka. Pengangguran dan kemiskinan tersingkirkan.

Mereka tidak mudah digerakkan untuk melakukan tindakan anarkis karena mereka sadar bahwa mengembangkan budaya dan ekonomi kreatif itulah yang terpenting.

Semoga tulisan ini menjadi pemikiran kita bersama, bahwa di masa yang akan datang, kehidupan beragama di negara yang majemuk ini menjadi perhatian penting bagi semua umat manusia.

Sebab semakin majunya zaman, kekritisan seseorang dalam menelaah agama semakin meningkat tajam, bila ini tidak diantisipasi secara bijak, lambat laun ‘kekritisan’ itu akan berubah menjadi kecemburuan yang mengarah pada perpecahan individu maupun sosial.

Dan agama semakin menjadi masalah yang krusial yang dapat memecahbelahkan persatuan dan kesatuan, semoga tidak terjadi demikian dan Indonesia selalu berada dalam situasi yang tenteram dan damai.

***
Gerson Poyk

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *