Pintu tiba-tiba terbuka, di dalam tampak gelap. Sebelum moncong mobil benar-benar masuk, sekelompok kelelawar keluar sambil mengepakkan sayapnya. Cericit binatang-binatang itu meramaikan malam yang mulai turun. Hujan dan petir masih menyambar-nyambar di luar sana. Bang Gimin dan Hadi hampir kencing di dalam mobil, mereka sangat ketakutan. Mereka menunggu kejadian selanjutnya.
Ketika ban belakang mobil sudah benar-benar masuk, pintu garasi ruko tertutup secara otomatis. Bunyi pintu yang berkarat akibat lama tidak dibuka sangat memekakkan telinga. Mawar, Bang Gimin dan Hadi serentak menoleh ke belakang. Di sana, di belakang mobil, sesosok mahluk hitam, tengah menatap mereka sambil merentangkan sepuluh tangannya. Wujud mahluk itu tidak jelas, rambutnya panjang sebahu, gimbal seperti rambut Bob Marley.****
Ketika ban belakang mobil sudah benar-benar masuk, pintu garasi ruko tertutup secara otomatis. Bunyi pintu yang berkarat akibat lama tidak dibuka sangat memekakkan telinga. Mawar, Bang Gimin dan Hadi serentak menoleh ke belakang. Di sana, di belakang mobil, sesosok mahluk hitam, tengah menatap mereka sambil merentangkan sepuluh tangannya. Wujud mahluk itu tidak jelas, rambutnya panjang sebahu, gimbal seperti rambut Bob Marley.
Hanya matanya yang tampak, mata itu bersinar kemerahan seperti tertimpa cahaya lampu. Mawar menahan nafas. Perlahan ia menoleh ke samping.kiri, mahluk berwajah datar yang tadi ada di jok sebelahnya sudah berubah wujud. Kali ini dia berubah menjadi bola tajam mirip durian. Baunya sangat menyengat hidung.
“Dia penjaga ruko ini. kamu hati-hati dengannya,” katanya dingin.
Bang Gimin berdehem. Ketika Mawar menoleh,pria itu mengerjapkan sebelah mata sambil menggelengkan kepala, ia memberi isyarat agar Mawar jangan banyak tanya pada bola berduri yang ada di sampingnya.
Ketiganya kemudian memilih diam. Dan tanpa mereka sadari tiba-tiba mobil Honda Jazz berjalan sendiri, berputar-putar seperti pesawat luar angkasa UFO, kemudian masuk ke dalam halaman belakang ruko yang lapang dan luas. Mawar pucat pasi. Di belakang mereka sosok bertangan sepuluh dan bermata bak sinar matahari itu, berjalan tertatih-tatih, rambut gimbalnya bergoyang-goyang seperti nyiur pohon kelapa yang tertiup angin.
“Ingat jangan berisik, kalian akan kupertemukan dengan pemimpin kami!” bisik bola tepat di telinga Mawar.
Mawar melirik sekejap. Suasana makin mencekam. Kali ini ia kembali dikejutkan oleh pemandangan yang aneh dan menjijikkan. Bola telah berubah menjadi si wajah datar. Wajahnya penuh dengan belatung, dan belatung itu perlahan merayap ke tangannya. Mawar menjerit. Tanpa sadar ia menekan klakson mobilnya. Suara gaduh terdengar di mana-mana. Lalu, ketiganya tersedot keluar dari mobil yang mereka tumpangi. Tubuh mereka melayang di udara, kemudian masuk ke dalam sebuah kamar yang ada di dalam ruko. Kamar itu berwarna putih, di sekitarnya tercium bau dupa dan aroma melati.
Mawar, Bang Gimin dan Hadi, kemudian mendarat tepat di depan sosok aneh yang lebih menyeramkan dari si penjaga gerbang. Wujud mahluk itu tampak jelas, matanya bulat sebesar telur ayam, merah menyala dan penuh dengan sorot kemarahan, lidahnya menjulur ke luar, meliuk-liuk seperti ular kobra, tepat di ujung lidah ada nyala api yang bekobar-kobar, hidungnya bulat besar seperti buah apel. Dua buah gigi taring menjulur ke luar, di ujung gigi menetes darah.
Di tangan kanannya ada sesosok bayi yang sudah kaku menjadi mayat, di tangan kirinya tergenggam jantung manusia yang masih berdenyut-denyut. Rambutnya ditarik ke atas, kemudian diikat dengan usus manusia yang masih mengeluarkan darah. Tubuhnya menjulang tinggi, namun di tengah-tengah tubuhnya berlubang dan lubang itu penuh dengan cacing-cacing kecil yang bergerak-gerak seperti hendak tumpah. Mawar hampir muntah melihatnya.
Bau busuk seperti bau bangkai tercium kemudian. Dan Bang Gimin tak sanggup lagi menahannya. Ia mengeluarkan semua isi perutnya tepat di hadapan sang pemimpin.
Lalu, gelegar amarah terdengar. Semburan api keluar dari mulutnya dan hampir mengenai rambut Bang Gimin. “Manusia tak tahu sopan, mengapa kau muntah di hadapanku?” bentaknya.
Bang Gimin gelegapan. Wajahnya memucat. Dengan suara gagap ia berkata, “Ma…ma…maaf, sa…saya nggak sengaja…” usai bilang begitu, pria paruh baya ini bersin-bersin, dan ia kembali muntah.
Mawar dan Hadi gemetar. Jantung mereka berdegup kencang. Mereka menunggu hukuman apa yang akan diberikan mahluk yang dipanggil Sang Pemimpin pada Bang Gimin.
Sang Pemimpin melotot ke arah Bang Gimin. Kini dia benar-benar marah. Matanya yang bulat sebesar telur ayam itu, bagai bisul yang hendak pecah, maju mundur seperti ada pernya. Lalu si mata mendekati tubuh Bang Gimin. Dan tanpa diduga, melalui mata yang merah menyala itu keluar sebuah tang yang kedua pinggirannya penuh dengan darah. Tang itu kemudian menjepit tubuh Bang Gimin, lelaki paruh bayah itu terangkat ke atas, kepalanya menyentuh langit-langit ruko. Ia berteriak-teriak minta tolong.
“Tolong…tolong… tolong turunkan saya…” parau suara Bang Gimin terdengar.
Di atas langit-langit tubuhnya diputar-putar seperti gasing. Bang Gimin mabuk, lalu dari atas ia kembali muntah dan muntahannya itu kali ini berubah bentuk menjadi darah segar yang penuh dengan jarum-jarum kecil.
Mawar dan Hadi bengong. Mata keduanya naik turun mengikuti gerakan tubuh Bang Gimin yang dibuat seperti yo yo oleh Sang Pemimpin.
“Tolong, turunkan dia, maafkan dia, dia nggak bermaksud kurangajar pada ketua,” Mawar memohon.
Sang Pemimpin melirik ke arah Mawar, kemudian dia melempar tubuh Bang Gimin ke atas matras yang ada di depan mereka. Laki-laki paruh baya itu jatuh dan terhempas di atas matras, ia kembali muntah dan mengeluarkan darah segar. Mawar dan Hadi segera berlari ke arah Bang Gimin, mereka menangis berbarengan.
“Sudah, jangan menangis . Aku paling benci dengan orang-orang yang cengeng. Kalian kuundang kemari bukan untuk menangis. Aku akan memperlihatkan pada kalian suatu pemandangan yang benar-benar spektakuler. Melalu pemandangan itu, kalian bisa ceritakan pada orang banyak apa yang telah terjadi. Diam!” bentaknya.
Mawar dan Hadi menghentikan tangis mereka. Wajah keduanya masih pucat. Di sekeliling mereka bermunculan mahluk-mahluk aneh yang bejalan hilir mudik dengan suara mendesis seperti ular. Wajah mereka semuanya datar.
“Siapa kalian sebenarnya? Mengapa kalian mengajak kami ke tempat seperti ini?” tanya mawar memberanikan diri.
“Kami adalah pasukan tempur Nyi Rondeng. Dia pemimpin kami yang tinggal di Laut Selatan. Tugas kami adalah mencari orang-orang seperti kalian yang akan kami jadikan tumbal sekaligus pengikut kami. Melalui referensi Johan, pacarmu yang sudah menjadi anggota kami, maka kalian kami pilih untuk tumbal di jembatan Suryakencana yang akan di bangun untuk menghubungi pulau-pulau yang ada di laut utara dan selatan.”
