Hari itu, usai berkemas-kemas dan memasukkan barang-barangnya ke mobil Honda Jazz milik kakaknya, Mawar menemui mamanya, pamitan akan ke rumah yang bakal ditempatinya. Sang mama kembali ragu dengan keputusan anak gadisnya.
“Kamu berani tinggal di sana?” Tanya sang mama untuk yang kedua kalinya.
“Lho, memangnya kenapa, Ma? Rumah itu angker?”
Nyonya Cahyono sejenak membisu. “Bisa jadi, soalnya sejak baru dibeli sampai sekarang, Mama, adikmu Dedi dan Papamu, tiap kesana selalu merasa nggak enak, tengkuk Mama merinding, sepertinya ada puluhan mata yang mengawasi kehadiran kita di sana. Kalau Mama cerita sama Papa, dia malah bilang, setan di jaman sekarang sudah takut pada manusia. Dunia mereka berbeda, masing-masing punya tempat sendiri-sendiri. Mama suka kesal dengan jawaban Papamu, dia selalu menggampangkan segala urusan. Mama yakin rumah itu ada penghuninya.”
Mawar tersenyum. Ya iyalah, dunia hantu dengan dunia manusia mana bisa disamakan. Katanya dalam hati. Sama dengan dirinya. Dunianya kini berbeda dengan Johan. Hm… Ingat Johan, Mawar langsung sedih. Tapi dengan cepat ia menghapus kenangan tentang cowok itu. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa ia ingin pindah ke rumah yang dibeli papanya sepuluh tahun yang silam. Ia ingin menghindar dari kenangan yang pernah ditorehkan Johan di hatinya. Di rumah mamanya banyak jejak Johan yang selalu membangun ingatannya tentang dia. Lima tahun menjalin kasih bukanlah usia yang terbilang pendek.
“Kalau rumah itu nggak ditempati sayang, Ma.”
“Ya, tapi kamu hati-hati. Biar bang Gimin dan anaknya Hadi tetap menemani kamu. Seminggu sekali kamu pulang, kan?”
“Iya Mamaku sayang, kalau kangen tiap hari juga aku pulang. Kayak rumahnya di luar pulau aja.”
Nyonya Cahyono kembali menatap puterinya, dia merasa Mawar akan pergi jauh sekali.
“Udah deh Ma, jangan sedih. Nanti kalo aku nggak betah, aku balik kesini lagi.”
“Bukan begitu, Mama hanya ngeri aja. Menurut Dedi, dia pernah melihat hantu di rumah itu. Katanya, di sudut ruang tamu, dekat piano tua milik orang Belanda yang punya rumah, ada perempuan cantik berwajah Eropah yang suka memainkan tuts-tuts piano. Perempuan itu menekan piano dengan amarah. Dedi bilang, dia kesal melihat rumahnya di renovasi. Dedi sampai panas tinggi malamnya.”
“Apa dia sampai sekarang masih ingat dengan kejadian itu?”
“Katanya sih nggak lagi.”
“Nah, kalau dia lupa, itu berarti dia nggak pernah ngelihat mahluk menyeramkan di sana. Pasti dia hanya ngarang, Ma. Udah deh, hantu macam apapun Mawar nggak takut. Pokoknya Mawar mau pindah kesana. Lagi pula, Kak Ema dan suaminya akan tinggal di sini. Bau cat nggak bagus buat bayi mereka. Di sana, aku bisa melukis sesukaku dan bau cat yang merebak ke mana-mana nggak jadi masalah.”
“Ya sudah, kalau kamu tetap ngotot. Sekali lagi, jangan lupa kamu ajak Bang Gimin dan Hadi. Nanti suruh mereka bersihkan barang-barang di sana. Ingat, jangan ada yang dipindahkan, termasuk piano tua milik orang Belanda itu. Hati-hati, jaga dirimu, kejahatan sekarang nggak pandang bulu, nggak hantu atau manusia sama aja, manusia malah lebih jahat dari hantu. Biar kamu jago kung fu sekali pun, kamu nggak akan menang bila melawan senjata!”
Mawar tertawa. “Iya deh Mamaku sayang. Akan kujaga diriku dengan baik.”
Itulah hari terakhir Mawar bercanda dengan mamanya. Usai menata semua barang di bagasi mobil, Mawar memasukkan laptop lengkap dengan modem, charger dan head set ke dalam tas backpacknya. Sebelum ia masuk ke mobil, lag-lagi sang mama menegaskan cewek itu. “Benar kamu nggak takut tinggal di sana?”
“Aduh, Ma, Khawatir amat sih, jangan takut, aku bisa jaga diri kok.” Mawar mengecup pipi perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik itu.
Mama Mawar menatap wajah putrinya dalam-dalam. Ia mengantar kepergian Mawar hingga ke pintu pagar.
Mawar mengendari Honda Jazz mungil milik Langit, kakak lelaki keduanya yang memperoleh tugas di Australia selama dua tahun. Ia merasa sedikit lega karena nggak lagi naik-turun bis. Harapannya menggelegak, mudah-mudahan lukisan-lukisan yang akan diikutsertakan pada pameran lukisan di sebuah hotel berbintang sebulan lagi, laku dan dia bisa bisa membeli mobil sendiri.
