Pembantaian
Detik-detik mencekam menunggu apa yang akan terjadi mewarnai kemunculan kereta yang ditarik empat ekor kuda berwarna putih. Roda kereta berwarna keemasan, dari atas kereta turun seorang perempuan berwajah sangat cantik. Semua mahluk yang ada di situ bersimpuh dan menghormati perempuan cantik yang turun dari kereta itu. Perempuan itulah yang dipanggil Nyi Ronde. Penampilannya sempurna, di kepalanya berkumpul ular-ular kecil yang membentuk mahkota. Ular-ular itu bergerak kesana kemari.
Sekilas Nyi Ronde mirip Medusa, namun kadang dia mirip perempuan anggun dengan sanggul indah yang terbuat dari ular. Di samping kanan perempuan itu berdiri sosok tampan dengan sorot mata penuh rasa bangga. Ia menuntun tangan sang Nyai dengan hati-hati, pandangannya lurus ke depan, tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan. Cowok itu seperti robot, matanya kosong dan berwarna kemerah-merahan.
“Johan…” bisik Mawar. Ia berharap Johan mendengar bisikannya.
Johan tetap memandang lurus ke depan.
“Non yang keras manggil namanya,” bisik Bang Gimin.
“Johan!” suara Mawar diperkeras.
Johan melirik sekejap. Saat ia melihat Mawar, bibirnya menyungging senyum. Setelah itu ia memandang lurus ke depan, kaku seperti mayat yang diberi formalin. Mawar merasa sia-sia memanggil namanya. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian kembali memanjatkan doa kepada yang Maha Kuasa.
Sang Pemimpin menyambut kedatangan Nyi Ronde dan Johan dengan penuh sukacita, ia turun, lalu membungkuk dan mencium punggung tangan Nyi Ronde dengan takjim. Perempuan berwajah cantik sempurna itu, kemudian duduk di kursi singgasana yang telah disediakan Sang Pemimpin, Johan berdiri di samping kanannya.
Suasana hening. Para hantu berwajah datar diam tak bersuara. Mereka menatap Mawar, Bang Gimin, dan Hadi yang diikat menjadi satu di tengah-tengah ruangan. Tampaknya, mereka juga menunggu keputusan Nyi Ronde dengan was-was.
“Baiklah, kita mulai saja. Kini di hadapanku telah ada 3 orang yang akan dipersembahkan. Aku berterimakasih sekali, terutama untuk kau Johan. Kau telah menepati janjimu dan sesuai dengan keputusanku, kau akan menduduki jabatan sebagai panglima perang di kerajaanku. Kau berhak memberi perintah anak buahmu untuk menyerang siapa saja yang berani menghina, dan membuat malu kerajaanku. Nah, sekarang siapkan eksekusi. Pengeksekusian kuserahkan kepadamu Jalanara!” katanya sambil memandang Sang Pemimpin yang bernama Jalanara.
“Apakah kita langsung membakarnya Ratu?”
“Terserah, tapi aku haus, aku ingin minum darah segar salah satu dari mereka!”
Sang Pemimpin menganggukkan kepala. Lidahnya kemudian menjulur ke arah Bang Gimin. Lidah itu memanjang dan mengeluarkan api, api menjilat-jilat, kemudian menyambar tubuh Bang Gimin. Pria paruh baya itu menjerit kesakitan. Ia berlari-larian, menghindari sambaran api. Wajah Bang Gimin pucat pasi. Ia tampak lelah sekali.
Air mata Mawar mengambang ketika ia melihat tukang kebun mamanya lari pontang-panting menghindari semburan api. Ia memandang Johan dengan mata berair. “Johan…apa salah kami. Mengapa kau setega ini?”
Johan tidak menjawab. Ketika lengkingan panjang kesakitan terdengar dari bibir Bang Gimin, Mawar memejamkan matanya. Ia tak tega melihat kepala Bang Gimin copot dari tubuhnya. Kepala itu menggelinding kemudian bertengger di bibir Sang Pemimpin. Lidah mahluk sadis yang tak kenal belas kasihan ini menjulur-julur bagai ular, kepala Bang Gimin yang masih berlumuran darah, berada di atas lidahnya, kemudian lidah itu menyerahkan kepala Bang Gimin pada Nyi Ronde.
Suasana kian mencekam.
Mawar dan Hadi yang sudah merasa tak ada lagi kemungkinan untuk lolos, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan jantung berdebar. Hadi menangis tertahan, celananya basah. Saking takutnya ia kembali kencing di celana. Suasana dalam ruangan makin redup, di luar hujan sudah berhenti, malam kian larut dan keadaan bertambah sepi. Mawar hampir gila rasanya menunggu detik-detik peristiwa yang akan terjadi.
