Makhluk Berwajah Datar

“Hihihihi…” tawa Nyi Ronde terdengar tiba-tiba. Ia turun dari tempat duduknya, kemudian, mengambil kepala Bang Gimin dari lidah Sang Pemimpin, dengan gerak sangat cepat ia memakan kepala Bang Gimin, suara kepala yang pecah seperti suara petasan terdengar. Nyi Ronde mengeluarkan lidahnya, kemudian memakan seluruh isi kepala Bang Gimin dengan rakus, darah keluar di sekitar bibirnya.

Ia menjilat-jilat darah itu dengan nikmatnya. Perempuan cantik ini kemudian berubah wujud menjadi binatang purba bertanduk tiga, dengan wajah menyeramkan dan ekor yang menjulang mirip ekor dinosaurus. Dia kemudan memakan semua tubuh Bang Gimin dengan lahap. Tubuh orang yang setia pada keluarga Mawar itu, tercerai berai di lantai, ceceran dagingnya tersebar di mana-mana, bau anyir tercium bercampur dengan bau busuk binatang purba jelmaan Nyi Ronde. Hadi tak kuat melihat semua itu. Perlahan-lahan matanya berkunang-kunang, lalu ia hilang keseimbangan, tak lama suara seperti karung goni yang dilemparkan jatuh ke tanah, Hadi pingsan tepat di sisi Mawar.

Suasana sempat terpecah, para hantu berwajah datar mendekati Hadi, lidah mereka menjulur ke luar, hendak mencabik-cabik tubuh pemuda itu pula. Mereka mulai terlihat lapar dan haus darah. Ketika salah satu dari mereka hendak menjalankan aksinya, dinosaurus alias Nyi Ronde langsung menerkam hantu berwajah datar itu. Lalu dengan amarah yang meluap, lidah dinosaurus mengeluarkan api dan membakar hantu itu dengan bengisnya. Suara “kraaak” terdekar. Hantu berwajah datar lenyap seketika, dia berubah menjadi abu.

Suasana mencekam. Semua hantu berwajah datar diam membisu, termasuk Sang Pemimpin. Mereka tahu Nyi Ronde marah.

Perlahan-lahan wujud dinosaurus kembali berubah menjadi Nyi Ronde. “Jalanara, seharusnya kau peringatkan anak buahmu. Sebelum mendapat perintah dariku, jangan sekali-sekali lancang hendak memakan korbanku. Ingat itu!” kemudian Nyi Ronde kembali ke singgasananya. Kabut putih yang dingin menyelimuti ruangan, samar-samar, Mawar melihat ratusan hantu dengan berbagai wujud terbang melayang di sekitar Nyi Ronde. Wajah mereka ada yang mirip gorilla, kuntilanak, memedi, longga-longga raksasa, celuluk (hantu khas Bali), dan hantu menyeramkan lainnya, Mereka terbang melayang mengitari Nyi Ronde.

Mereka menari-nari sambil melempar-lempar ke udara puluhan jasad bayi yang telah berlubang-lubang seperti habis digerogoti. Jasa-jasad itu kemudian dicabik-cabik dan dimakan beramai-ramai. Bau anyir darah tercium kian menyengat. Nyi Ronde tertawa terbahak-bahak.

“Lihat anak buahku, mereka memakan sisa-sisa tubuh bayi itu. Aku telah mengisap darahnya duluan. Begitu seharusnya yang dilakukan anakbuahmu, jangan mendahuluiku!” ultimatum Nyi Ronde.
Sang Pemimpin mengangguk patuh. Lalu katanya, “Mereka hendak kita apakan, Nyi?” tanya Sang Pemimpin.

“Untuk sementara mereka kita tahan dulu disini. Mereka bagian Johan, dia yang akan mengeksekusinya. Kau dan para anakbuahmu, jangan bertindak gegabah. Aku akan menghukum kalian jika kalian mendahului anak buahku. Sekarang aku sudah kenyang. Aku akan kembali ke istanaku, ingat, jangan lupa pesanku. Aku tidak mau diberi sesaji yang bekas!” Nyi Ronde bersuit memanggil kereta kencananya. Perempuan yang rambutnya terdiri dari ular itu, terbang melayang dengan ringan, kemudian duduk di jok kereta yang terbuat dari beludru yang tepinya ditaburi berlian.

Johan lalu berjalan menghampiri Mawar. Di hadapan cewek itu dia memperlihatkan kekuasaannya. Dengan satu jari, diangkatnya Mawar ke atas, kemudian sambil terkekeh ia berkata, “Lihat, aku bisa saja menelanmu hidup-hidup. Tapi tidak sekarang. Kamu harus merasakan dulu bagaimana rasanya sakit hatiku ketika kamu meninggalkanku dalam keadaan sekarat.”

Mawar menatap mata Johan, ia melihat mantan cowoknya. Sorot matanya berbeda, ada sinar magis di sana, Johan bukan lagi seperti Johan saat ia masih menjadi manusia, sisi-sisi baiknya sudah nggak ada. Dia bagai mahluk tanpa hati nurani, mahluk yang berada di dalam tubuh seorang cowok bernama Johan. Cowok itu bukan lagi terdiri daging dan roh, ia telah menjadi monster tanpa darah yang patuh pada manjikannya.
“Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu Jo, tapi kamu tetap kembali lagi. Kamu bahkan mengajak aku untuk menggunakan benda laknat itu. Saat aku menolak menggunakan putaw yang kamu berikan, kamu marah. Kamu menamparku. Di situ aku tahu, cinta yang kuberikan, kamu sia-siakan. Jadi, kalau kamu meninggal karena benda terlarang itu, jangan salahkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud meninggalkanmu dalam keadaan sekarat. Kamu sendiri yang menghancurkan dirimu.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *